Posted in Author Tetap, ChalilaCha, D.O FF Indonesia, Life, Romance, Sad, Series

[Series] Life Story – Honesty

ChalilaCha || Do Kyungsoo , Shin Hyeri , Byun Baekhyun, Hwang Lee Ra, Kim Jong In , Kim Yoo Jung

|| Romance , Hurt , Frienship , Sad || Series

Pg – 16

TYPO BERTEBARAN ..:D

EYD PERLU PERBAIKAN 😀

Happy Reading

prev: CHUSEOK || WAIVE || BYE || DON’T LEAVE ME || PAST || BREAK || AGAIN || UNEXPECTED || UNEXPECTED II || FINALLY || EGO || CHAOTIC || MEET AGAIN || VERWORREN || DISMISS || GONE || REASON || REVEALED || SIXTY PERCENT || HATRED

 

 

LOVE STORY

 

 

 

 

“aku ingin menikahi seseorang yang sudah kukenal dulu, abeoji.”

.

.

Semua terasa berputar. Sendi – sendi di badannya terasa tak berfungsi sama sekali. Seolah alat gerak yang ada pada tubuhnya berada dalam mode mati. Terlebih perutnya yang terasa terbelah menjadi dua. Kini Kyung Soo merasa jika tubuhnya hanya sebatas arwah yang menempel pada sebuah tubuh menyakitkan. Dan memang itu adanya dirimu Kyung Soo.

Matanya sedikit membulat ketika mengetahui siapa yang tengah tertidur menggenggam tangan kanannya. Wanita yang tak pernah ia kira akan ia lihat lagi, kini malah tertidur dengan nyenyaknya menggenggam tangan kanan miliknya. Sedikit senyuman tipis terukis disana.

Walau ada yang menghilangkan senyuman itu dalam hitungan detik. Ia tak tahu apa yang Jong In maksud ketika lelaki itu menghajarnya habis – habisan. Memaksanya untuk segera menikahi Yoo Jung dan meninggalkan Hye Ri. Menyuruhnya memilih Yoo Jung dan mengindahkan nyawanya. Siapa yang di maksud Jong In dengan kata ‘nya’ ??

Bahkan Kyung Soo masih sibuk merasakan sakit yang disisi lain memikirkan penyebab Jong In menghajarnya habis – habisan. Jong In datang membabi buta tanpa membiarkannya berbicara satu kalimat pun. Jika tidak salah Jong In juga ingin membunuhnya, kenapa lelaki itu tidak membunuhnya sekalian saja. Kyung Soo membuang mukanya kearah kiri dan tersenyum remeh, meremehkan bagaimana menyedihkan dirinya.

Kau pengecut Kyung Soo.

“kau sudah sadar?? Aku akan memanggil dokter..” suara Lee Ra lembut membuat Kyung Soo menoleh dan menemukan wanita itu tengah menatapnya khawatir. Kyung Soo tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, “bisa kau ambilkan aku air..” dengan cekatan Lee Ra mengambilkan air putih di nakas sebelah ranjang Kyung Soo.

Namun tangan Lee Ra yang mendadak mencegahnya untuk sedikit bangun, membuat Kyung Soo menatap tak mengerti. Tetapi wanita itu tetap memberikan air putih ditambah sedotan di dalamnya, untuk memudahkan Kyung Soo minum. “tulang rusukmu retak, Kyung Soo. Kau harus mengistirahatkan dirimu beberapa hari.”

“pantas saja, rasanya aku seperti lelaki 80 tahun. Badan ku remuk.” Lee Ra hanya tersenyum menanggapi.

“maafkan aku.” Ucap Kyung Soo sambil tersenyum kecil.

“untuk??”

“karena aku memintamu untuk meninggalkan Baek Hyun dan hidup bersamaku. Itu adalah kalimat bodoh yang harusnya tak ku ucapkan padamu. Jadi maafkan aku.” Kyung Soo sedikit merendahkan nada bicaranya di akhir kalimat.

