Posted in D.O FF Indonesia, Drama, Friendship, Multichapter, PG-17, Romance, School Life, Shuu

Caramelo pt. 15

caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin| SUPPORTED: Oh Sehun, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: http://www.shuutory.wordpress.com

Teaser: Pt. 1– Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Shuu’s Present this story

“The worst goodbye ever”

Dibawah sinar bulan itu, kita berbagi cerita satu sama lain. Walaupun melelahkan tetaplah di sampingku.-Kwon Chaerin-

Dengan langkah gontai Chaerin berjalan menuju halte bus. Walaupun jarak yang cukup jauh dari rumah Chanyeol, ia berjalan. Menundukkan kepala sambil memandangi ujung sepatunya yang terus bergerak adalah hal yang bisa dilakkukannya dalam situasi ini. Ia tak pernah tahu jika sakit di dadanya begitu menyiksa, membuat dirinya seakan ingin muntah.

Hari sudah malam, terlihat dari langit yang sudah berubah warna menjadi gelap serta munculnya beberapa bintang di beberapa sisi. Jalanan di komplek rumah Chanyeol terlihat lengang dan tidak banyak orang yang lewat. Ia menghentikan langkah ketika berada di depan sebuah rumah. Ia memandang ke atas, menatapnya dengan nanar. Berharap Kyungsoo melihatnya dari kamarnya. Tetapi itu mustahil.

Ia kembali melanjutkan langkahnya sambil bergumam dan tertawa seorang diri. Orang-orang mungkin menyebutnya gila. Kali ini ia mencoba memperlebar langkahnya.

Srak…srakkk…srak…

Langkah ganda terdengar oleh Chaerin. Ia merasa ada yang mengikuti langkahnya saat ini. Ia sedikit menengok ke belakang dan ia menemukan seorang lelaki bertubuh tinggi mengenakan jaket hitam bertudung sedang mengikutinya di belakang. Ia tidak begitu gelisah saat ini. Ia malah sudah tahu apa yang harus dilakukan jika orang tersebut mendekat.

Chaerin menghentikan langkahnya setelah memasuki sebuah gang buntu yang amat sepi. Mungkin hanya ada beberapa tikus atau kecoa disana. Lelaki itu masih mangikutinya, saat Chaerin berhenti lelaki itu juga berhenti. Dengan cepat dan tanpa aba-aba Chaerin membalikkan tubuhnya kemudian mencoba memukul wajah lelaki itu.

Sayangnya tak-tiknya kurang perhitungan. Membuat pukulannya tidak tepat sasaran. Ia masih menimbulkan jarak beberapa centi dari wajah targetnya. Chaerin meringis karena ia merasa pundaknya sangat sakit dan perih. Seperti ototnya telah robek –itu adalah cedera yang dialami Chaerin ketika berlatih tenis. Lelaki itu menyeringai dari sorot matanya kemudian meraih tangan Chaerin dan memelintirnya ke belakang tubuh Chaerin, membuat Chaerin mengumpat.

“Sialan!” umpat Chaerin sambil menahan sakit yang menjalar dari satu titik ke seluruh tubuh. Lelaki itu tertawa di belakangnya sambil terus mengunci gerakannya. Chaerin tidak tahu pasti tetapi ia merasakan lelaki itu yang membekap mulutnya dan hidingnya menggunakan sebuah kain.

“Ahah…, hahh…,” Chaerin berusaha meraup oksigen yang menipis karena bekapan lelaki itu. Tetapi ia merasakan tubuhnya melemah serta pandangannya gelap dan ia hanya melihat satu titik cahaya yang kabur. Sebelum pada akhirnya ia terkulai lemas didekapan lelaki asing itu.

Chaerin membuka matanya perlahan dan ia merasakan badannya yang begitu lemas. Ia merasakan mulutnya yang tidak bisa terbuka karena tertutup oleh lakban yang kuat. Kakinya dan tangannya terikat dengan tali tambang dengan begitu kuat.

Ia menatap sekitar, ia sedang berada di sebuah ruangan besar yang kosong. Seperti gudang dengan beberapa kardus besar dan balok kayu di beberapa sisi. Angin kencang melewati jendela membuat rambut Chaeriin yang sudah berantakan berterbangan. Di tembok yang letaknya cukup jauh dari Chaerin ada sebuah pintu kayu yang sudah termakan rayap. Chaerin sedang didudukkan di tengah tengah ruangan tepat sinar lampu mengenai dirinya.

Ia bersyukur karena saat ini ia masih menggunakan bajunya dengan lengkap. Walaupun jaketnya sudah melorot sampai siku. Ia mencoba melepaskan ikatan yang menjerat kedua tangannya itu. Demi apapun lengan kanannya terasa sakit, rasa sakit itu terasa amat sangat menyiksa baginya.

Seseorang dengan menggunakan jas rapi serta tatanan rambut klimis berjalan ke arahnya dengan gelagat yang memuakkan. Chaerin memandang lelaki itu dengan sorot tajam. Lelaki itu berjalan ke arah Chaerin dengan diikuti empat orang antek-anteknya yang berpakaian layaknya sekumpulan gangster. Ia masih mencoba melepaskan ikatan tali di tangannya dengan susah payah. Tapi sejuah ini hasilnya masih nihil.

“Apa kabar Kwon Chaerin?” kata lelaki berambut klimis itu, Chaerin membuang mukanya ke arah lain. Lelaki itu memberikan kode untuk mengambilkan sebuah kursi kayu yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri kepada antek-anteknya.

Chaerin memaksa otaknya untuk berpikir, tetapi ia merasakan pening di kepalanya. Apakah ini efek dari obat bius yang di berikan gengster itu pada Chaerin? Ia memandang salah satu kaki tangan dari pria berambut klimis itu. Itu salah satu Yakuza yang mengeroyok Caramelo beberapa bulan yang lalu kan? Chaerin mencoba menghubungkan kejadian ini dnegan kejadian-kejadian sebelumnya.

Chaerin merasa kelompok Yakuza yang cukup tersohor ini tidak terima bahwa anak buahnya yang notabene adalah teman sekolah Chaerin -yang sebenarnya relasinya juga tidak dianggap teman oleh Chaerin- dipatahkan lehernya oleh Chaerin. Kemudian balas dendam itu dilanjutkan di Seoul Sky Lounge Night Club beberapa bulan yang lalu. Belasan kaki tangannya yang sudah berusia dua puluh lebih kalah oleh Caramelo beranggotakan enam orang dan masih duduk di bangku SMA. Ia meyakini ketua kelompok Yakuza ini tidak terima bahwa anak buahnya kalah oleh perempuan seperti Chaerin membuatnya turun tangan sendiri menghadapinya. Chaerin merasa lelaki berambut klimis itu mempunyai dendam atas kejadian pertama kepada Chaerin diluar terlibatnya anggota Caramelo yang lain.

Lelaki berambut klimis itu duduk dihadapan Chaerin. Ia menatap Chaerin, seolah dengan tatapannya ia bisa melucuti Chaerin saat itu juga. Lelaki itu memajukan badannya kemudian melepaskan perekat yang terpasang di mulut Chaerin dengan kasar. Pipi serta bibir Charein memerah akibat perekat tersebut.

Cuih….

Chaerin meludahi lelaki itu tepat di wajahnya. Empat orang antek-anteknya tercengang dengan sikap Chaerin. Membuat salah satu dari mereka mundur beberapa langkah. Mata Chaerin memerah menahan amarah yang sudah berada di puncak. Sedangkan lelaki itu memejamkan mata lalu tertawa seperti dibuat-buat, membuka mata kemudian menatap wajah Chaerin dengan tak kalah tajamnya. Terdengar suara bergemeletuk dari rahangnya. Chaerin tak gentar untuk menatap mata lelaki itu dalam-dalam.

