Posted in D.O FF Indonesia, Drama, Friendship, Multichapter, PG-15, Romance, School Life, Shuu

Caramelo pt. 14

caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: http://www.shuutory.wordpress.com

Teaser: Pt. 1Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Shuu’s Present this story

“People come and go. Let them go and wish them the best of luck”

 

Yeoboseyo?”

“….”

Samcheon?”

“…..”

Ani… dia tidak bersamaku”

“…..”

Nene algeusseumnida

Saat itu juga Sehun langsung mematikan ponselnya. Dengan terburu ia meraih jaket kulitnya. Wajahnya kebingungan, tangannya gemetar. Baru saja ia menerima telepon dari ayah Chaerin yang mengabarkan bahwa Chaerin menghilang. Ini sudah hampir tengah malam dan Chaerin belum kembali ke rumah sejak pulang sekolah.

Ayahnya mengabari setelah mendapat telepon dari ibu Chaerin saat sedang dinas. Sesekali Sehun menggurutu tidak jelas. Kemudian ia segara menyambar kunci mobilnya. Ia akan mencari di tempat yang mungkin Chaerin datangi. Entah kemanapun ia akan berusaha mencari Chaerin.

Ia percaya pada Chaerin bahwa ia tidak akan melakukan hal yang bisa saja melukai dirinya. Walaupun kemungkinnan itu bisa saja terjadi dikarenakan kejadian tadi siang. Tetapi ia terus meyakinkan diri bahwa Chaerin bukan orang berpikiran pendek seperti itu. Mungkin ia hanya sedang meluapkan amarah dan mencari waktu untuk sendiri.

Ia menyetir mobil, memacu mobilnya secepat yang ia bisa. Ia teringat sesuatu, kemudian dengan sigap ia memasang handsfree kemudian menelpon seseorang. Bunyi sambungan telepon terus bergema di telinganya. Ia tambah frustasi karena belum ada jawaban dari panggilan teleponnya.

“Kyungsoo-ssi, Sunbae,” mimik wajahnya terlihat lebih lega walaupun presentasenya mungkin hanya nol koma. Terdengar suara serak dari sebebrang, itu adalah suara Kyungsoo. Sepertinya ia terbagun akibat panggilan Sehun.

“Chaerin menghilang. Ayahnya menelponku, aku akan mencari di tepat yang mungkin ia kunjungi. Tolong bantu aku mencarinya,” ucap Sehun. Kemudian sambungan itu terputus setelah Kyungsoo mengiyakan.

Kyungsoo langsung berangkat setelah ia mencuci mukanya terlebih dahulu. Entah bagaimana ia akan mencari Chaerin. ia benar-benar tak punya ide sekarang ini. Ia memacu motornya dengan cepat, lampu kota terlihat datang dan pergi dari pengheliatannya. Ia juga tidak tahu akan membawa motornya kemana.

Kyungsoo benar-benar tidak tahu jika Sehun dan Chaerin sedekat itu. Sampai-sampai ayah Chaerin mengabari Sehun tentang hal itu. Terlalu banyak pikiran yang melintas di otaknya, sehingga ia seperti orang linglung.

Sehun bahkan tahu tujuannya mencari Chaerin kemana. Sedangkan ia masih berpikir keras untuk itu. rasa apa itu yang bergejolak di dadanya? Rasa penyesalan? Atau rasa kecemburuan? Ia sangat marah pada dirinya sendiri yang tak berguna dalam situasi seperti ini. Semakin ia marah pada dirinya jarum di speedo meter itu terus melonjak naik.

Mungkin ia akan berputar-putar kota dan –tentunya sekitar rumah Chaerin dan sekolah. Mungkin saja gadis itu sedang berjalan-jalan mencari udara segar atau sekedar membeli yoghurt kesukaannya.

Sehun terlihat frustasi di dalam mobil. Ia sudah menelpon Bodhi –pengawal club berkepala botak, tetapi Bodhi mengatakan Chaerin tidak datang. Ia juga sudah mengunjungi beberapa pusat olahraga. Tetapi hasilnya nihil. Mereka sudah mengatakan sudah tutup, jadi tidak mungkin ada orang yang masih di dalam. Juga sudah berkeliling di beberapa supermarket di dekat rumah Chaerin. juga belum ada kabar dari Kyungsoo.

Mobilnya melaju dengan cepat, tujuan terakhirnya adalah sekolah. Disana ada lapangan tennis, tempat Chaerin biasa berlatih. Itu harapannya satu-satunya ia harap Chaerin berada disana. Semoga saja.

Ia memarkirkan mobilnya di depan sekolahnya. Pintu gerbang sudah tertutup rapat. Sekolahpun berubah sedikit horor karena tidak ada aktivitas seperti siang hari. Penjaga sekolah yang biasanya berpatroli pun mungkin sudah pulang satu jam yang lalu.

Sehun terlihat melongok. Mencari jalan yang mungkin bisa ia lalui untuk masuk kedalam. Ia teringat sesuatu, tentang sebuah tembok rendah di samping sekolah. Tempat yang biasa digunakan Chaerin untuk menerobos sekolah saat ia terlambat –Caramelo pt. 1. Ia mengingat cerita Chaerin.

