Posted in Author Tetap, Friendship, Multichapter, Romance, School Life, Yasmine

Stay – 4

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

previously: [3]

‘Bukan salah(mu)ku.’

backsound: Fine – by Taeyeon

하나

Hana

∫ I keep thinking of our last moment,

Our breakup was simple. All we said was goodbye…

It’s not fine…∫

Huft.” Kujatuhkan tubuhku secara tengkurap ke atas kasur. Rasanya malas sekali untuk bangun sekedar mencuci muka. Peristiwa tidak menyenangkan di sekolah begitu banyak untuk hari pertama. Pertengkaran dengan Hyesoo, nyaris menangis di depan Sehun dan ditodong untuk diantar pulang di depan gerbang.

Saat itu aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan mata sembabku. Oh Sehun mengangguk tanda paham, padahal aku belum ngomong apa-apa. Sebuah helm diangsurkan ke tanganku dengan paksa. Kami berdiri berhadapan cukup lama. Aku sendiri tak yakin membiarkan Sehun mengantarku. Belum lagi beberapa anak lain memerhatikan kami, rasanya tak enak.

I’ll drive you home,” Alih-alih sebuah tawaran, kalimat itu terdengar seperti ancaman. Aku sedang tidak dalam mood bagus untuk membantah. Jadi, kupakai helm-nya dan tiba-tiba sudah duduk manis di jok belakang motor Sehun.

Sampai di depan rumah. Perasaanku bukannya membaik, malah semakin gusar. Rumah itu—bekas rumah Dyo—sudah menyalakan sebagian lampunya. Artinya, penghuninya sudah bercokol di dalam sana. Sehun berusaha sangat baik sore tadi. Dia tak banyak berkata-kata dan pergi setelah menitipkan salam untuk eomma-ku. Pesannya hanya sekalimat, “Ada aku kalau kamu merasa sendirian.”

Kalau aku benar-benar menaruh rasa pada Sehun, mungkin kalimat itu bisa membuat lututku lemas seketika. Tapi, kali ini aku sedang tidak ingin menaruh hati pada siapa-siapa.

Perasaan itu tidak rumit. Hanya ada suka dan tidak. Tapi dampaknya besar saat kamu menaruh perasaan pada hati yang tidak semestinya. Kamu pikir kamu tertaut dengannya? Kamu pikir dia memiliki ‘rasa’ yang sama? Awas, itu jebakan. Berhati-hatilah. Salah-salah kamu sendiri yang paling merana.

Itu bukan kutipan dari buku. Itu kesimpulanku sendiri. Yah, siapa sih yang mau dicampakkan?

Aku terlalu lelah untuk bangun dan tak ingat kapan persisnya jatuh tertidur.

Pernah nonton anime movie ‘Your Name’? Saat sensei mereka menjelaskan soal batas siang dan malam. Atau lebih tepatnya senja (tasokare). Saat matahari mulai menyentuh garis cakrawala, membiaskan warna jingga. It’s also called ‘Twilight’.           

Katanya, saat itulah manusia bisa merasakan kehadiran sosok berbeda dimensi yang berkeliaran atau bahkan melihat mereka dengan mata telanjang. Percaya? Kalau aku pribadi hanya separuh percaya. Karena faktanya aku belum pernah memiliki pengalaman seperti itu. Tapi, menurut pendapat sebagian orang, mereka memang ‘melihatnya’.

Satu yang pasti, tidur di saat ‘batas siang dan malam’ terjadi membuatku pusing. Mimpiku tidak jelas. Antara indah bercampur horor. Tiba-tiba saja aku kembali ke masa kecil bersama Dyo yang jelas-jelas sudah dewasa. Anehnya lagi Sehun dan Hyesoo dewasa juga ada di sana. Mereka membentuk band. Menyanyi dan tertawa. Lagunya mengejekku. Dyo yang tertawa paling keras. Sambil menunjuk-nunjuk wajahku yang entah seperti apa rupanya. Aku yang marah melempar popsicle anggur besar ke muka Dyo. Cairan lengket dari es buah itu membuat matanya hingga tak bisa terbuka, namun anehnya masih bisa tertawa.