Ia hanya bisa mengatakan maaf pada Lee Ra. Tidak ada hal lain yang lebih penting dari kata maaf. Wanita di hadapannya ini selalu tersenyum untuknya walau dalam keadaan apapun. Sekalipun ia sudah pernah meninggalkan wanita ini dan meminta untuk menunggunya. Kyung Soo merasa tak punya muka lagi untuk bertemu dengan wanita yang kini mengenakan baju berwarna baby blue dengan rambut yang di kuncir kuda ini.

“aku sudah melupakannya Kyung Soo, lagi pula itu tak mengubah keputusanku.” Senyuman Lee Ra terukir di akhir kalimat. Itu membuat Kyung Soo sedikit lega. Setidaknya ia sudah meminta maaf pada wanita ini walaupun masih ada rasa sedikit tidak pantas untuk menampakkan wajahnya di depan wanita ini. Harga diri Kyung Soo benar –  benar murah kali ini. “yang menjadi pertanyaanku hingga sekarang, dimana Hye Ri eonni?? Bukankah kalian sudah menikah??”

Kyung Soo membeku. Itu adalah pertanyaan yang sangat mudah jawabannya. Mudah sekali hingga Kyung Soo rasanya ingin berteriak dengan kenyataan yang ada. Kenyataan yang sebenarnya tak ingin ia akui. Ia ingin mengklaim wanita itu miliknya, wanitanya. Namun pada kenyataannya, untuk menjawab pertanyaan ini rasa kelu di lidahnya mendera mendadak. Terasa seperti stroke mendadak yang menyerang organ tanpa tulangnya.

“eoh maafkan aku..” ucap Lee Ra sungkan. Dan ia hanya bisa membalas dengan senyuman canggung. Sembari menggeleng. “dia sudah pindah dari apartemenku dan kami tidak menikah. Atau mungkin belum, entahlah.” Kyung Soo hanya tersenyum miris dan membuang muka kearah jendela di sisi kiri tubuhnya. Kenapa sialnya langit mendung, apa langit memiliki perasaan yang sama dengannya hari ini??

“maaf,..”

“itu pertanyaan wajar kurasa. Dan bisakah kau menjawab kenapa kau berada disini??” Kyung Soo kembali kepada Lee Ra yang tengah menunduk memainkan jari di atas pangkuannya.

“ak..aku hanya tidak ingin Baek Hyun meninggalkanku. hanya itu..” dan itu membuat Kyung Soo tersenyum karena ia tahu Lee Ra tengah berbohong. Entah berapa lama mereka tidak bertemu, tetapi ingatan tentang Lee Ra yang cukup mudah di tebak, masih ada di ingatan Kyung Soo.

Tidak mau membawa percakapan ini terlalu jauh, Kyung Soo menghembuskan nafas. Membuang rasa penasaran kenapa Lee Ra bisa berada di sini dan seingatnya ia melihat bayangan Lee Ra tepat sebelum ia tak sadarkan diri.

“baiklah, kuanggap itu benar – benar terjadi karena kau berubah menjadi wanita manja ketika sudah menikah dan mengurus seorang anak. Dan sekarang di mana Baek Hyun??” Kyung Soo membuka topic bahasan baru. Ia sedikit lega karena tidak terjadi kecanggungan disini atau bahasan tentang masa lalunya.

“dia sedang mengurus administrasi. Sebentar lagi mungkin akan kembali. Ada yang ingin kau butuhkan lagi??” Lee Ra mengucapkan dengan nada bersahabat.

“istirahatlah di sofa, aku yakin punggung mu sakit.” Pinta Kyung Soo.

“ah baiklah. Aku akan meminta Baek Hyun untuk cepat kembali, karena kau sudah sadar.” Kyung Soo mengangguk sebagai jawaban. Namun ingatannya kembali ketika ia melihat Lee Ra mengeluarkan ponsel dari saku celana miliknya. “apa kau membawa ponselku??”