Ia kemudian memanjat tembok rendah tersebut, tubuhnya yang tinggi tak menyulitkannya untuk melakukannya. Ia mendaratkan seluruh badannya di semak-semak. Kemudian berdiri kembali dan mulai menuju gedung B –gedung dimana sarana olahraga tersedia.

Walaupun terasa sepi, Gedung B tetap disinari lampu seperti tempat yang lain. Walau begitu Sehun menyalakan flash kameranya, karena lampu yang menyinari geung B sangat redup.

Sedikit berlari kecil sesekali. Ia sudah melewati ruang takwondo tetapi hasilnya nihil. Ia terlihat membuka satu-persatu ruang olahraga. “Eodiya?” tanyanya. Ia mengusap wajahnya yang lelah dengan tangannya kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Dengan bantuan flash kameranya ia menuju lapangan tennis, harapannya satu-satunya. Ia mendengar bunyi bedebum keras. Seperti bola yang menyentuh lantai. “Kwon,” panggilnya lirih saat melihat sosok tersebut. Bisa saja hanya Sehun yang dapat mendengarkan suaranya sendiri. Sebuah punggung kecil yang sedang membelakanginya. Ada sedikit perasaan lega saat mendapati sosok itu.

Chaerin melakukan servis berkali-kali membuat bola tennis berserakan di tanah. Ia mengambil sebuah bola tennis di troli kemudian memukulnya. Ia melakukannya berulang. Tubuhnya terlihat memperihatinkan, seluruh badannya berkeringat. Dilihat dari bola yang berserakan, Sehun menduga jika troli tersebut sebelumnya terisi penuh oleh bola tennis.

Ia menghela nafas menemukan Chaerin dalam keadaan yang menyedihkan. Ini sudah hampir jam dua malam. Pakaian tennisnya –rok pendek berlipit serta atasan tanpa lengan yang terbuka dibagian punggung serta headband, ia mungkin akan sakit memakai baju terbuka seperti itu di malam hari. Walaupun sebentar lagi musim panas sudah akan datang.

Sehun tak tahan, segera ia berlari mendekat pada Chaerin yang terus memukul bola tenisnya tanpa menyadari kehadirannya. Memasang jaket kulit miliknya di bahu Chaerin kemudian memeluknya erat. Tangan Sehun lagi mencengkeram kuat tangan Chaerin yang hendak memukul bola.

“Tiddakkah kau tahu betapa khawatirnya aku! Semua orang khawatir karena dirimu,” ucap Sehun hampir berteriak dengan suara rendahnya. Raket yang masih ada digenggamannya terlepas. “Kau bisa terluka jika melakukan ini. Berhentilah melakukan hal yang tak berguna! Kau membuatku khawatir setengah mati.” Memelan pada kalimat berikutnya. Gadis itu tak menjawab apapun hanya tubuhnya yang sebelumnya menegang mulai rileks. Kelihatannya gadis itu baru saja menghela nafas panjang.

Mereka duduk bersebelahan ditengah-tengah lapangan tennis. Menatap langit hitam yang seakan memayungi mereka berdua. Jaket milik Sehun masih bertengger di pundak Chaerin. Sehun sudah menghubungi orangtua Chaerin dan memberikan kabar di grup chat Caramelo jika Chaerin baik-baik saja. Mereka belum memulai suatu pembicaraan apapun. Hanya terdiam, Sehun hanya memberikan Chaerin waktu sedikit. Sesekali Sehun memandang tubuh mungil itu.

“Lenganmu cidera Chaeng, kau harus ke rumah sakit.” Ucap Sehun.

“Aku merasa bersalah kepada semua orang. Aku marah pada wanita itu. Aku marah seseorang yang tak tahu apa-apa menghina teman-temanku, khusunya dirimu. Aku bingung, ingin melakukan apa aku tidak tahu. Aku hanya marah pada diriku sendiri ya-yang. Aku bahkan tak tahu aku marah karena apa. Aku merasa bodoh, Hun!”

“Hentikan itu,” ucap Sehun singkat. “Bukan itu yang membuatmu marah. Kau sama bodohnya dengan Do Kyungsoo! Kau terluka karena dia! Kau marah karena dia.” Sehun kemudian tertawa hambar.

Chaerin menatap Sehun lekat. Maniknya terlihat memerah dan berair. Bibirnya bergetar tak tahu harus menjawab Sehun apa. Ia hanya terlalu bingung dengan situasi ini. Ada sebuah perasaan yang mendobrak keluar dari dadanya. Ia merasakan dadanya sesak seperti tak berujung.

“Bisakah kau hentikan perasaanmu pada Do Kyungsoo? Bisakah kau hanya melihatku saja?” tanya Sehun balas menatap Chaerin. “Melihatmu terus diabaikan membuatku sakit. Bisakah kau lakukan itu? Aku bisa membuatmu bahagia dengan caraku! Aku sudah memintamu ribuan kali untuk itu. Tak apa jika pria itu membuatmu bahagia, tetapi kau tak pernah mendapatkan definisi bahagia itu bersamanya. Aku bahagia bersamamu, Chaeng. Kau juga terlihat baik-baik saja saat bersamaku! Kau terluka karena laki-laki itu, itu jauh membuatku lebih terluka!”