“Kau cantik sayang. Tetapi kelakuanmu tidak.” Kata lelaki itu sambil mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya kemudian mengelap wajahnya. “Perempuan tidak bagus berkelahi seperti itu. Itu adalah sikap yang kasar. Dengan wajah cantik seperti itu kau bisa menjadi kekasihku.” Kata Lelaki itu sambil mengerling kepada Chaerin.

“Tutup mulutmu itu! Mulut sampah!” teriak Chaerin dengan meluapkan seluruh amarahnya yang sebeumnya ia tahan.

“WOW!” kata lelaki itu sambil bertepuk tangan seorang diri.

“Apa masalahmu denganku?” tanya Chaerin dengan suara yang lantang.

“Apa masalahku?” kata lelaki itu sambil tertawa lebar. Dibelakangnya antek-anteknya beberapa membawa balok kayu memandang Chaerin dengan tajam. “Kau membuat anggotaku keluar dan aku tidak dapat penghasilan yang seharusnya sejak mereka keluar!” katanya setengah membentak.

Plakkk….

Chaerin ditampar oleh lelaki brengsek itu membuat pipinya memerah. Chaerin menatap lelaki itu dengan penuh amarah. Lelaki itu terlihat memandang remeh Chaerin, “Kau menghalangi bisnisku. Sekarang pengedarku telah keluar! Padahal mereka paling berpengaruh di bisnis itu.”

“Maksudmu mereka kau jadikan pengedar narkoba?” tanya Chaerin sambil mengernyit. Tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki berambut klimis tersebut.

“Oh iya, pacarmu itu siapa namanya? Myungdoo? Myungsoo? Apalah namanya aku tidak peduli. Dia kemana? Aku harus menghabisi dia. Dia juga ikut campur ‘kan dalam urusan ini?” kata lelaki itu.

“Aku tak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun!” teriak Chaerin tepat di wajah lelaki itu.

“Seharusnya lelaki yang melindungi wanita. Tetapi hubungan kalian sepertinya terbalik.”

“Apa pedulimu?”

Lelaki itu mendekat dengan tatapan menakutkan tetapi tak membuat Chaerin gentar begitu saja untuk menghadapinya. Lelaki itu menyingkirkan rambut yang menghalangi pengheliatan Chaerin kebelakang kemudian mengumpulkan rambut Chaerin satu-satu kebelaknag lalu menariknya dengan kuat.

“Kau gadis jalang tak tahu malu!”

“Akhirnya kau tahu juga. Aku memang gadis jalang yang tak tahu malu,”setiap kata ia tekankan. Membuat lelaki itu tambah marah dan semakin menarik rambut Chaerin sekuat tenaganya. Seakan-akan kepala Chaerin hampir lepas dari lehernya.

“Hey! Berikan ponsel gadis ini padaku.” Kata lelaki itu kemudian melepaskan tangannya pada rambut Chaerin. Kemudian salah satu anteknya yang berbadan sangat besar itu melempar ponsel Chaerin kepadanya. Lelaki itu menangkapnya dengan mulus, kemudian mulai membuka ponsel Chaerin menggeser layarnya beberapa kali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Chaerin sambil berusaha melepaskan ikatan di tangan serta kakinya.

“Aku akan menelpon bocah tengik itu untuk kemari.” Katanya sambil terus menggeser layar ponsel Chaerin kebawah. “Katakan apa nama kontaknya disini.” Kata lelaki itu.

“Aku tak akan mengatakannya padamu!” kata Chaerin dengan suara lantang.

Plakkk…. lagi-lagi lelaki itu menampar Chaerin membuat sudut bibirnya berdarah. “Katakan padaku atau kutampar lagi,” kata lelaki itu lalu menyerahkan ponsel Chaerin kepada anteknya yang ia panggil dnegan sebutan Bodhi itu.

“Tampar saja aku sepuasmu!” kata Chaerin yang masih tak gentar. Lelaki itu benar-benar menampar Chaerin untuk kesekian kalinya.

“Bos aku menemukannya,” kata salah satu antek dari lelaki yang duduk dihadapan Chaerin ini. Seolah tersambar petir, mata Chaerin terbebelak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan ini dari tubuhnya.

“Jangan kumohon,” pinta Chaerin dengan sangat.

“Memangnya siapa dirimu hingga berani menyuruhku seperti itu?” kata lelaki itu.

Lelaki itu terlihat menggeser layar ponsel Chaerin. Kemudian terdengarlah bunyi nada sambung, ia terlihat menyeringai membuat Chaerin jijik setengah mati. Lelaki itu menunjukkan ponselnya kepada Chaerin terpampang nama Kyungsoo disana. Ternyata lelaki ini membuat panggilan video dengan Kyungsoo.

“Kumohon jangan dia,” ucap Chaerin dengan air mata yang sudah menggenang di pipi. Membuat anak-anak sungai di pipi pucatnya.

Tak berselang lama terdengar suara rendah dari Kyungsoo di seberang. Membuat Chaerin semakin histeris dan memohon tanpa suara kepada lelaki gondrong itu. ia tahu benar apa yang akan dilakukan lelaki ini.

Annyeonghaseyo!” ucap lelaki itu kepada Kyungsoo. Terdengar suara Kyungsoo yang kebingungan melihat lelaki sedang menelponnya dengan ponsel Chaerin. “Kau kekasih Kwon Chaerin ‘kan?” ucap lelaki itu.

“….”

“Kemarilah bocah tengik. Aku akan memberimu pelajaran karena telah melukai beberapa anggotaku. Kau tahu kami siapa? Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang kesini?” tanyanya dengan nada mengejek. Ia kemudian memutari kursi Chaerin sambil memegang ponsel Chaerin.

Setelah berada tepat di belakang Chaerin, lelaki brengsek itu menyejajarkan tingginya dengan Chaerin yang duduk. Kemudian ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celannya. Dengan cekatan lelaki itu memainkan pisau yang barusan ia keluarkan dalam kantongnya. Dengan gerakan cepat mengarahkan pisau lipat itu tepat di leher Chaerin.

“Kau akan melihat kematian gadis ini di berita besok pagi,” ucap lelaki itu sambil tertawa renyah. Chaerin bisa melihat wajah khawatir dari Kyungsoo diseberang. Ia memejamkan matanya karena tidak kuat melihat wajah Kyungsoo. Membuat rasa sakit di dadanya semakin dalam. Serta perasaan rindu ini semakin meremas dadanya.

“Jangan kesini kumohon,” pinta Chaerin wajahnya yang berantakan terlihat sangat kuyu. Sorot matanya juga meredup. “Aku baik-baik saja,” katanya dengan suara bergetar, metap pisau dilehernya ia bergidik ngeri.

Raut muka Kyungsoo tidak dapat di artikan. Terlihat rahangnya mengatup dengan rapat. Kemudian terdengar helaan nafas panjang, “Bagaimana kau bilang baik-baik saja ketika pisau itu bisa saja mengoyak lehermu dengan sekali sayatan? Kau bilang baik-baik saja? kau gila? Aku akan kesana sekarang.”

Terdengar bunyi sambungan telepon yang terputus membuat air mata Chaerin tumpah lagi tanpa bisa terkendali. Laki yang sekerang berada di belakangnya itu terdengar tertawa. Menertawakan Chaerin dengan Kyungsoo yang begitu bodoh.

“Kalian ini penuh dengan drama,” katanya sambil mengunggingkan senyum dibibirnya.

—-

Saat itu, Kyungsoo sedang membaca buku meja belajarnya. Sesekali ia melirik ke arah jam yang semakin mengarah ke kanan. hatinya merasa tak tenang sejak kejadian tadi. Memikirkan apakah yang dilakukannya sudah benar ataukah keterlaluan?