“aku tidak melihat ponselmu tadi. Aku akan meminta baek-“

“tidak perlu. Aku bisa menghubungi mereka besok. Pakaliah selimut yang ada di bawah kaki ku, raa..” Kyung Soo sedikit mengangkat kedua kakinya ke atas dan hendak mengambil selimut cadangan itu, namun Lee Ra mencegahnya. “biar aku yang mengambilnya.”

Ia kembali melebarkan sedikit bibirnya. “istirahatlah..”

“terimakasih.” Lee Ra tersenyum sambil mengambil tempat di atas sofa setelah meletakkan kursi yang tadi ia tempati ke tempatnya semula. Tepat ketika itu mata Kyung Soo menangkap Baek Hyun yang tengah menggeser pintu kamar inapnya. Membawa map coklat yang ia yakini adalah berkas miliknya.

“anda sudah sadar, sajangnim.” Sapa Baek Hyun setelah melirik Lee Ra yang juga melihatnya.  Kyung Soo mendadak membayangkan betapa harmonisnya rumah tangga mereka. Ia bahkan belum pernah melihat senyuman Lee Ra seperti ini. Sedikit rasa bersyukur ketika ia mendapat penolakan dari Lee Ra, karena pilihan wanita itu tidak salah. Baek Hyun adalah orang yang tepat.

“jangan panggil aku sajangnim ini bukan dalam keadaan formal, Baek Hyun. Dan terimakasih karena sudah membawaku ke mari.” Ucap Kyung Soo dengan senyuman tulus miliknya. “kau bisa beristirahat dengan istrimu di sofa. Oh ya, aku juga berharap jika kau belum memberitahu abeoji dan eomma.”

“anda harus sedikit bersyukur karena mereka tak ada yang menjawab panggilan dari saya.” Tidak mengindahkan permintaan Kyung Soo, Baek Hyun justru mengambil kursi yang sebelumnya di tempati oleh Lee Ra. Meletakkan map coklat di atas nakas dan menatap Kyung Soo penuh tanya. “anda tidak meminta saya hanya untuk membawa anda kemari, kan ??”

“ada hal yang tidak bisa kulakukan dan aku membutuhkan bantuanmu. Aku juga tidak tahu jika aku akan kehilangan kesadaran, Baek Hyun. Kejadian ini pun aku tidak tahu dan aku sudah berencana meminta bantuanmu sebelum kejadian ini terjadi.” Jelas Kyung Soo.

“sebenarnya apa yang terjadi??” Baek Hyun mencoba mencari keterangan. Kyung Soo mengetahui itu dan ia pun memberikan lampu hijau untuk apa semua yang terjadi. Ia merasa tidak adil jika Baek Hyun hanya memenuhi permintaannya tanpa mengerti apa maksud yang ia lakukan. Demi unta, Kyung Soo sangat mengerti jika Baek Hyun adalah orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“wanita itu adalah sahabatku, Baek Hyun. Dan aku mencintainya.” Gantung Kyung Soo pada kalimatnya.”ia pergi dari apartemen ku karena aku harus segera menikah dengan putri dari tuan Kim. Begitu singkatnya.”

“dan siapa yang membuat anda seperti ini??” kembali Baek Hyun bertanya setelah keingin tahuan yang sebelumnya sudah terjawab.

“kim jongin, putra dari tuan kim.” Kyung Soo dapat melihat guratan tak mengerti di dahi Baek Hyun dan wajah terkejut dari Lee Ra. Kyung Soo mencoba tersenyum tipis mencairkan suasana. Hanya dengan sebuah pernyataan singkatnya tadi, suasana menjadi sedikit mencekam.

“kenapa kau tidak menanyakan bagaimana istrimu bisa mengenalku terlebih dulu?? Kurasa itu adalah hal yang paling kau fikirkan ketimbang alasan kenapa putra dari tuan kim menghajarku hingga seperti ini.” Kyung Soo melirik Lee Ra yang menatap cemas pada bahasan ini. Dan Kyung Soo memberikan senyuman meyakinkan bahwa ini akan baik – baik saja. Biarkan ia menjadi lelaki yang bertanggung jawab pada kenyataan yang selama ini ia sembunyikan. Ia ingin rahasia satu ini terbongkar.