“Hana? Hana?” Suara ketukan pintu semakin keras. “Hana?!

Oh, itu suara eomma-ku.

“Sebentar, Ma,” Aku mengucek mataku berulang kali. Isi kepalaku rasanya berdentum-dentum. Sekujur tubuhku dilanda kelelahan. Kemeja seragamku basah keringat.

“Kamu kenapa, Sayang?” Eomma bertanya dari balik pintu.

“Aku nggak apa-apa. Pintunya nggak dikunci, Ma.”

Eomma membuka pintu dengan hati-hati. Semenjak SMA, kami sepakat untuk membuat garis privasi. Siapa pun dilarang masuk sembarangan ke kamarku kecuali sudah mengantongi izin dariku.

“Kamu ngigau keras banget lho, Nak,” Eomma mendekat dengan khawatir. Matanya menelisik seluruh penampakanku dari kepala sampai kaki.

“Apa, iya?” tanyaku bego. Kondisi tubuhku benar-benar gerah. Kulirik jam beker di nakas kecil sebelah ranjang. Ya Tuhan, pukul sembilan malam?

Eomma udah coba bangunin kamu dari tadi. Kamu belum mandi, ‘kan? Makan malam masih di meja, belum eomma bereskan,” tangannya melipat blazer yang sudh kulepas lebih dulu. “Ya ampun, kamu basah keringat, Nak?”

“Iya. Mimpinya aneh,” kataku sambil mengusap leherku. Ada yang tidak beres. Pandanganku menjadi buram.

“Kamu demam tinggi, Darling,” Eomma sudah beranjak dari tempatnya, sedang meraba keningku. “Lepas bajumu. Mandi pakai air hangat setelah itu makan malam. Eomma carikan obat dulu,” Begitu selesai dengan perintahnya, eomma bergegas keluar kamar. Sosoknya muncul kembali selang berapa detik kemudian. “Hana… tadi eomma berpapasan dengan tetangga baru kita. Mereka…”

“Ya?”

“…Mereka tetangga yang baik sepertinya,” Eomma tersenyum lebar.

Oh, tetangga yang baik, ya?

 

∫ I keep repeating to myself like a fool…

I can’t swallow the words that are in my mouth…

It’s not fine…∫

 

Dyo

∫ After a day, a month, a year…

I thought I’d be smilling and thinking back on it.

I’m not like that… It won’t be easy for me… ∫

 

Rumahnya sepi. Tidak ada tanda-tanda Hana akan melangkah keluar. Apa yang kuharapkan? Say hello di depan rumah? Ekspresi sumringahnya di tengah jalan? Setelah berpikir semalaman, aku semakin yakin kalau kebodohan yang menjalari logikaku sudah melewati batas. Bisa-bisanya aku berpikir semua yang ada di sini sama seperti dulu.

Human’s heart is rapidly changing.

Benar sekali. Sayangnya aku terpenjara sendirian di sini. Hatiku tidak berubah. Perasaanku sama saja. Harapanku terlalu tinggi sampai kejumawaan memutarbalikkan semuanya dalam semalam. Kamu itu siapa, Dyo? Sisi ketidakpercayaanku mulai tumbuh. Rencanaku carut marut. Dalam masa seperti ini, obat klasiknya adalah lagu balada yang menyayat hati.

Tapi, itu bukan diriku. No. A big no. Dyo is bigger than his problem. Hari ini semuanya baru. Udara baru, sekolah baru, seragam baru, teman-teman baru (mungkin), bahkan mobil Appa juga baru. Sebuah SUV warna hitam (Kenapa aku tidak menyadarinya kemarin? Sinting!). Tidak peduli kalau kami kembali ke lingkungan yang sama. Kami punya wajah baru.