Kegiatan membacanya menjadi tidak kusyuk. Segera ia menutup bukunya sambil membenarkan kacamatanya yang melorot. Pilipisnya ia pijat karena banyak sekali hal yang membuatnya pusing.

Kring… kring… kring….

Ponselnya berdering nyaring membuatnya langsung teralih. Nama yang tertera di layar ponsel membuatnya sedikit kaget dan gugup. Ia menerima panggilan itu dengan mengerahkan keberaniannya.

Yeobeoseyo.” Mata Kyungsoo membulat saat mendapati pria gondrong muncul di layar ponselnya.

‘Pangilan video ada apa?’

Annyeonghaseyo!” terdengar suara berat dari lelaki itu. Kyungsoo masih terlihat bingung. Tidak ada yang terpikir di otaknya.

Nuguseyo?” tanya Kyungsoo dengan suara yang bingung.

“Kemarilah bocah tengik. Aku akan memberimu pelajaran karena telah melukai beberapa anggotaku. Kau tahu kami siapa? Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang kesini?” tanyanya dengan nada mengejek. Lelaki itu terlihat memutari kursi Chaerin.

Setelah berada tepat di belakang Chaerin, lelaki brengsek itu menyejajarkan tingginya dengan Chaerin yang duduk. Kemudian ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celannya. Dengan cekatan lelaki itu memainkan pisau yang barusan ia keluarkan dalam kantongnya. Dengan gerakan cepat mengarahkan pisau lipat itu tepat di leher Chaerin.

“Kau akan melihat kematian gadis ini di berita besok pagi,” ucap lelaki itu sambil tertawa renyah. “Aku akan mengirimimu alamat jika kau bersedia datang dan jangan berani menelpon polisi bocah! Aku bisa melacak nomormu,” ancam lelaki itu. Kyungsoo menelan ludahnya yang mengganjal dengan kasar. Tangannya mendadak tremor saat mendapati pisau yang terarah langsung di leher Chaerin. Ia memejamkan mata sejenak untuk menyusun apa yang akan dia katakan.

“Jangan kesini kumohon,” pinta Chaerin wajahnya yang berantakan terlihat sangat kuyu. Sorot matanya juga meredup. “Aku baik-baik saja,” katanya dengan suara bergetar, metap pisau dilehernya ia bergidik ngeri.

Raut muka Kyungsoo tidak dapat di artikan. Terlihat rahangnya mengatup dengan rapat. Kalimat yang ia susun seolah hilang entah kemana saat Chaerin membuka suara. Bibir Chaerin terlihat bergetar dan penampilannya sudah kacau. Pipi yang memerah, rambut berantakan, sudut bibir yang berdarah. Kyungsoo melihatnya. Jantungnya seakan terkoyak.

‘Ada apalagi ini?’ pikirnya.

Kemudian terdengar helaan nafas panjang, “Bagaimana kau bilang baik-baik saja ketika pisau itu bisa saja mengoyak lehermu dengan sekali sayatan? Kau bilang baik-baik saja? Kau gila? Aku akan kesana sekarang!”

Saat itu juga Kyungsoo memutus pangilan itu.  Sesegera mungkin ia mengambil jaket kulitnya dengan kasar. Ia hanya berpikir ia harus cepat datang kesana. Tak lama setelah panggilan terputus tersebut, ponselnya bergetar itu mungkin pesan yang berisikan alamat itu. Ia bahkan tak sempat berpikir untuk mengganti celana olahraganya.

Motornya telah terpakir di sebuah bangunan bekas yang tak terurus. Lampu penerangan pun tak tersedia. Ia segera turun dari motornya dengan terburu. Ia menghentikan langkahnya setelah berjalan beberapa langkah. Melihat ponselnya sebentar kemudian ia memantapkan hatinya untuk menelpon polisi, biar ini menjadi tanggungannya.

“Polisi? Ada kasus penculikan di sebuah bekas klinik Yeongsan. Mereka mengancam membunuh teman saya. Saya tidak bisa menjelaskannya dengan detail, tetapi saya akan menahan mereka selama yang saya bisa, sampai tim patroli datang.”

Ucapannya seperti orang meracau. Tetapi ia berusaha berbicara dengan benar supaya polisi itu percaya padanya. Setelah sambungan telepon itu terputus, ia berlari sekencang mungkin ke gudang belakang dimana Chaerin berada.

Sesuatu yang bisa membuatku terpesona adalah dirimu. Kau bersinar dibawah sinar bulan itu sambil tersenyum padaku. Menghabiskan waktu denganmu adalah yang hal berharga untukku saat ini. Maafkan aku yang terkadang membuatkmu terluka sampai kau meneteskan air mata. Mari menjadi rumah untuk masing-masing, tempat dimana kau kembali beristirahat setelah jauh pergi.-Do Kyungsoo-

Pintu itu terbuka saat Kyungsoo berusaha merangsek masuk. Kyungsoo melihat tangan dan kaki Chaerin yang terikat di kursi. Serta sebuah pisau yang diarahkan ke leher gadis itu. Mata mereka bertemu, membuat Kyungsoo tidak bisa melanjutkan langkahnya untuk sesaat. Ia terlihat tak peduli dengan dua lelaki besar yang menghadangnya.

“Ya! Beraninya kalian dengan perempuan!” ucapnya, ruangan besar itu membuat suaranya bergema.

Kyungsoo berusaha menerobos hadangan dua pria bertubuh besar itu. Ia tak peduli dengan mereka, yang ia pedulikan Chaerin yang sedang menangis di bangkunya. Gadis itu menggeleng, memberi tahu jika ini berbahaya.

Ia menangkis tangan kekar kedua pria itu. Ia terus berjalan pada Chaerin yang berada di tengah ruangan. Salah satu pria itu menonjok rahang Kyungsoo sampai ia tersungkur di lantai.

Sunbae,” panggil Chaerin lirih. Mungkin saja suara itu tak terdengar oleh Kyungsoo yang masih jauh darinya. Lelaki berambut gondrong ini masih berada dibelakangnya dengan pisau yang masih mengarah ke lehernya.

Chaerin melihat Kyungsoo yang sedang berusaha bangkit. Ia terlihat memegangi sudut bibirnya yang telah mengeluarkan darah. Kyungsoo menatap lekat kedua pria dihadapannya tersebut dengan tatapan yang penuh kebencian.

“Kau berani melihatku seperti itu?” tanya lelaki tersbeut kepada Kyungsoo lalu menendangnya.

Chaerin menutup kedua matanya, tak ingin melihat Kyungsoo yang sedang disiksa dihadapannya. Ia tak kuat melihatnya. Ia merasakan seluruh badannya lemas. Tetapi tangan dan kakinya masih bergerak berusaha melepaskan tali tambang yang mengikatnya.

Kyungsoo telah berdiri dengan sempurna untuk saat ini. “Bikyeo!” ucapnya kepada kedua pria kekar dihadapannya.

Srek

“Kwon!” pekik Kyungsoo saat melihat benda tajam tersebut hampir saja mengoyak leher gadis tersebut. Dunianya seakan runtuh untuk beberapa saat. Dunianya seakan berhenti untuk sesaat. Seperti jantungnya sudah terhempas jatuh.

Chaerin menutup rapat kedua matanya. Selama beberapa detik ia menahan nafasnya. “Ahaahh…,” ia menghela nafas panjang. Pisau itu berhasil menggores leher Chaerin. Membuat suatu goresan panjang di leher putihnya. Darah segar merembes dari goresan tersebut. Tetapi untung saja hanya menembus kulit luarnya, tidak daerah vitalnya.

Salah satu dari mereka mencoba untuk menonjok Kyungsoo tetapi dengan sigap Kyungsoo menghindarinya dan memukulnya dengan bertubi. Kemudian Kyungsoo membantingnya ke tanah.