“kami pernah menjadi sepasang kekasih, Baek Hyun.” Seperti dugaan Kyung Soo, Baek Hyun menatap tak percaya secara bergantian pada dirinya dan juga istrinya. Walau Lee Ra sungguh mati – matian merasa takut karena itu terlihat ketika wanita itu hanya mempu menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.

“aku tak pernah mempunyai keberanian untuk bertemu dengan istrimu setelah aku melihatnya selalu tersenyum kepada anak – anak di tempat itu.” tanpa sadar Kyung Soo mengutarakan itu sambil melihat Lee Ra yang mulai menatapnya tak percaya. “ditambah ia selalu tersenyum ketika bersama seorang anak laki – laki dan ayahnya, disitu aku yakin jika Lee Ra sudah bahagia bersamamu.” Dan kalimat itu sukses membulatkan mata Lee Ra. Kyung Soo hanya tersenyum tipis sebagai respon.

“dan aku meminta maaf padamu karena memberi pengaruh pada istrimu, Baek Hyun.”

“maksud anda??” gurat keingin tahuan begitu mudah terbaca dari Baek Hyun, dahi dan matanya mengatakan itu semua.

“aku memintanya untuk meninggalkanmu dan pergi denganku, jika sekarang kau ingin memukulku, kau bisa melakukannya, Baek Hyun. Aku akan segera mendapat penanganan jadi tenang saja.” Ucap Kyung Soo santai, walau berbanding terbalik jika jantungnya sudah berlonjak – lonjak ketakutan akan rasa sakit. Tulang rusuknya retak dan siap maupun tidak, itu bisa saja menjadi patah. Konsekuensi dari apa yang sudah ia perbuat selama ini.

“anda bisa melanjutkannya.” Sedikit nafas lega ketika Baek Hyun mengucapkan itu dengan nafas tertahan. “Lee Ra menolakku dan aku berterimakasih karena ia sudah memilih pilihan yang tepat. Karena aku pun tidak bisa menjamin senyumannya akan tetap hangat seperti yang ia berikan padamu.” Kyung Soo mengangguk kepada Lee Ra, memberikan isyarat jika semua pasti baik – baik saja.

“kau tidak perlu khawatir Baek Hyun, ia sudah memilihmu dan aku bukanlah siapa – siapa disini. Kuharap setelah ini kalian bisa lebih bahagia dan aku juga sedang berusaha meyakinkan apa yang bisa membuatku seperti kalian. Aku sangat iri padamu.” Gurau Kyung Soo pada Baek Hyun.

“aku hanya ingin memintamu menemui wanita kemarin dan buatlah janji dengannya. Ia tahu tentang Lee Ra jadi kau bisa menggunakan alasan jika ingin mengetahui latar belakang hubunganku dengan istrimu.” Kini Kyung Soo menatap Baek Hyun penuh harap, walau ia mendapatkan tatapan tanpa arti dari Baek Hyun. “aku ingin memastikan dengan siapa aku akan menjalani hidupku hingga tua nanti. Wanita itu sudah pernah pergi dan kembali lagi beberapa saat yang lalu, aku sudah mengecewakannya begitu banyak.”Kyung Soo kembali menghela nafas. Disini hanya suaranya yang mendominasi sedangkan sepasang suami istri ini tetap diam dalam pergulatan pikiran masing – masing.

“aku akan memutuskan semuanya setelah aku bertemu dengannya.”

OOO

“aku tahu kau pasti mencari kopi.” Baek Hyun menoleh dan jujur saja ia terkejut ketika istrinya berjalan dengan asap kopi yang mengepul di genggaman tangannya. Untuk saat ini ia tidak ingin melihat istrinya entah kenapa. Ia butuh menjernihkan sedikit pikiran setelah menerima kenyataan yang harusnya membuat  ia melayangkan sebuah pukulan telak pada atasannya tadi.