Sehun terdiam menatap lekat manik Chaerin. Ia heran kenapa ada gadis sebodoh ini. Mata Chaerin mengamati wajah pria di sampingnya ini. Bulir air mata itu lolos dari indera Chaerin.

‘Apakah aku harus mencintai pria ini? Aku bahagia bersamanya, tak pernah sekali pun menyakitiku. Kami berdua belajar banyak dari satu sama lain. Bukankah wanita sebaiknya mencari seseorang yang mencintainya dan membuat mereka bahagia?’

Sehun mencium bibir gadis itu. Sehun mengusap air mata Chaerin yang keluar. Kau tahu, itu ciuman yang membuatmu merasa sebagai satu-satunya wanita yang ia cintai. Chaerin merasakan tubuhnya seperti disengat listrik saat Sehun merengkuh tubuhnya dengan posesif.  Membuat jarak mereka terkikis. Tak perlu waktu yang lama untuk membuat Chaerin membalasnya. Ciuman itu membuat dada Chaerin meledak. Tanpa sadar air matanya keluar lebih deras, air mata yang sedari tadi dibendung ia luapkan semua. Ia meremas kuat ujung kemeja yang Sehun kenakan. Saat ini ia hanya ingin memeluk Sehun lebih untuk meluapkan seuatu rasa yang bergejolak di dadanya.

Meski sulit untuk membalas perasaannya. Akankah waktu dapat merubahnya?’

Chaerin melepaskan tautan itu. Tetapi hidung mereka masih saling bersentuhan. Sehun kembali melumat lembut bibir Chaerin. kali ini Chaerin tak membalasnya, ia hanya ingin merasakan sedalam apakah perasaan Sehun terhadapnya.

Gadis itu memeluk Sehun erat kemudian menangis lagi di dada bidangnya. Bahunya bergetar hebat sekarang. Ini tempat terbaik untuk meluapkan kesedihannya. Dada bidang yang selalu ada untuknya. Dengan sabar Sehun menepuk-nepuk punggungnya sambil menenangkannya. “Maafkan aku yang membuatmu banyak terluka,” bisik Chaerin. Sehun membelai rambut Chaerin sambil meletakkan dagu di bahu Chaerin. Ia suka Chaerin yang hanya bisa menunjukkan kelemahannya padanya.

Sehun memarkir mobilnya tepat di depan rumah Chaerin. Ia menatap Chaerin yang tengah duduk di sebelahnya. Ia melihat gadis itu tertidur, dengan jaket Sehun yang dijadikan selimut. Sehun mendesah panjang, bahkan disaat tidur seperti ini kenapa Chaerin terlihat begitu sedih?

Ia keluar dari mobilnya kemudian membuka pintu untuk Chaerin. Ia berusaha memapahnya. Chaerin tidak terusik sedikitpun saat Sehun berhasil menggendongnya. Mungkin gadis itu sangat lelah sampai-sampai tidurnya nyenyak.

Ia menoleh sebentar ke belakang. Ia merasa ada seseorang yang tengah mengamatinya. Ia menemukan seorang lelaki membelakanginya menyandar pada tiang listrik. Mungkin lelaki itu orang aneh yang sedang mabuk. Ia tak mau terlalu memikirkannya.

Sehun memencet bel, ia sedikit kesulitan karena posisinya yang sedang menggendong Chaerin. kemudian terdengar suara dari interkom, ia langsung saja mengatakan bahwa dirinya adalah Sehun. Lelaki itu membawa Chaerin masuk saat pagar rumahnya sudah terbuka. Ia meniti tangga yang menghubungkannya dengan pintu rumah Chaerin. Di depan pintu terlihat ibu dan ayah Chaerin terlihat sangat khawatir. Ayahnya mengusap muka dengan kasar sedangkan ibu Chaerin menangis sambil menutup mulutnya dengan seblah tangan.

“Aku yang bersalah tidak memperhatikannya,” rutuk ibu Chaerin menyalahkan diri sendiri.

“Jangan khawatir dia hanya tertidur,” ucap Sehun sambil menatap wajah Chaerin yang terlihat kuyu.

Kemudian Sehun membawa Chaerin ke kamarnya setelah ayahnya membukakan pintu. Ia membaringkan gadis tersebut kemudian menyelimutinya. “Terimakasih,” ucap ayah Chaerin sambil memeluk Sehun hangat.

“Aku harus pulang,” ucap Sehun sambil tersenyum tipis.

Sebuah suara menginterupsi mereka berdua, “Sehun, menginaplah. Ini sudah hampir subuh, kau bisa menempati kamar sebelah tempat kakak Chaerin.” Itu adalah ibu Chaerin yang masuk kamar Chaerin dengan membawa nampan berisi susu dan teh hangat.

“Tidak. Aku harus pergi sekolah esok,” tolak Sehun.