Harapan baru.

Setidaknya kalau masa laluku tidak bisa diperbaiki, kami bisa punya awal yang baru. Rencana itu tidak cuma satu. Tuhan memberikan banyak kesempatan dan kemungkinan. Bukan kesempatan apa yang diambil, namun perubahan apa yang dilakukan.

Ya, aku harus berubah.

Aku nggak kalah keren sama cowok bermotor mengilap itu.

“Kyungsoo? Nak? Masuk ke mobil,” Tampaknya Appa sudah memanggil berulang kali dari kursi kemudi.

Aku mengangguk. Bergegas duduk di kursi depan, di samping pria yang paling kuidolakan di muka bumi.

Ready, Son?” tanyanya.

I was born to be ready, Sir,” jawabku lancar.

Yah, semoga hari ini sama lancarnya dengan ungkapanku.

“Mau appa antar masuk?” Appa bertanya dari dalam mobil.

Aku berbalik menatapnya, “Nggak perlu, Appa.”

“Serius? Mungkin aja kamu tersesat atau—“

“—Appa, please…” potongku dengan mata melebar.

Appa tertawa geli melihatnya. “Oke. Don’t get into fight, Kido,” pesannya sebelum menyalakan mesin mobil.

Aku memberikan hormat ala militer padanya, “Yes, Sir.”

“O-oh, Nak… Semalam kami bertemu dengan ibunya Hana. Dia satu sekolah sama kamu, ‘kan? Atau jangan-jangan kamu sudah merencanakannya? Iya, ‘kan?” Appa bertanya penuh selidik. Wajahnya sungguh lucu. Kalian bisa bayangkan seorang tentara berwajah sangar, namun berhati lembut sedang menggodamu.

Aku mengabaikan pertanyaan apa, berkilah, “Jam pertama udah mau dimulai. We talk later, Sir.” Kuberi hormat untuk terakhir kali sebelum appa menurunkan kaca jendela mobilnya. Separuh hatiku malu kalau rencanaku ketahuan karena pipiku memerah. Dan lagi, peristiwa ‘melihat Hana’ kemarin bukan hal yang menyenangkan.

Jadi, ini sekolah baruku. Suwon High School (sekolah ini fiksi). Salah satu sekolah menengah umum bergengsi di Gyeonggi. Bisa dilihat dari lobinya. Luas dan cukup mewah. Meski bukan tergolong sekolah internasional, SHS punya segudang prestasi yang membuat appa langsung setuju saat aku mengajukan nama sekolah ini. Belum lagi sekolah ini mendukung kreatifitas seni dan kegiatan olahraga siswanya. Tak hanya itu, sekolah ini memiliki standar nilai yang tinggi.

Selepas melewati lobi, aku bergegas menuju main office dari sekolah ini. Letaknya berdekatan dengan kantor bimbingan konseling. Mrs Han, yang mengisi posisi di help desk, membantuku mengisi formulir tambahan sebagai murid baru. Dia menerangkan secara singkat keadaan di sekolah ini juga memberiku lembaran berisi kode lokerku.

Aku akan masuk kelas II – I saat jam pelajaran ketiga. Kira-kira aku sekelas dengan Junmyeon atau tidak, ya? Atau mungkin bagian terbaik di hari pertamaku ini adalah mendapat jackpot sekelas bareng Hana? (tergantung penulisnya, sih)

Sambil menunggu, aku membaca majalah terbitan kelompok jurnalistik di SHS. Isinya cukup menarik. Ada berbagai event yang diadakan hampir setiap bulannya. Sepertinya sekolah ini tidak terlalu kaku dengan kurikulum yang membuat para siswa stress. Kegiatan olahraga mengambil banyak halaman, terutama bagian sepakbola. Aku mengernyit ketika membaca label The Princes untuk cowok-cowok lapangan hijau itu. Ada rubrik menulis, isinya tentang essay, cerpen, anonymous poetry dan lain-lain. Ketika sampai ke sudut seni, aku sedikit tercengang. Cuma dua halaman? Bahkan seni musik tidak dicantumkan.