Tak terima atas perlakuan Kyungsoo, pria berambut cepak –pria kekar yang lain- itu berhasil menonjok perut Kyungsoo. Tetapi itu tak membuat Kyungsoo jengah ia malah berhasil menonjok rahang pria itu kemudian memiting leher pria itu sampai wajahnya memerah. Tak puas, Kyungsoo tak lupa mengarahkan pukulan kakinya ke kaki pria tersebut.

Cengkeraman lengan ketua Yakuza tersebut ada leher Chaerin sedikit mengendor. Kemudian lelaki itu –masih dengan pisau di tangannya, menghampiri Kyungsoo yang sedang terengah. “Dasar keparat!” ucap lelaki gondrong itu sambil berjalan menuju Kyungsoo. Lelaki itu membalik tubuh Kyungsoo dengan paksa. Dan…

Jlebbbbb….

“Do Kyungsoo!!!”

Dengan sekali tusukan, mata pisau itu berhasil menembus perut Kyungsoo. Anehnya ia tak merasakan apapun. Ia hanya terkejut dengan teriakan Chaerin. Indera Kyungsoo mengabur. Ia tersuruk ke lantai, pandangannya masih tertuju pada sososk gadis itu walaupun sosoknya mengabur dipandangannya. Suara isakan, teriakan, dan suara Chaerin yang memanggilnya seakan begitu dekat dengannya.

Kyungsoo, walaupun sekarang ia masih berlutut, dengan sisa tenaga terakhirnya ia mencoba untuk berdiri. ia baru merasakan sakit saat ini, perih tak berujung. Terdengar suara pria gondrong itu yang meremehkannya. Terlihat Kyungsoo merangkak mendekati Chaerin. Ia memegangi sebelah kanan perutnya. Darah tersebut mengucur deras membuat noda merah di kaos putih yang ia kenakan.

Chaerin melihat salah satu dari ketiga pria itu mengarahkan sebuah kursi untuk memukul Kyungsoo yang sedang mengumpulkan tenaga terakhirnya. Suara Chaerin terdengar seperti memekik, “Jangan!” Gadis itu berusaha melepaskan ikatan itu, walaupun membuat kaki dan tangannya terasa perih dan sakit ia tak begitu peduli. Dengan seluruh sisa tenaganya, ikatan itu bisa terlepas. Chaerin menghambur ke arah Kyungsoo. Menjadikan punggungnya sebagai tameng, merengkuh tubuh itu sejauh yang ia bisa.

Brakkkk…..

Kursi lapuk itu menjadi berkeping saat beradu dangan tubuh bagian belakang Chaerin. Seluruh badannya mendadak tremor .  Ia membiarkan pahanya sebagai sandaran kepala Kyungsoo. Chaerin terisak,  ini sangat membuat hatinya sakit seolah dirajam.

“Gwencanha?” suara lelaki itu terdengar begitu gemetar.

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, bodoh!” ucap Chaerin yang tak kalah gemetarnya. Kyungsoo hanya tersenyum menampakkan giginya yang bernoda merah.

Tak berselang lama. Terdengar bunyi panjang dari mobil polisi. Wajah terkejut menghiasi tiga lelaki itu. “Brengsek…,” ucap lelaki gondrong tersebut. Lalu ia dengan kedua anak buahnya berlari melarikan diri dengan melompati jendela dan Chaerin hanya menatap sekilas dengan tatapan benci.

Dengan sigap, Chaerin menekan luka Kyungsoo dengan telapak tangannya. Setidaknya ini yang bisa dilakukannya untuk menahan darah mengucur makin deras. Ia masih tidak kehabisan akal, tangannya yang bergetar melepaskan jaket yang ia kenakan. Kemudian ia ikat lengan jaket itu ke pinggang Kyungsoo sambil ia tekan dengan kedua tangannya.

Ia menatap dalam manik mata Kyungsoo yang sendu. Kemudian ia terlihat menguatkan tangannya untuk dapat menangkup pipi Kyungsoo. Ia masih terisak,  penampilannya begitu berantakan tetapi ia seolah tidak peduli.

Kyungsoo balas menatap iris cokelat Chaerin sambil tersenyum, menampakkan gigi Kyungsoo yang merah dipenuhi darah. Dengan jarinya Kyungsoo membuat tanda supaya Chaerin mendekatkan wajah kepadanya.

Chaerin mengangguk sambil terisak sebelum menuruti perkataan Kyungsoo.  Tangan Kyungsoo terlihat bargetar,  ia berusaha sekuat tenaga untuk mengusap air mata yang telah jatuh di pipi Chaerin.

Kemudian setelah jarak mereka semakin tipis,  Kyungsoo mengecup bibir Chaerin dengan lembut. Melumatnya sekali,  seolah dengan ciuman itu Kyungsoo menunjukkan seluruh rasa yang ia punya. Saat itu Chaerin begitu kalap membuat isakannya semakin kencang. Chaerin merasakan perasaan itu. Ia mengerti sekarang, rasa yang dirasakan Kyungsoo sama besar sepertinya atau mungkin lebih. Tetapi lelaki itu hanya butuh waktu.

Beberapa saat kemudian Kyungsoo melepaskan tautan itu.  Terlihat ia tersenyum kecil sambil berbisik,  “Mafkan aku, aku menyukaimu,”

Ciuman itu meninggalkan bercak darah dibibir Chaerin. Membuat Kyungsoo mengusap noda itu dengan ibu jarinya. Chaerin meraih tangan Kyungsoo,  kemudian menangkupkannya di pipinya. Kyungsoo terlihat ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergetar,  “Aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku kepadamu.”

“Ssstt…,” ucap Chaerin yang tidak ingin mendengar perkataan Kyungsoo. “Aku tahu. Aku sudah cukup tahu. “

“Maafkan aku yang membutuhkan waktu panjang untuk mengatakan ini. Aku tau aku bodoh, tetapi aku tak tahu jika aku sebodoh ini”

“Diam… nanti sakit.”

“Aku masih canggung dan banyak kekurangan untukmu. Tetapi aku akan berusaha sampai bisa untuk tetap berada disampingmu.”

Geumanhae,” suaranya berubah menjadi serak. Kyungsoo mengangguk lemah. “Tahan sebentar lagi ya? Sampai polisi datang.”

“Pakaianmu terbuka. aku tidak suka,” ucap Kyungsoo berusaha membuat Chaerin untuk tertawa. Terlihat senyum yang dipaksakan oleh Chaerin. Kemudian ia membelai rambut Kyungsoo dan memeluknya kembali. Mulut Chaerin terus merapal doa kepada Sang Kuasa, berharap Dia tanpa pamrih memberikan kekuatan untuk Kyungsoo.

Suara gaduh itu terdengar saat beberapa polisi merangsek masuk ke dalam sambil mengacungkan pistol. Perhatian Chaerin langsung teralih, tak ada kata yang mampu dia ucap. Dia hanya bisa menangis sambil memandang polisi-polisi tersebut.

“Jangan khawatir kami disini,” ucap salah satu polisi tersebut kemudian meletakkan kembali pistol ke samping badannya kemudian berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Chaerin. Sedangkan yang lain sedang mengecek beberapa sudut ruangan memastikan jika ada anggota lain yang tidak bisa melarikan diri.

Sepertinya polisi ini telah memberi komando supaya tim medis masuk. Tak lama kemudian empat orang bermasker terlihat sambil membawa tandu dan sebuah kotak sedang berwarna putih.

“Tolong dia dulu kumohon,” suaranya bergetar. Ia khawtair melihat mata Kyungsoo terpejam, mungkin ia tak sadarkan diri karena darah yang banyak keluar dari tubuhnya. Tak berselang lama dengan sigap tim medis tersebut telah memindahkan Kyungsoo ke tandu.