“Bisa kau temani Chaerin sehari saja? Kami tak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Kau mungkin satu-satunya yang bisa menghiburnya. Lagipula kau terlihat sangat lelah, tak baik berkendara dengan keadaan seperti itu.” Sehun akhirnya mengiyakan.

Sehun berada di kamar kakak lelaki Chaerin yang berada tepat di sebelah kamar Chaerin. kamar bercat biru tersebut banyak memajang action figure di etalase. Ada banyak foto Chaerin kecil bersama kakaknya. Ia tahu sekarang mengapa Chaerin sangat protektif kepada kakak lelakinya. Mereka terlihat saling melindungi satu sama lain.

Ada sebuah foto yang menarik perhatiannya. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang gadis  yang tertidur sedang dijahili oleh kedua adiknya. Ia tahu seorang gadis kecil menganakan bandana dan membawa lipstick itu pasti Chaerin. sedangkan bocah lelaki disebelahnya yang sedang memegang spidol adalah kakak lelaki Chaerin. Ia juga tahu pasti gadis yang sedang tertidur dan mukanya tercoreng terbut adalah kakak perempuan Chaerin.

Sehun terkekeh melihatnya. Ia ingat sekali bagaimana Chaerin menjelaskan jika kakak perempuannya itu manusia paling normal di keluarganya. Maka dari itu dia selalu menjadi sasaran kejahilan oleh Chaerin dan kakak lelakinya.

Sehun kemudian berbaring di kasur itu sambil menatap langit-langit. Merenggangkan badannya kemudian mencoba untuk tertidur. Entah kenapa walaupun orangtua Chaerin tidak dalam hubungan yang baik, ia tetap merasakan kehangatan keluarga Chaerin walaupun sedikit.

Sehun memandangi gadis dihadapannya itu. ia tidak bisa tidur dari tadi. Matahari sudah mulai menampakakan diri. Sedari itu pula Sehun duduk disini memandangi Chaerin yang sedang pulas. Ia menggenggam tangan Chaerin yang sedang tertidur.

Ia baru tahu Chaerin ketika tidur berbeda dengan Chaerin ketika terbangun. Gadis ini bahkan tidak bergerak sedikitpun saat tidur. Ia begitu tenang. Chaerin terlihat menggeliat pelan, mungkin sinar matahari yang masuk melalui celah-celah korden itu yang membuat Chaerin terbangun.

Morning!” ucap Sehun saat mendapati Chaerin sudah membuka matanya.

“Bagaimana kau bisa disini?” ucap Chaerin sambil mengusap matanya. “Kau tidak sekolah?” tanya Chaerin sehabis melirik jam yang ada diatas nakas.

“Orangtuamu yang mengizinkanku menginap. Sebenarnya aku disuruh tidur di kamar kakakmu, tetapi aku tidak bisa tidur. Aku ingin menemanimu hari ini bagaimana? Badanmu demam tidurlah.”

Heol!” ucap Chaerin datar.

“Aku tak melakukan apa-apa padamu. Aku hanya melihatmu tidur itu saja,” ucap Sehun.

“Serius? Kau tak melakukan apa-apa padaku?” tanya Chaerin menggoda Sehun.

“Benar bodoh memangnya kenapa?” ucap Sehun. “O-OH…., jangan-jangan kau! Tidak tidak aku tidak melakukannya. Ibumu yang mengganti bajumu.”

Heol!” kata Chaerin sambil terkikik dia lalu menjitak kepala Sehun. Membuat lelaki itu mengaduh. “Bukan itu maksudku, tetapi ini!” ucap Chaerin sambil mengangkat tangannya yang sedang digenggam Sehun.

Sehun dan Chaerin sedang duduk berhadapan di meja makan. Rumah sedang sepi karena ibu Chaerin baru saja pamit untuk membeli beberapa kebutuhan di supermarket. Sedangkan ayah Chaerin harus pergi pagi-pagi sekali untuk bekerja. Hanya ada bibi yang sedang mencuci piring di dapur.

Mereka menyantap sandwich yang dibuat ibu Chaerin sebelum berangkat ke super market tadi. Chaerin terlihat meneguk susunya kemudian menatap Sehun yang sedang mengunyah sandwichnya. Chaerin manatap Sehun lama. Lelaki itu kemudian balas menatap Chaerin dengan tatapan –ada apa dengan wajahku?

Tak berselang lama rentetan bunyi panjang keluar dari ponsel Sehun. Ia terlihat menghentikan aktivitas makannya dan Chaerin melanjutkan makannya. Ia terlihat menggesar layar ponselnya itu. ditemukannya puluhan chat yang belum terbaca dari anggota Caramelo.

“Mereka khawatir padamu. Balaslah, setidaknya bilang kau baik-baik saja,” ucap Sehun sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Chaerin menggeleng pelan, wajahnya berubah menjadi murung.

“Letakkan,” ucap Chaerin yang tak suka melihat Sehun memandangi ponselnya terus menerus. “Tetaplah disini.”

Sehun mengalihkan pandangannya menatap manik Chaerin. “Aku harus pulang sehabis sarapan,” ucap Sehun lalu menenggak susu hangatnya.