“aku boleh duduk di sampingmu??” Lee Ra menunjuk bangku kosong menggunakan dagunya, Baek Hyun yang notabennya adalah lelaki sabar, hanya tersenyum dan menepuk bangku sebelahnya. Memberikan isyarat untuk istrinya duduk di sampingnya.

“apa yang akan kau lakukan setelah ini??” Baek Hyun menoleh pada Lee Ra. Ia melihat kegelisahan pada wanita itu yang di salurkan pada segelas kopi panas di genggeman kedua tangannya. Menunduk menumpukan kedua siku pada kedua lutut miliknya. “apa kau sudah memutuskannya??” kali ini Lee Ra membalas tatapan miliknya.

Baek Hyun melihat ada kebimbangan di dalam iris coklat milik istrinya itu. sesuatu yang sulit untuk di artikan oleh sang pemilik namun sangat mudah di tebak oleh orang lain. termasuk dirinya yang sudah hidup bersama wanita ini hampir satu tahun lamanya. Baek Hyun bukanlah lelaki yang acuh tak acuh, jadi ia sangat mengenal bagaimana perwatakan istrinya.

“memangnya aku harus melakukan apa??” Baek Hyun tersenyum tipis. “maukah kau menceritakan dari sudut pandangmu, kepadaku?? Aku harus mendengar setidaknya dari dua sudut pandang untuk menarik sebuah kesimpulan.” Ia meletakkan gelas kopinya dan sedikit menyerongkan duduknya hingga bisa melihat Lee Ra yang juga terpaku padanya.

“aku takut jika nanti itu bisa mengganggu-“

“kau hanya cukup bercerita, Byun Lee Ra. Aku ingin mendengar satu hal yang mungkin hingga saat ini masih mengganggu fikiranmu, langsung dari dirimu. Aku tidak ingin mengurangi kepercayaan yang kuberikan padamu. Jadi, nyawaku bisa menjadi jaminan jika ada sesuatu yang berubah.” Baek Hyun menatap mata Lee Ra lurus, meyakinkan. Dan Baek Hyun memutus kontak itu. “diammu, aku artikan sebagai persetujuan. Jadi ceritakan, kapan kau bertemu dengan Kyung Soo??” Baek Hyun menggenggam tangan Lee Ra yang berada di atas paha wanita tersebut.

Walau ia bersumpah, ia merasa bodoh karena tidak tahu sama sekali perihal rahasia besar di antara kedua orang terdekatnya, tetapi a mencoba mengendalikan diri. Ia memilih untuk berfikir jika semuanya sudah menjadi masa lalu dan ia hanya perlu mengerti bagaimana kronologi dari kejadian penting tersebut. ia pun rasanya ingin marah, namun ia tak tahu harus melampiaskan semua itu kepada siapa. Baek Hyun yang notabennya lebih tua di banding kedua orang itu, ia mempunya tanggung jawab sebagai pihak yang mengalah. Lagi pula jika ia membunuh Kyung Soo pun semua tidak akan berubah. Lee Ra tetaplah mantan kekasih Kyung Sooo dan juga Kyung Soo pernah meminta Lee Ra untuk meninggalkannya.

“dulu, Kyung Sooo adalah teman pamanku.” Lee Ra mulai buka suara, namun membuang muka. Tak lagi menatap Baek Hyun. Mungkin itu lebih baik, pikir Baek Hyun. “pamanku mengenalkanku padanya dan kamipun akhirnya menjadi sepasang kekasih, walau aku tahu ia tak pernah sekalipun menyukaiku karena ia sangat mencintai sahabatnya, Shin Hye Ri. Kau pasti mengenalnya??” Baek Hyun mengangguk sebagai jawaban. “ia adalah wanita yang sangat Kyung Soo cintai bahkan hingga ia berada di rumah sakit seperti ini pun karena wanita itu.” Lee Ra tersenyum mengejek.