Brukk..

Chaerin sudah tak bisa menahannya. Ia ambruk di lantai. Perlahan tapi pasti terdengar suara dengung panjang di telinganya serta pandangannya memburam sebelum berubah menjadi putih yang menyilaukan kemudian menjadi gelap. Suara tim medis yang memanggilnya pun terdengar samar kemudian menghilang dari rungunya.

Ayah dan ibu Chaerin terlihat duduk di sofa panjang sudut ruangan. Tak henti-hentinya wanita itu merapal doa sambil menautkan tangannya. Air mata terus keluar dari kelopak matanya yang bengkak. Sedangkan Sang ayah tampak khawatir, terlihat dari lagaknya yang sebentar-sebentar berdiri sambil mengitari ruangan.

Chaerin masih tertidur pulas, masih belum bangun sejak operasi tulang belikatnya. Kakak lelakinya duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan Chaerin. Sehun juga disana, dia sedari tadi berjalan mondar-mandir di ruangan sesekali keluar ruangan dengan wajah tak kalah khawatirnya dengan yang lain.

“Chaerin-ah,” panggil oppa-nya. Ia melihat jika kelopak mata Chaerin mengerjap beberapa kali. ayah, ibu, beserta Sehun langsung mengerubuti Chaerin.

Mata Chaerin membuka sedikit kemudian ia mengerjap beberapa kali. Pandangannya tertuju pada kakaknya. Dia tergelak sebentar kemudian berkata dengan suara serak, “Hello, babi besar.”

Ayahnya tertawa untuk beberapa saat mengetahui putrinya berkata demikian. “Sekarang aku tidak begitu khawatir. Dia masih tetap Chaerin yang sama,” kata ayahnya kemudian mengusap kasar wajahnya. Kemudian ibu Chaerin memukul pelan lengan suaminya. Kemudian ayah Chaerin keluar dari ruangan tersebut. Sebelumnya ia benar-benar tak bisa meninggalkan Chaerin, berganti baju saja tidak mau. Sampai saat ini dia masih menggunakan baju dinasnya.

“Kyungsoo baik-baik saja ‘kan?” tanyanya.

Ibunya yang kali ini menjawab, “Dia butuh waktu untuk beristirahat setelah menjalani operasi. Dia kuat, dia bisa melewatinya. Nanti kau bisa menemuinya.” Chaerin mengangguk mengiyakan. Ada perasaan lega di dadanya. Seperti sesak di dadamu terangkat.

“Kau membuat seluruh Korea gempar. Tapi kau menguntungkanku, aku mendapat cuti karena atasan tau dia tidak bisa menjagamu 24 jam,” ucap kakaknya sambil mengusap lembut puncak kepala adiknya. Bola mata lelaki itu terlihat melirik ayahnya yang berada tepat dibelakangnya. Kemudian ia kembali menggenggam tangan adiknya tersebut. Chaerin hanya terkikik, walaupun ia tidak tahu apa yang membuat Korea gempar karena dirinya.

Appa dan Eomma menemui dokter ya. Tunggu sebentar,” ucap ibu Chaerin sambil berlalu. Chaerin menggangguk.

“Hun-a, Wae?” ucap Chaerin saat mendapati Sehun yang memandanginyadengan wajah yang tak bersahabat. Oppa Chaerin bangkit dari duduknya kemudian mempersilahkan Sehun untuk duduk.

“Maafkan aku.”

“Ya! Untuk apa kau meminta maaf?”

“Sudah kubilang ‘kan sebelumnya jagalah dirimu. Aku juga sudah memperingatkan tentang yakuza itu padamu. Kau membuat kami khawatir setengah mati karenamu. Kenapa kau baru bangun setelah 26 jam? Kami juga kerepotan mengurus wartawan yang berkumpul di depan rumah sakit.”

Oppa Chaerin terlihat menonjok pelan dada Sehun smabil berkata, “Kau berlebihan, bro.”

“Tapi aku khawatir dengan dia!” bela Sehunsambil menunjuk Chaerin. Chaerin terkikik saat melihat wajah Sehun yang berubah seperti bayi yang sedang merajuk.

“Iya.., iya.., terserah padamu,” ucap Oppa Chaerin sambil memutar bola matanya enggan.

Di ruangan tersebut masih ada Oppa Chaerin dan Sehun yang sedang menemaninya. Chaerin duduk di ranjang yang sudah di tegakkan, dengan selang infus di tangan kanannya yang masih terpasang. Mereka terlihat berbincang, sesekali melemparkan candaan untuk mencairkan suasana. Oppa Chaerin sedang menyuap adiknya tersebut dengan masakan rumah sakit.

Tak berselang lama ayah Chaerin muncul dengan terbukanya pintu ruang rawat inap. Pandangan seluruhnya teralih pada sosok tinggi nan gagah tersebut. “Aku perlu bicara pada Chaerin.”

Sontak saja Sehun dan Kwangjin –kakak Chaerin- menjauh dan memilih duduk di sofa. Ayah Chaerin mendekat membuat Chaerin kebingungan. Chaerin masih enggan membuka suara, menunggu ayahnya dahulu.

“Kami tak bisa menutupinya lebih lama lagi. Karena pasti kau akan tahu,” ucap pria itu dengan serius. Kwangjin dan Sehun yang berada di belakang kelihatan gelisah. Sedangkan Chaerin masih mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

“Kau kemarin telah menjalani operasi tulang belikat sebelah kanan. Ayah sudah hubungi semua dokter terbaik, tetapi mereka bilang lengan kananmu tidak akan bisa berfungsi seperti normal. Dokter juga mengatakan jika kau terus berlatih tenis layaknya profesional itu mustahil. Itu akan membuat lenganmu bertambah buruk. Apalagi otot lenganmu sudah banyak mengalami cidera.”

Chaerin memejamkan matanya. Bulir air mata itu tumpah, ada perasaan sesak di dalam dadanya. Ia tertunduk sambil terisak. Tak ada sanggahan apapun dari mulutnya karena ia mungkin sudah tahu sejak lama jika tulang belikatnya bermsalah, mungkin sejak kena pukul berandal sekolah beberapa bulan yang lalu. Tenis adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk meluapkan perasannya. Ia bisa merasa lebih baik jika memukul bola hijau itu. Jika ia bahagia ia juga akan memukul bola hijau itu dengan perasaan menggebu di dadanya.

“Ini terjadi karena kerja berlebih pada lenganmu. Pukulan benda tumpul juga mempengaruhinya. Dokter yakin daerah pundakmu kena pukul lebih dari 1 kali. Aooa tak bisa membuarkan itu, amak dari itu aku sudah atur penerbangan untuk ke Jerman besok. Pasti ada dokter yang bisa menyembuhkanmu disana. Kau akan bersama Eonni-mu disana. Ayah juga memutuskan untuk menyekolahkanmu ke Paris setelah kau menyembuhkan lenganmu. Eonni-mu juga ingin berkarir di Paris, Appa memintanya menunda sampai dirimu sembuh. Kau bisa tinggal bersamanya.”

“Appa, aku ingin disini bersama teman-teman. Aku baru saja mengenal mereka, aku tidak ingin meninggalkan mereka,” ucap Chaerin dengan suara serak. Kedua lelaki yang sedang duduk di sofa tersbeut hanya terdiam. “Aku bersedia melakukan pengobatan itu! tapi tidak untuk melanjutkan sekolah di Paris!”

“Chaerin-ah,” ucap ayah Chaerin memohon.

 “Akan aku pikirkan,” suaranya melemah, wajahnya terlihat begitu pasrah. Ia tidak tahu jika kejadian kecil seperti itu akan berdampak besar. “Bagaimana dengan Kyungsoo?”