“Aku ingin kau disini sedikit lebih lama lagi. Kau dan aku, kita berdua.” Ucap Chaerin sambil menatap lekat mata Sehun. “Aku ingin kau menghabiskan waktu denganku. Aku membutuhkanmu.” Chaerin menggenggam tangan Sehun yang berada diatas meja, saling menautkan jarinya pada jemari Sehun. Membuat dada Sehun mencelos.

Lelaki itu tersenyum tipis kemudian mengiyakan permintaan Chaerin. “Makanlah kita lalu kita bisa nonton film bersama.”

Chaerin sudah bisa bersekolah esoknya. Ia terlihat baik-baik saja. Bahkan terlihat lebih ceria daripada biasanya. Membuat Seulgi yang berada disampingnya heran.

Bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Chaerin segera memasukkan bukunya ke dalam tas sambil bersenandung kecil. Seulgi yang berada di sampingnya heran kepada Chaerin yang tak biasanya bersandung seperti itu.

“Apakah kau baik-baik saja? Kau sakit?” tanya Seulgi sambil membuka bungkusan kripik kentang.

“Ya aku baik-baik saja.” kata Chaerin. “Memangnya kenapa?” kata Caerin yang kebingungan karena ditanya seperti itu.

“Tidak biasnaya kau bersenandung seperti itu. Apakah kau benar baik-baik saja?” kata Seulgi sambil mengunyah kripik kentangnya. Chaerin mengangguk mantap di sebelahnya.

Seorang teman sekelas Chaerin yang bertubuh gembul berambut cepak itu berteriak keras memanggil Chaerin, “Kwon Chaerin ada yang mencarimu!”

Chaerin menemukan Sehun sedang bersandar di pintu depan kelasnya. Kemudian Chaerin mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar yang membuat Sehun menyeringai.

Seulgi terperenjat saat mendapati Sehun sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Wajah kebingungan terpampang sudah. Chaerin kemudian menghampiri Sehun kemudian meninggalkan Seulgi yang masih dipenuhi tanda tanya. Tidak bisanya Chaerin bersikap seperti itu dan satu lagi ia tidak pernah ingat bahwa Chaerin dan Sehun sedekat itu. bahkan Seulgi melihat Sehun memegang pundak Chaerin. Ia khawatir dengan hubungan Kyungsoo dan Chaerin. sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Sepanjang koridor banyak pasang mata yang melihat Sehun dan Chaerin berjalan berdua. Chaerin melipat tangan didepan dada dan Sehun yang memegang pinggang Chaerin. Terlihat mereka sesekali tertawa atau Chaerin yang memukul lengan Sehun karena candaannya.

Gosip tentang Chaerin dan Kyungsoo yang bertengkar belum mereda bahkan masih dalam tahap panas-panasnya. Bahkan gosip Chaerin yang katanya pernah mencampakkan Chanyeol masih santer beredar. Sekarang Chaerin tengah bermesraan dengan Sehun, pasti setelah ini ada gosip tidak mengenakan yang diterima oleh telinga Chaerin.

“Kwon,” panggil Sehun sambil memegang puncak kepala Chaerin.

“Wae?” tanya Chaerin sambil menatap wajah Sehun dengan mendongakkan kepalanya karena tinggi Sehun yang melebihinya.

“Tidak apa,” ucap Sehun kemudian tersenyum jahil kepadanya. Lelaki itu kemudian berlari karena takut kena pukul.

 “Ya! Oh Sehun! Awas kau!” teriak Chaerin dengan suara yang melengking. Ia kemudian berlari menysul Sehun yang sudah jauh darinya.

Murid yang berlalu lalang memandang mereka yang berkejaran di lorong sekolah. Membuat kerumunan siswa yang berjalan di tengah koridor mau tak mau harus membelah gerombolan menjadi dua saat Sehun dan Chaerin berlarian di koridor.

—-

—-

Kantin tidak begitu ramai. Mungkin karena ada pertandingan sepak bola di gedung olahraga. Hanya beberapa anak saja yang benar-benar lapar atau yang tidak tertarik dengan sepak bola tetap berada di kantin atau tempat lainnya di sekolah.

Contohnya Seulgi, Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di tempat biasa. Mereka memandangi Sehun dan Chaerin yang sedang duduk di meja disudut ruangan. Mereka masih menatap mereka berdua dengan tatapan bertanya.

Chanyeol terdengar menghembusan nafasnya dengan kasar. Disusul dengan Baekhyun yang mendesah menyerah dan Seulgi yang menatap mereka bergantian sambil meletakkan dahinya di meja.

“Ada apa ini? Kenapa rencana kita menjadi kacau balau?” kata Seulgi sambil mengehentak-hentakkan kakinya dilantai.

“Ini semua salah Kyungsoo! Aku bahkan melihat Chaerin turun dari mobil Sehun tadi pagi,” kata Chanyeol sambil mengacak rambutnya.

“Tetapi aku tidak yakin Chaerin tipe orang yang asal terima jika ada lelaki yang mendekatinya,” kata Baekhyun.