Aku menutup majalah itu, membawanya ke depan meja Mrs Han. “Maaf, Bu. Boleh saya bertanya?”

Mrs Han mendongak, “Ya?”

“Apa tidak ada ekskul vocal di sekolah ini?”

Dwimanik Mrs Han mengerling pada majalah sekolah di tanganku. “Eum, ada kok. Cuma akhir-akhir ini kekurangan murid.”

“Kenapa?” tanyaku to the point.

“Jenjang Suwon School dimulai dari SMP. Kebanyakan lulusan dari SMS (Suwon Middle School) yang melanjutkan ke SHS adalah para atlet sekolah. Jadi, kegiatan olahraga lebih banyak di sini. To be honest, seni vocal hanya menyumbang sedikit prestasi. Apa kamu suka menyanyi, Kyungsoo? Oh, di formulirmu tertulis penghargaan di lomba menyanyi, bukan?” tanya Mrs Han dengan ramah.

Aku tersenyum lemah, sedikit merasa getir, “Err—ya, begitulah, Bu.”

“Cobalah ikut ekskul seni musik, siapa tahu kamu adalah cahaya baru mereka,” saran Mrs Han. Mau tak mau aku tersenyum lebar.

Ya, kalau tidak bisa ikut kelas vocal mungkin aku masuk kelas bela diri saja. Hahaha. Tapi, aku tetap lebih suka menyanyi.

Dering bel berbunyi. Mrs Han keluar dari bilik mejanya, hendak mengantarku ke kelas tempatku akan belajar.

“Boleh kusimpan majalahnya, Bu?”

Mrs Han tersenyum, “Ambil saja.”

Oke, Mari temukan kejutan baru di sini…

하나

Hana

Aku nggak apa-apa. Cuma demam semalam dan eomma nyuruh aku untuk nggak masuk sekolah,” kataku dengan suara berdengung. “Nggak kok, Hyesoo bilang begitu? Harusnya dia yang telpon aku, bukan kamu, Yerin,” Kugosok bagian bawah hidungku yang terasa panas. “Oh, gitu. Ya, udah deh. Hari ini nggak masuk belum kehitung absen, ‘kan? Oke, makasih ketua kelas,” Begitu Yerin mengakhiri panggilannya, kulempar ponselku ke atas meja.

“Dasar Hyesoo, mau minta maaf aja gengsi!” dengusku.

Kuletakkan kepalaku ke lengan sofa. Eomma sedang mengikuti kursus membuat pastry bersama Tante Junhee dan teman-temannya. Mungkin eomma akhirnya punya niat untuk membuka toko roti nantinya. Dia sudah pernah membicarakannya beberapa kali dengan appa. Ngomong-ngomong soal appa, dia selalu heboh setiap kali mendapat kabar kalau putrinya sakit. Wejangannya banyak sekali. Bahkan menyuruh eomma melarangku masuk ke sekolah untuk istirahat total di rumah.

Percuma membantah appa. Bisa-bisa dia pulang di tengah proyeknya dan malah membuatnya repot. Jadi aku menurut. Sekarang aku di rumah, bermalas-malasan, menonton acara drama pagi sambil mengunyah irisan apel.

Seharusnya ini sudah jam pelajaran ketiga. Ada baiknya juga aku nggak masuk. Selain masih kesal jika bertemu Hyesoo, apa jadinya diriku saat bertemu Sehun nanti? Kemarin dia mengantarku pulang dan itu untuk pertama kalinya. Jika Jeonghan oppa mendengar ceritaku, dia pasti meledekku habis-habisan. Sekarang saja aku sudah bisa mendengar suara cemprengnya di telingaku.