Ayahnya mendesar kasar kemudian mengusap wajahnya dengan seleah tangannya. “Dia masih melalui masa kritis. Dia belum sadar sejak operasi. Operasinya berhasil tapi organ vitalnya terluka begitu buruk.”

Chaerin begitu terkejut, membuat matanya membulat sempurna. Ini salahnya, jika ia tak mencampuri urusan berandal sekolah itu pasti hal seperti ini tak akan terjadi. Ini salahnya. Ia begitu takut sampai-sampai tubuhnya menggigil. Pikiran buruk terus berterbangan di otaknya.

Ayah Chaerin tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia membalik tubuhnya kemudian menghilang di balik pintu. Kwangjin menghampirinya kemudian memeluk adiknya itu dengan hangat. Menyakinkan Chaerin jika Kyungsoo akan melewati masa kritisnya dengan baik. “Jangan khawatir dan jangan menyalahkan dirimu. Aku tahu kau mempunyai hati yang baik maka dari itu kau menghajar berandal tersebut ‘kan?”

Tangis Chaerin semakin kencang seiring dengan bahunya yang berguncang hebat. Sehun masih tidak bisa melakukan apa-apa ia hanya bisa diam mematung di tempatnya sambil memandang Chaerin yang begitu terluka.

Chaerin mempererat pelukannya di leher kakaknya. Kejadian tersebut masih segar diingatannya. Saat benda itu menembus perut Kyungsoo. Saat Kyungsoo merintih kesakitan di pangkuannya, saat melihat darah segar tersebeut keluar dari luka Kyungsoo. Kejadian tersebut membuat tubuh Chaerin semakin menggigil ketakutan.

“Heyy…, Chaerin…, Chaerin…, tak apa,” ucap Sehun yang melihat Chaerin begitu tertekan. Lelaki itu membuka suara walaupun hanya kalimat menengkan yang bisa ia berikan.

Sehun mendorong kursi roda Chaerin menuju ruang isolasi, tempat dimana Kyungsoo berada. Chaerin sedari tadi terus merengek untuk dibawa kesini. Di depan ruangan terlihat Chanyeol, Baekhyun, dan Seulgi yang sedang duduk di kursi panjang. Sedangkan ruangan dengan kaca besar itu masih tertutu dengan korden biru muda.

Baekhyun yang pertama menyadari keberadaan Chaerin. Ia kemudian berdiri dan menyapa Chaerin beserta Sehun. Chanyeol yang tak berselang lama berdiri dan menyapa. Chaerin menatap kaca besar yang terpatri tersebut dengan tatapan yang nanar. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun dan Chanyeol, satu senyuman tipis yang  menghiasi wajah pucat itu. Kemudian Chaerin terlihat berusaha mencoba berdiri. sehun dengan cepat segera membantu untuk menuntun gadis itu.

“Apa dia bisa kutemui?” ucap Chaerin.

“Be-“

Perkataan Chanyeol terpotong oleh Seulgi, “Untuk apa kau menemuinya? Kau yang menyebabkan ini semua terjadi! Jika kau tidak datang kepada kami ini semua tak akan terjadi! Kau hanya pembawa sial!”

Chaerin tertegun oleh perkataan Seulgi. Ia masih terdiam di tempatnya, tak mampu berucap. Tak pernah ia melihat Seulgi bersikap kasar seperti itu padanya. “Seulgi tenanglah, kenapa kau tak bisa jaga bicaramu? Ini bykan salahnya, ini semua kecelakaan,” ucap Canyeol sambil memegang pundak Seulgi.

“Kecelakaan apa? Jika dia tak cari masalah dengan berandal itu, smeua ini tak akan terjadi. Urusi saja Oh Sehun-mu itu!” ucap Seulgi dengan wajah memerah.

Chaerin terduduk tepat dihadapan Seulgi. “Mianhae,” ucap gadis itu dengan suara serak disertai isakan kecil. Ia menangis kembali.  Bahunya bergetar, Sehun terkejut melihatnya. Cepat-cepat ia mensejajarkan tubuhnya dengan Chaerin.

“Chaerin sebaiknya kau istirahat. Kau tahu ‘kan jika dia gampang khawatir? Ia akan melakukan hal bodoh jika khawatir. Nanti jika Kyungsoo bisa di jenguk akan aku kabari,” ucap Baekhyun sambil mendorong tubuh Seulgi menjauh.

Kemudian mereka bertiga terlihat beranjak dari tempat ini. Terdengar mereka adu argumen sampai menghilang di belokan ujung lorong.

“Chaeng, kau bisa menemuinya nanti, eoh?” bisik Sehun. Ia kemudian memeluknya. Chaerin masih terisak dengan telapak tangannya yang menekan dada. Ia berharap rasa sesak di dadanya dapat menyublim dan menghilang entah kemana.

Sedangkan lelaki itu masih memberi Chaerin kalimat-kalimat menenangkan, walaupun ia sendiri tak tahu apakah kalimat itu akan terbukti. Apa serakah jika ia mencoba memiliki hati gadis itu? Tetapi sekeras apapun usaha yang Sehun lakukan untuk mendapatkan hati gadis itu, ia tahu Chaerin tak bisa segampang itu memberikan hatinya yang penuh luka kepada Sehun.

Jika angin kejam bertiup ke arah kita sekali lagi, ijinkan aku untuk mengatasinya bersama denganmu. Harap ingatlah bahwa seseorang yang mencintaimu ketika dirimu terjatuh ada di sampingmu- Kwon Chaerin-

Keadaan Kyungsoo mulai normal tetapi keadaannya masih harus dipantau. Dengan seizin dokter Chaerin diperbolehkan menengok keadaan Kyungsoo. Ia memasuki ruangan itu dengan perasaan takut setengah mati. Kakinya bergetar saat melihat banyak selang yang menghubungkan badan lelaki itu dengan sebuah monitor disebelah ranjangnya.

Wajahnya tidak begitu jelas, ditutupi masker oksigen. Ia melihat beberapa luka di wajah itu. Chaerin membungkam mulutnya dengan sebelah tangan. Air mata itu kembali tak bisa ia tahan walaupun otaknya terus berkata jangan menangis.

Ia mendekati Kyungsoo dengan langkah yang berat. Duduklah ia di kursi disebelah ranjang Kyungsoo. Ditatapnya wajah itu beberapa saat. Suara isakan Chaerin terdengar lebih keras tetapi ia kembali membungkamnya dengan sebelah tangan.

“Kyungie-ya, aku disini,” katanya dengan suara serak. “Maafkan aku membuatmu seperti ini. Cepat bangun aku merindukanmu. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, kita bisa pergi ke taman bermain bersama Caramelo.” Chaerin mengusap punggung tangan Kyungsoo.

“Kyungie-ya, apa kau tak ingin mengucapkan selamat tinggal untukku? Aku akan pergi untuk waktu yang lama, Kyung. Bangunlah supaya aku bisa melihat wajahmu sebelum aku pergi. Kyung, aku menyukaimu. Cepat bangun, eoh?”

Tangan Cherin bergetar saat meletakkan telapak tangan Kyungsoo di pipinya. “Kyungsoo, aku mencintaimu.” Chaerin mencium punggung tangan tersebut dengan lembut. Ia kembali menatap wajah Kyungsoo dalam. Kembali memohon padanya supaya ia bangun.

Chaerin bangkit dari duduknya kemudian terlihat membisikkan sesuatu kepada Kyungsoo, “Saranghae.” Ia kemudian mengecup pelipis Kyungsoo.

Tes

Kyungsoo memberikan respon. Terlihat bulir air mata turun ke pipinya dengan mata yang masih terpejam. Chaerin membelalak, terkejut bukan main. “Kyung, kau dengar aku? Do Kyungsoo? Kyungie?”