Dan jangan salahkan Baek Hyun jika ia merasakan sedikit kecemburuan disini. Ia bukanlah lelaki buta akan ekspresi wajah. Lee Ra jelas menampakkan wajah jika ia tengah iri pada wanita bernama Hye Ri itu dan itu melukai hatinya.

“Kyung Soo sebelumnya bekerja di sebuah supermarket besar di daerah gangnam, menjadi seorang kasir.” Baek Hyun terkejut dan itu mendapat anggukan dari Lee Ra yang mencoba meyakinkannya. “aku hanya tahu jika ia adalah yatim piatu yang tinggal bersama dengan sahabat wanitanya. aku juga menghadiri acara pernikahan Hye Ri dengan kekasihnya pada saat itu dan Kyung Soo yang menjadi wakil dari Hye Ri. Aku tidak menyangka jika ia akan melakukan itu juga padaku, oppa. Haruskah aku berbangga diri??” senyuman mengejek Lee Ra mengundang tanda tanya dari Baek Hyun.

“apa maksudmu??”

“ia dulu juga ingin membawa Hye Ri kabur dari acara pernikahannya, walau ia tak mengucapkannya langsung. Tetapi aku tidak buta akan mimic wajahnya. Ia hanya ingin Hye Ri bahagia karena ia merasa tidak bisa membahagiakan wanita itu, ia merasa jika belum layak. Sampai ayahnya meminta ia untuk kembali kerumah mereka dan menjadi CEO seperti sekarang.” Lee Ra mengudarakan nafasnya yang ia tahan. “dan hubungan kami berakhir ketika ia menjadi CEO. Sejak saat itu juga aku tidak pernah mendengar kabarnya kecuali dari media social, karena jabatannya sekarang.”

“bukankah tadi Kyung Soo berkata jika ia selalu melihatmu??”

Lee Ra mengendikkan bahunya terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari Baek Hyun, lalu menatap Baek Hyun teduh. “aku bahkan baru saja mengetahui fakta itu ketika pengakuan tadi, oppa. aku memang selalu menunggunya untuk menemuiku, tetapi aku tidak pernah mengira jika ia selalu membuntutiku. Sampai ia tahu jika aku menjalin hubungan bersamamu.”

Baek Hyun menatap Lee Ra salam diam. Pikirannya berkecamuk kesana kemari, tidak ada kejelasan. Namun ia mencoba tersenyum kecil pada Lee Ra yang tersenyum padanya.

“karena janjinya padaku untuk menemuiku lah, yang membuatku memberikan keraguan untuk lamaranmu pada saat itu, oppa.” Lee Ra tersenyum kecil dengan mata memerah. Lantas Baek Hyun merasakan jika ada yang menggenggam pipi kirinya. Wajahnya pun terangkat sejajar dengan Lee Ra. “tetapi aku tidak akan menoleh kebelakang untuk menyesali keputusanku. Karena seperti apa yang dikatakan oleh Kyung Soo tadi, kau adalah alasanku untuk tersenyum tulus. Aku memilihmu dan aku meminta maaf padamu jika aku masih memikirkannya. Itu adalah kesalahan terbesarku selama ini.”

OOO

Jongin dengan langkah pasti memasuki kediamannya. Sepatu kulit mengkilap, celana bahan yang terjahit pas di kakinya dan juga kemeja coklat muda yang memberikan kesan lembut namun tidak pada rahangnya. Rahang jongin menengas keras, pandangan matanya lurus kedepan. Sama sekali tidak memperdulikan para maid yang membungkuk memberi hormat untuk sekedar menjaga sopan santun. Lagi pula maid itu juga tidak akan mendukung atau mengurangi apapun tentang keinginannya berjalan cepat memasuki rumah.

“apa abeoji ada di dalam.” Jongin bersuara dingin pada salah satu ajudan kepercayaan ayahnya. Lelaki paruh baya itu tidak menjawab apapun hanya sedikit membukakakn pintu kerja ayahnya. Disana ada pak tua itu dengan setumpuk berkas yang harus di periksa, sebuah resiko akan jongin hadapi jika ia nekad menerobos masuk untuk sekedar menyela pekerjaan ayahnya.