“Mungkin ia terlalu sakit hati tentang omongan Kyungsoo waktu itu. Percuma Kyungsoo adalah manusia terkaku yang pernah aku temui,” jawab Chanyeol. Seulgi mengangkat kepalanya kemudian mengangguk lemas.

“Aku tahu Chaerin sangat baik. Ia akan berubah jika ada sesuatu yang menyakiti perasaannya. Kalian ingat ‘kan aku pernah cerita tentang guru bahasa Inggris yang mengatainya? Sekarang lihatlah peringkatnya di kelas selalu lima besar sejak kejadian itu.” kata Seulgi berhipotesa.

“Kyungsoo akan menyesal menyiakan gadis sehebat Chaerin.” Kata Baekhyun.

“Kuarasa Kyungsoo sebenarnya menyukai Chaerin. Kau tahu ‘kan rasa gengsi Kyungsoo tinggi dan sebenarnya di kurang peka dengan dirinya sendiri? Ia terkadang tidak memahami apa yang sebenarnya diinginkan hatinya,” kata Chanyeol.

“Kejadian yang lalu masih terngiang di kepalaku. Saat kita mengendap melihat pertengkaran mereka kemudian Chaerin memaki tepat di wajahnya dengan mengatakan seluruh isi hatinya. Itu benar-benar menakutkan. Kalian tahu ‘kan sampai Kyungsoo tak bisa menjawab apapun.” ucap Baekhyun sambil memejamkan mata.

“Kenapa Kyungsoo dan Chaerin yang sedang ada masalah. Kenapa aku ikut merasakan sedih? Seolah hatiku juga ikut menangis,” kata Chanyeol.

“Kau benar-benar sedih sekali, eoh? Sampai tata bahasamu hancur.” Kata Seulgi sembari menyipitkan matanya.

Chen yang sedari tadi menyimak kemudian terlihat bergabung dalam topik ini, “Kurasa yang membat Kyungsoo menjauh adalah nenek lampir itu. Kau tahu ‘kan dia suka menyebarkan berita-berita hoax. Menurutku bisa saja Kyungsoo sudah menerima doktrin dari Jiyeon. Kalian sudah lama mengenal Kyungsoo ‘kan? Dia sangat mudah dipengaruhi dnegan hal-hal seperti itu.”

“Bisa saja, Sehun mempunyai banyak teman dikelasnya. Mungkin saja Jiyeon menguping pembicaraan Sehun dan teman-temannya. Apalagi sejak Chaerin dekat dengan Sehun mereka sering bertemu di club Sehun,” ucap Baekhyun sambil memajuan kepalanya.

Heol!” ucap Seulgi. “Aku tidak tahu jika pria bisa menggosip sehebat ini.”

“Tunggu tunggu… kau bilang Chaerin suka datang ke Club?” ucap Chanyeol yang was-was. “Benarkah yang dibicarakan sekolah saat ini benar tentang Sehun dan Chaerin?” tanya Chanyeol.

“Tidak… tidak… Chaerin bukan orang seperti itu,” ucap Seulgi terkekeh sambil mengibaskan tangannya. “Dia tak pergi ke club untuk itu. Memang sih saat weekend Chaerin ke club tetapi aku baru tahu saat Chaerin bercerita padaku-“

“Katakan saja bodoh membuatku penasaran!” ucap Chen yang menggebu.

“Chaerin kesana untuk sekedar bermain game PC atau PS bersama Sehun!” ucap Seulgi sambil menggerutu tak jelas. “ Kata Chaerin ia sangat suka dengan pengawal botak disana. Pengawal itu yang biasa menjaga Chaerin saat berada disana. Bahkan Chaerin tidak lewat pintu utama. Dia lewat pintu samping katanya.” Jawab Seulgi.

“Aku baru tahu kalau di club ada tempat seperti itu,” ucap Baekhyun.

“Sehun yang memodifikasinya. Karena Sehun tidak suka rumah katanya. Ia pergi ke rumah hanya untuk tidur. Ia mengubah salah satu privat room disana menjadi gudang game,” ucap Seulgi lagi.

“Gila! Bahkan aku baru tahu Chaerin suka bermain game PC.” Chanyeol menimpali.

Disisi lain Sehun dan Chaerin sedang berbincang sambil mengyunyah makanannya masing-masing. Mereka terlihat serius dengan topik yang sedang mereka bahas.

“Kau harus berhati-hati,” ucap Sehun sambil memberi kacang polong miliknya pada Chaerin.

“Ya, berhenti menyuruhku memakan kacang polong.” Ucapnya sambil memukul tangan Sehun yang membuat lelaki itu melotot tajam ke arahnya. Chaerin memutar bola matanya, kebiasaan Sehun yang  tidak terlalu suka kacang polong.

“Kau ingat berandal yang bertengkar denganmu?” tanya Sehun sambil memainkan sumpitnya.

“Iya memangnya kenapa? Mereka sudah tidak berhubungan ‘kan dengan yakuza itu?” ucap Chaerin sambil mengunyak kacang polong yang Sehun berikan.