Chaerin segera memencet bel yang terpasang di atas ranjang. Ia memencetnya beberapa kali memastikan panggilan itu sampai. Selagi menunggu dokter datang Chaerin terus memanggil nama Kyungsoo dengan lembut walaupun suaranya bergetar.

Tak lama kemudian sekumpulan orang berbaju putih masuk dengan tergesa. “Dia menangis, dia meresponku,” ucapnya dengan terbata diselingi isakan.

“Kami akan memeriksanya. Kau tidak usah khawatir, tunggu di luar ya?” ucap salah satu suster kapadanya. Tubuh mungilnya terdorong kebelakang, ia masih memandang Kyungsoo sampai orang berbaju serba putih itu menghalangi pandangannya.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Di dalam hatinya ia treus merapal, berdoa supaya Kyungsoo bisa bangun. Ia kemudian berlalu dari ruangan tersebeut selagi dokter memeriksa keadaannya.

Wajahnya yang kuyu serta mata yang bengkak membuat penampilannya kacau. Ia menghela nafas panjang saat berhasil keluar dari ruang isolasi tersebut. Terlihat bahunya yang sedikit bergetar. Seorang wanita paruh baya terlihat mendekatinya. Ia tatap wajah ramah tersebut dengan tatapan bertanya. Sedangkan seorang pria paruh baya terlihat duduk di kursi panjang, terlihat raut wajah yang gelisah disana.

“Aku Ibu Kyungsoo. Kau Kwon Chaerin? Kau cantik,” ucapnya sambil memegang kedua tangan Chaerin. Wanita itu tersenyum ramah kepadanya. Chaerin tertunduk, ia tak dapat lagi menatap wajah tersebut. Ia merasa bersalah telah membuat Kyungsoo menderita seperti itu.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

“Hei…, hei… Tidak, kau tak salah apapun. Tidak ada yang perlu meminta maaf dan memafkan. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatnya malam-malam mengantar makanan dan membuatnya cemas.”

Chaerin hanya tersenyum tipis. “Kyungsoo tadi menangis. Aku memintanya untuk bangun dan dia terlihat meneteskan air matanya,” suara serak Chaerin membuat perkataannya sedikit tidak jelas. Tapi ibu Kyungsoo terlihat memahaminya. Wanita paruh baya itu terlihat  menggangguk mengerti. Ia kemudian mengusap air mata Chaerin.

Ibu Kyungsoo memeluknya. “Kau tahu? Dia kuat dan dia keras kepala. Dia bisa melaluinya jangan khawatir.” Ucapnya kepada Chaerin. terlihat wanita itu membelai rambut Chaerin dengan lembut.

“Maafkan aku…, maafkan aku,” ucapnya berulang. Mungkin ia akan mengatakan kelimat itu sampai ia tak merasa bersalah lagi.

“Tak apa. Semua ini bukan kesalahanmu.” Wanita itu masih berusaha menenangkan Chaerin yang lebih terguncang darinya. Terlihat wanita itu menangkan Chaerin dengan menepuk-nepuk punggung gadis itu, walaupun ia sendiri tak memungkiri jika ia merasa cemas setengah mati.

Chaerin harus pergi. Ayah, Oppa-nya, beserta Sehun mengantar Chaerin ke bandara. Sedangkan ibu Chaerin akan menemaninya menjalani pengobatan disana. Rencananya mereka akan tinggal di apartemen milik kakak perempuannya.

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap Kwangjin sambil memeluk Chaerin yang duduk di kursi roda dengan singkat. “Aku akan merindukanmu.”

Chaerin terseyum tipis kemudian ia megalihkan pandangannya kepada ayahnya yang sedari tadi tak berucap apapun padanya. Terlihat Kwangjin menyikut perut ayahnya pelan. Mengode lelaki itu jika Chaerin menungguya untuk mengatakan sesuatu.

Ayah Chaerin memandang putrinya dengan sayu, “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Arra,” ucap Chaerin. Ibunya sedang memegang pundak Chaerin. Wanita itu berpesan kepada dua lelaki yang akan ditinggalnya itu, jika mereka harus menjaga makan mereka.

Sehun mendekat kemudian berjongkok dihadapan Chaerin. “Kabari aku jika Kyungsoo sadar, eoh?” ucap Chaerin sambil memandang lekat pria itu. Permintaannya seperti memohon kepada Sehun. Lelaki itu mengangguk kemudian mengacak pelan rambut Chaerin.

“Jangan beritahu mereka jika aku pergi. Jangan beritahu mereka apapun atas kepergianku. Aku tak sanggup. Jangan katakan pada mereka jika kau masih berhubungan deganku. Aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku mereasa bersalah kepada mereka,” ucap Chaerin.

“Chaerin-ah, tidak ada yang perlu disesalkan. Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Sehun sudah meyakinkan Chaerin jika ini bukan salahnya. Tetapi gadis itu tetap menolak.

“Sehun-a, maafkan aku yang tak bisa membalas perasaanmu. Tapi jangan segan untuk menghubungiku, jangan segan untuk berkunjung jika kau punya waktu,” ucap Chaerin sambil memegang kedua tangan Sehun. Ia merasakan ketulusan hati Sehun padanya, pria ini snagat baik kepadanya. Tetapi entah kenapa ia tak bisa membalas perasaannya untuk saat ini. Ia sudah mencobanya tetapi entah kenapa itu selalu gagal.

Sehun memeluk Chaerin untuk kali terakhir. “Ini yang terakhir sebelum kau pergi,” ucap Sehun. Lelaki itu kemudian mendaratkan kecupan di kening Chaerin. Mungkin ini yang bisa ia berikan kepada Sehun untuk menebus rasa bersalahnya. Chaerin tersenyum sambil memandang Sehun. Ada raut sedih yang tergampar di wajah tampan pria itu.

Gadis itu harus pergi secepatnya karena panggilan pemberitahuan pesawat siap sudah bergaung. “Jaga diri kalian baik-baik,” ucap ibu Chaerin kemudian memberikan lambaian tangan kepada ayah Chaerin, Kwangjin, dan Sehun.

Chaerin juga ikut melambaikan tangannya degan memasang senyum tipisnya. Tiga pria itu menatap kepergian Chaerin dnegan raut wajah yang berbeda. Tetapi disana tergambar raut sedih yang sama.

Walaupun jalan kita terkadang menjauh, di hari-hari ke depan pun kita menjauh. Pada suatu malam jika kau merindukanku dan mencari satu sama lain, carilah aku diantara salah satu cahaya itu dan bisikan kalimat rindumu padaku.-Kwon Chaerin-

Tak lama setelah kepergian Chaerin waktu itu, ada sebuah kabar baik datang dari ayah Kyungsoo. Dia mengabarkan jika Kyungsoo telah siuman, tetapi kondisinya masih perlu dipantau. Tubuhnya masih lemah dan ayah dan ibunya saja yang boleh masuk ke ruangan lelaki tersebut.

Setelah tiga hari tubuhnya membaik dan dia bisa bertemu denyan Seulgi, Baekhyun, Chen, Chanyeol, dan Sehun juga bisa menemuinya. Ia sudah bisa tertawa dan berbincang seperti biasanya walaupun dia harus berbaring dan duduk di kasur.

“Kami mengawatirkanmu,” ucap Chanyeol yang duduk di sebelah Kyungsoo.

Wajah Kyungsoo sudah membaik walaupun masih ada bekas memar membiru di sudut bibirnya dan pilipisnya. “Aku sudah tak apa. Ngomong-ngomong Chaerin dimana? Eomma mengatakan dia baik-baik saja.”