Sudah lama juga nggak ngobrol dengannya. Gara-gara hubungan antar Korsel dan Korut memanas (aku nggak bermaksud bahas politik), kami jarang mengobrol. Jeonghan oppa sibuk latihan. Itu yang membuatku merengek setengah mati saat dia berniat mendaftar wajib militer saat itu. Syukurlah masalah kenegaraan itu berangsur reda, setidaknya untuk saat ini.

Aku meraih ponselku, mengetik pesan LINE untuknya. Tidak berharap langsung dibalas sih.

From: Hana

Hey, Bro. Aku sedang sakit flu T___T Kapan oppa libur?

Ketika sebuah pesan masuk, kukira itu balasan dari Jeonghan oppa. Ternyata pesan masuk dari Hyesoo.

From: Hyesyuuuya

Hana T___T Maafkan aku kemarin. Kamu sakit apa? *worried emoji*

From: Hana

Flu. Nggak masalah.

From: Hyesyuuuya

Singkat, padat dan jelas sekali. Seperti biasanya. Artinya kamu waras, syukurlah. *LOL emoji*

From: Hana

WTF!

From: Hyesyuuuya

Please, maafin aku yang ikhlas… Aku jenguk kamu pulang sekolah sama Sehun dan Yerin. Kamu mau kubelikan makanan apa?

Damn, Hyesoo! Ini nggak bagus. Bagaimana Sehun melihatku seperti ini. Aku belum mandi. Kusibak selimut dan turun dari sofa dengan tergesa-gesa. Bantal dan gulingku berjatuhan ke lantai. Kakiku terantuk meja, membuatku meringis kesakitan. Setelah ingat kalau aku belum membalas pesan terakhir Hyesoo, aku buru-buru meraih ponsel dan mengetik.

From: Hana

Nggak perlu ke sini. Besok aku masuk. Seperti katamu, aku waras.

Aku yakin Hyesoo tak akan mengindahkan penolakanku. Dia tipe yang pantang mundur. Dia bisa saja mengartikan kalimatku dengan sebaliknya. Kumatikan televisi yang sedang menampilkan adegan memasak. Membenahi bantal, guling dan selimutku dan membawanya ke kamar. Kubereskan piring berisi irisan apel di atas meja dan menata taplaknya kembali seperti semula. Aku tahu ponselku berdenting berulang kali.

Masa bodoh!

Ting tong!

Hah? Masa mereka sudah datang sih? Katanya jam pulang sekolah.

Bunyi bel kembali berdering. Aku bergegas merapikan rambutku dan mengatur napas. Hidungku yang mampet membuatku kesulitan sebenarnya. Kubuka pintu dengan hati-hati. Kira-kira bagaimana reaksiku kalau Sehun yang berdiri paling depan di antara mereka? Mungkin uap akan keluar dari telingaku. Hah.

Tapi, sosok itu bukan Yerin, bukan Hyesoo, apalagi Sehun. Wanita paruh baya itu tersenyum menatapku yang berdiri mematung dengan hidung mampet. Tangannya membawa bingkisan, sepertinya oleh-oleh. Rambut pendek dan bentuk matanya… Mustahil

“Hana, ya?” Wanita itu sempat bingung sejenak. “Kamu tidak masuk sekolah, ya? Wah, sekarang sudah besar dan makin cantik…” katanya sumringah.

Demi Tuhan…

-tbc


Notes:

  • Hai semua… ^^ ada pengumuman sedikit ya… untuk yang mengikuti jalan cerita Red Masquerade (kolaborasiku sama kak qL^^) sementara kita pending dulu karena kita berdua sama-sama sibuk (hehehe)
  • Terima kasih sudah mengikuti Stay… ^^

©2017 Yasmine

Advertisements

Author:

Personal Blog: fleurdeyasmine.wordpress.com — Show, not tell.

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s