“Ya benar, tetapi tadi mereka memperingatkanku tentang sesuatu.” Ucap Sehun kini berubah menjadi serius. Chaerin berekasi dnegan mnaikkan kdua alisnya. “Mereka beberapa hari ini melihat mobil kelompok yakuza itu terparkir di depan sekolah. Mungkin mereka sedang mengincarmu.”

“Tidak mungkin.” Wajah Chaerin menunjukkan keterkejutannya. Antara percaya atau tidak, tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu khawatir.

“Jangan melakukan hal bodoh seperti kemarin lusa. Jaga dirimu baik-baik, bisa saja mungkin memang mereka mengincarmu. Mereka masih dendam dengan kalian soal kejadian itu.”

“Itu sudah hampir sebulan yang lalu, tidak tidak hampir dua bulan. Lagipula mereka salah mencari musuh, bagaimana bisa mereka mencari masalah dengan ahli bela diri? Baekhyun sudah banyak menerima medali begitupula dnegan Chanyeol. Seulgi tahun ini mengikuti seleksi atlet nasional dan aku menggelutinya sejak SD. Bagaimana bisa?” ucap Chaerin sambil tertawa.

“Lelaki itu juga mantan atlet nasional –Do Kyungsoo katanya adalah mantan atlet nasional berhenti karena cidera. Aku tidak mengerti bagaimana bisa kalian bisa berkumpul seperti itu. Seperti perkumpulan Avangers,” ucap Sehun.

“Aku tak ingin membahas orang itu untuk saat ini.” Chaerin terlihat kembali menyantap makananya. “Kau juga pandai dalam bertarung.” Chaerin berkata setelah menelan nasinya.

“Itu hanya insting seorang lelaki. Tak ada kemampuan khusus,” ucap Sehun sambil terkikik. “Sebentar lagi turnamenmu dimulai. Sepertinya kejadian lusa membuat lenganmu cedera. Periksalah ke rumah sakit akan aku temani.”

“Tidak aku tak apa. Lenganku baik-baik saja,” kata Chaerin membantah.

“Baikah… hanya saja, jaga dirimu baik-baik.”

Perasaan Chaerin saja atau bagaimana yang pasti yang dirasakannya adalah waktu semakin cepat berlalu. Libur musim panas sudah dimulai. Sudah lama Caramelo tidak berkumpul dan malam ini Chanyeol mengundang semuanya untuk berkumpul seperti biasa.

Maklum saja itu dikarenakan sibuknya murid di akhir semester. Sehun memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Chanyeol. Chaerin terlihat keluar dari mobil Sehun dengan mengenakan kaos dan celana pendek berwarna hitam dan denim jacket oversized sebagai luaran.

Sehun mebghampiri Chaerin sambil mengulurkan tangannya kepada gadis itu. Chaerin terlihat menatapnya tak lama kemudian ia setuju menautkan tangannya.

“Kau tidak seharusnya memakai pakaian sependek itu,” ucap Sehun sambil memandangi Chaerin dari atas ke bawah.

“Bukannya kau senang jika aku memakai baju seperti ini. Kukira kau akan suka,” ucap Chaerin sambil menyikut perut Sehun. Matanya terlihat mengedip nakal.

Sehun menjawab cepat, “Suka sih…, tapi-“ perkataan Sehun terpotong. Sehun mengaduh kesakitan saat Chaerin mencubit perutnya.

“Dasar.” Chaerin melempar senyum kemudian kembali menggerutu kepada Sehun.

Langkah kaki yang menuruni tangga membuat perhatian anggota Caramelo teralih. Mereka mendengar suara cekikan antar pria dan wanita, sampai-sampai membuat sebelah alis Seulgi terangkat.

Tawa Sehun dan Chaerin seketika berhenti setelah melihat anggota Caramelo memandangi mereka dengan kaget. Chaerin dan Sehun sukses membuat Baekhyun dan Chanyeol terperangah. Sedangkan Seulgi hanya membulatkan matanya. Pemandangan ini sungguh sangat canggung bagi mereka semua.

“O-ohh.. Chaerin! kau datang!” ucap Chen yang membuyarkan kecanggungan ini. Seulgi kemudian membenarkan posisi duduknya di sofa dan menatap Sehun dan Chaerin dengan canggung.

Terlihat Baekhyun, Chanyeol, Chen, beserta Kyungsoo duduk di meja panjang dekat sofa. Manik mata Kyungsoo kedapatan menatap Chaerin. Sorot matanya begitu dingin membuat bulu kuduk Chaerin meremang.

Chaerin menatap Sehun lekat sekolah dari tatapan itu Chaerin bisa berkata ‘Hun-a tolong selamatkan aku’

“A-a… ya duduklah.. aku sudah memesan pizza,” kali ini giliran Chanyeol yang membuka suara.

Kriett…

Suara kursi yang beradu dengan lantai menggema saat Kyungsoo tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus kulakuan.” Ia bicara dengan nada datar yang tidak dapat diterka oleh siapapun.

Tangan Chanyeol terangkat sedang mulutnya menganga. Berusaha mencegah Kyungsoo pergi tetapi tak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Kyungsoo sudah berada jauh sambil menyaut jaketnya.