Kyungsoo memandangi wajah temannya satu persatu tidak ada satupun jawaban yang ia dapat. Ia kembali berucap, “Apa kalian tahu? Aku seperti tidur singkat saat Eomma mengatakan aku koma. Tetapi entah kenapa dalam tidurku aku seolah mendengar suara Chaerin yang membuatku ingin bangun. Dia mengatakan bahwa aku harus bangun untuk memberinya ucapan selamat tinggal.” Lelaki itu kemuian tertawa hambar sambil memainkan bibir gelas di tangannya. Ia menundukan kepalanya kemudian kembali menatap kembali teman-temannya.

Chanyeol, Baekhyun, Seulgi dan Sehun berpandangan satu sama lian. Entah apa yang bisa mereka katakan pada Kyungsoo. Apakah ia harus mengatkan jika Chaerin pergi? entahlah, lebih tepatnya Chaerin menghilang sejak keluar dari rumah sakit.

“Chaerin, tidak ada kabar. Sejak keluar dari rumah sakit ia tidak ada dirumah,” ucap Baekhyun. Mata bulat Kyungsoo menatap dalam Baekhyun.

“Baek,” ucap Chen yang memohon pada Baekhyun untuk tidak mengatakannya. Seulgi dan Chanyeol terlihat tertunduk, mereka tak sanggup mengatakannya. Membenarkan atau menyanggahnya pun mereka tidak sanggup. Tangan Sehun mengepal di samping badannya. Apa yang harus ia katakan?

Sehun, ia masih menutup bibirnya rapat. Masih bergejolak dengan pikirannya ia harus mengatakannya atau tidak? Ia tak bisa menjadi seseorang yang pura-pura tidak tahu. Tetapi cara Chaerin mengatakannya waktu itu membuatnya bimbang. Suara Chaerin terdengar bersungguh-sungguh.

Seulgi saat ini membuka suara, “Ini salahku, aku yang membuatnya pergi. Pasti aku. Aku keterlaluan saat itu.” seulgi menangis, dia merasa bersalah telah melukai hat Chaerin membuatnya harus pergi seperti itu.

“Kau bercanda ‘kan?” ucap Kyungsoo dengan bulir airmata yang sudah memenuhi kelopaknya. “Sehun itu tidak benar ‘kan? Kau yang paling dekat dengan Chaerin, dia masih menghubungimu ‘kan?”

“Dia pergi. dia belum menghubungiku sejak itu. Aku hanya tahu Oppa-nya sedang mengurus surat kepindahan untuk Chaerin. Ayanya juga merahasiakannya sesuai kehendak Chaerin. Dia, dia mencintaimu, itu yang ku tahu. Dia merasa bersalah padamu telah membuatmu seperti ini, dia juga merasa bersalah kepada kalian. Hanya itu yang aku tahu, dia yang mengatakannya padaku saat siuman.”

Ya Tuhan, Sehun harus berbohong. Ini permintaan terakhir Chaerin sebelum pergi. Ia tak bisa mengingkari janjinya begitu saja pada Chaerin.

Untuk pertama kalinya, anggota Caramelo melihat Kyungsoo menangis. Lelaki itu meneteskan air matanya. Tak ada yang bisa ia katakan, ia mantap kosong tembok dihadapannya sambil menangis. Entah kenapa ia tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini.

Ada sesuatu yang bergejolak di dalam ddanya, tetapi ia tak tahu perasaan apa itu. ia hanya merasakan sesak yang seolah tak berujung. Ia hanya ingin marah tapi tak tahu untuk siapa. Ia merutuki dirinya sendiri. Bahkan ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal yang layak. Jika ia bisa serakah, ia akan meminta gadis itu tinggal untuk tetap bersamanya. Ia belum pernah membuat Chaerin tersneyum karenanya. Ia hanya menyumbangkan banyak luka pada hati gadis itu. Ia masih belum melakukan hal layak untuknya.

Gadis itu dimana? Ia ingin bertemu dengannya. Ia ingin merengkuh gadis itu dan mengatakan jika ia merindukan gadis itu. Ia akan berbisik di telinga gadis itu bahwa ia tak tahu jika merindunya akan seburuk ini rasanya. Ia juga akan mengatakan pada gadis itu, memintanya untuk tidak pergi.

Kyungsoo masih berharap Chaerin kembali, saat hari pertama masuk setelah libur musim panas. Lelaki itu masih menunggu Chaerin kembali, bahkan saat hasil ujian kenaikan kelas ditempel di papan pengumuman, lelaki itu masih berharap Chaerin kembali. Ia hanya ingin memberikan gadis itu selamat karena dia telah bekerja keras sampai menduduki peringkat 3 di sekolah. Hanya saja ia sangat amat merindukan gadis itu.

Chaerin, akankah kau kembali padaku suatu saat nanti? Apa aku masih layak bersamamu? Aku tak pandai membuat kata-kata merindu untukmu. Tetapi aku harap kau tahu, aku merindukanmu sampai tak tahu kata apa yang cocok untuk menggambarkan perasaanku padamu. Kwon, ku harap kau mengerti. –Do Kyungsoo-

To Be Continue…

Halo SEMUA!!! Ada kabar baik dan buruk nih di part 15 dari Caramelo. Kalian harap baca author notes ini ya….

Oke sebaiknya Shuu tulis dulu kabar buruknya. Part selanjutnya yaitu part 16 akan jadi part terakhir Caramelo hehehehe… Kalian sedih nggak? Oh ya part ini full sedih-sedihan ya? The worst goodbye ever memang T^T

Kabar baiknya Shuu udah SMA lohhh *ngga ada yang nanya Shuu pliss* Kabar baiknya di EXO Fanfiction Indonesia, Caramelo di post ulang ehhehe… bagi kalian yang mau baca silahkan tapi jangan lupa komen ya hwhwhwhhw… kalo versi EXOFFI disana nantinya akan ada beberapa penambahan+penggantian dialog serta plot.

Di part terakhir dari Caramelo juga bakal ada cerita sedikit dari munculnya karakter Kwon Chaerin. Serta banyak cerita lainnya yang bakal Shuu tulis. Sebenernya Shuu buat itu buat share aja sih sama kalian yang udah setia baca Caraemlo sampai akhir. Rencananya Fakta-fakta tentang Caramelo yang nantinnya berjudul ‘Little Story Of Caramelo’ itu akan berbentuk link di akhir part 16. Link-nya itu akan nyambung di wordpress pribadi Shuu. Karena ‘Little Story Of Caramelo’ juga lumayan panjang nggak nyaman kalo di tulis kayak author notes seperti ini. Boo-bye! Sampai jumpa di part 16 T^T

 

Advertisements

Author:

Sedang tidak produktif, karena ide yang saya pesan di OLX dan dikirim melalui JNE lagi nyasar entah kemana

16 thoughts on “Caramelo pt. 15

  1. Aigo, udh saling jujur masih aja ada hambatan ya. Kyung udh sekarat masih aja protes nih. Shuu di beberapa bagian satu kata ada yg hurufnya kebalik. Di tunggu deh buat kelanjutannya. Selamat sudah jd murid putih abu.

    1. Oke makasih untuk sarannya…. udah diedit lo padahal makasih ya udah ingetin. Ditunggu aja ya untuk part 16nya. terimakasih udah baca dan komentar 🙂

  2. haha … ini part 15 , aku langsung baca aja sih ceritanya eh ternyata ada cerita sebelumnya yaa … bdw aku suka kok min sama ceritanya ya walaupun ada beberapa yg gk aku mengerti ya akibat gk baca part sebelumnya hehe

  3. Sedih banget kak ceritanya tapi lebih sedih lagi nanti pt. 16 final chapter 😭
    Semoga kyungsoo sama chaerin nanti bisa ketemu lagi Dan bisa sama sama lagi. Ditunggu kak fighting

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s