“apa aku bisa membantu pekerjaan itu agar cepat selesai??” tanpa melihat ajudan paruh baya yang hanya terdiam melihat punggungnya. Jongin masih setia mebungkukkan punggungnya untuk melirik kegiatan ayahnya. “ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya.” Lanjut jongin dengan nada sedikit rendah.

“anda bisa masuk tuan muda, tuan besar sedang dalam keadaan yang baik.”

Jongin mengangkat kedua alisnya melihat ajudan ayahnya. Tidak ada muka keraguan di wajah lelaki berumur hampir setengah abad ini. Jongin menegakkan badannya dan menghembuskan nafasnya, sekedar untuk merilekskan kerja jantungnya.

“kau yakin??” sekali lagi jongin meyakinkan dan ajudan itu hanya tersenyum hingga matanya menyipit membentuk sebuah garis tebal. Keturunan asia timur yang kental.

Dengan segenap keberanian, jongin mengetuk pintu dan melangkahkan kaki secara perlahan mendekati meja kebesaran milik ayahnya. Lelaki tua yang keras, sekeras batu karang di lautan. Jongin akan setia mengikis karang itu dengan asin perlakuannya, membuat lelaki itu semakin rapuh dan tak berdaya. Selain hanya menyetujui apa yang ia inginkan. Termasuk keinginannya yang satu ini, ada jaminan sebuah saham milik jongin jika lelaki tua ini menolak permintaan untuk segera dinikahkan. Jongin?? menikah??

“apa urusan kantor sudah selesai??” ayahnya membuka suara terlebih dulu, karena setahu jongin ayahnya telah mengetahui jika ia yang mengetuk pintunya.

Jongin membungkuk setelahnya ia mengangguk mengiyakan. “nee abeoji.”

“apa ada masalah??”

“tidak ada abeoji, aku hanya ingin meminta ijin padamu.”

“ijin??” tuan kim meletakkan berkas yang tadi berada di tangannya dan juga melepas kacamata baca berwarna keemasan yang melorot hingga hampir berada di ujung hidung. Meletakkannya lalu menautkan kedua tangannya melihat jongin serius. “kau akan mendirikan perusahaan baru, atau kau akan pergi kesuatu tempat??”

Jongin menggeleng sebagai jawaban.

“lalu??”

“aku ingin menikahi seseorang yang sudah kukenal dulu, abeoji.”

Terdengar desahan di telinga jongin, jelas itu bukan miliknya. Itu milik ayahnya. Jongin memberanikan diri mengangkat kepala, mengantisipasi ledakan amarah ayahnya karena mendengar permintaan yang telah ia ajukan. Namun semua itu serasa di obati mendadak karena aayahnya tersenyum tipis. Jangan lupakan matanya yang memancar ketenangan. Apa ia di perbolehkan??

“kapan kau akan mengenalkannya pada kami??”

“nanti malam. Dan sama sekali tidak akan mengecewakan karena dia adalah wanita yang sangat cantik.”

Sebuah senyum bangga tercetak jelas d bibir tuan kim dan jongin?

Tentu saja, sang raja sudah ada di pihaknya sekarang.

OOO

teng tereng tereng tereng , ini tulisan lama sebelum aku menghilang. dan setelah ini semoga ada kelanjutannya lagi ya 🙂 saya rindu dunia per ff an jujur saja 😦 tapi bagaimana juga ya hmmmm ….

apapun itu yg masih mau baca, selamat membaca 🙂 kl yg udah bosan gk usah di baca 😀 see you guys 🙂

regards

ChalilaCha

Advertisements

Author:

just for fun

2 thoughts on “[Series] Life Story – Honesty

  1. Setelah sekian lama😆

    Semoga masalahnya cepet selesai . milih istri aja ribet banget ya kyungsoo mah . hheu, author suka banget bikin kyungsoo tekanan batin .

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s