“Kau menghindariku?” tanya Chaerin saat Kyungsoo berada tepat dihdapannya. Langkah lelaki itu terhenti, meta bulatnya menatap wajah Chaerin, membuang muka kemudian. Sehun menatap Chaerin yang jauh lebih pendek darinya tersebut.

“Bukan urusanmu,” ucap Kyungsoo, sekejap atmosfer di ruangan ini mendadak dingin dan tegang. Chen dan Baekhyun terlihat berpandangan. Sedangkan Seulgi tak sadar telah berhenti bernafas selama beberapa puluh detik.

Chaerin tertawa sumbang sambil membuang muka, tautan tangannya dengan tangan Sehun masih melekat dengan kuat. “Benar, kau tidak pernah peduli denganku.”

“Jangan ikut campur urusan orang lain. Urusi saja pangeranmu itu. Berciuman di area sekolah saat dini hari. Sejauh apa yang telah kalian lakukan?” ucap Kyungsoo hilang kendali. Perkataan itu sukses membuat Chaerin tertohok.

‘Dia melihatnya. Bagaimana bisa?’

Sehun menarik Chaerin untuk berada belakang badannya. Wajah Sehun terlihat begitu merah, dikarenakan amarah. “Kau tak berhak berbicara seperti itu padanya!” Tubuh Sehun yang tinggi sama sekali tidak membuat Kyungsoo terintimidasi sedikitpun.

“Wowww… woww…. tenang. Tenang bung!” kali ini Chanyeol menengahi. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Chanyeol baik-baik. Seperti tembus pandang, tak ada dari kedua lelaki ini yang menjawabnya.

“Lagi pula kalian tidak berusaha untuk mengelak bukan?” ucap Kyungsoo dengan nada sinis. Rahang Sehun seketika menutup rapat, menahan untuk tidak melayangkan sebuah bogem mentah kepada pria dihadapannya ini. Sedangkan Chaerin masih berlindung di belakang Sehun, wajahnya terlihat kosong. Seperti raga tanpa jiwa.

“Apa benar kalian berkencan?” tanya Seulgi takut-takut. Ia menelan ludah dengan kasar sesudahnya. Baekhyun dan Chen menghampiri Seulgi yang masih duduk di sofa. Seperti yang sudah-sudah tak ada yang menjawab jawabannya.

“Kalian terlihat menikmatinya bukan? Malam itu.” kata Kyungsoo sambil menatap lekat wajah Sehun.

Sehun yang naik pitam langsung menyambar Kyungsoo dengan perkataannya, “Kau baru saja mengurusi urusan orang lain! Hey, dengarlah tutup mulutmu, brengsek! Kau tak tahu apa-apa!”

Sehun hampir saja menonjok rahang Kyungsoo jika Chanyeol tak sigap untuk menahannya. Kyungsoo masih berwajah tenang. Sedangkan Sehun masih memerah.

“Setidaknya perlakukan dia layaknya seorang perempuan. Kau sama sekali tidak pernha menghargainya bahkan kau melukainya dengan perkataanmu! Sadarlah!” ucap Sehun menekankan setiap kahir kalimatnya.

“Apa aku sal-“ perkataan Kyungsoo terputus.

Geumanhae,” suara itu kecil tapi tak bergetar sedikitpun. “Aku tak mau dengar lagi. Kyungsoo-ssi pergilah, aku tak ingin melihat wajahmu.” Chaerin, gadis itu tertunduk. Sehun menatapnya dengan iba, semua mata tertuju hanya padanya.

Tak lama kemudian Kyungsoo meninggalkan tempat itu. tangan Chaerin yang berada di genggaman Sehun bergetar. Sehun, wajahnya berubah menjadi khawatir kemudian pundak kecil itu ia rangkul. Sehun tak habis pikir jika Kyungsoo bisa mengatakan hal seperti itu kepada Chaerin.

Chanyeol, Chen, Baekhyun serta Seulgi masih menatap kepergian Kyungsoo. Pertengkaran yang terjadi tadi sangat buruk. Bahkan yang lain tak tahu apa penyebab pasti dari tegangnya hubungan ketiga manusia tersebut.

Chaerin merasa sesak di dadanya, membuatnya menghirup udara dengan rakus kemudian menghembuskannya, badannya berguncang lembut saat menghembuskannya.

Mereka mungkin masih terlalu muda untuk mengerti apa yang harus dilakukan dan tidak. Mereka mungkin terlalu muda untuk dapat mengerti apa yang diinginkan hati mereka. Menyedihkan.

Malam itu, malam dimana Sehun meminta Kyungsoo membantunya mencari Chaerin. Kyungsoo yang merasa frustrasi segera memacu motornya dnegan cepat ke arah sekolah. Disana ia melihat mobil Sehun sudah terpakir.

Saat itu pula ia berlari secepat mungkin untuk dapat memastikan keadaan Chaerin. tetapi harapannya pupus ketika melihat Sehun dan Chaerin duduk berdua di atas lapangan tenis.

Ia melihat semuanya. Saat Sehun mencium serta mendekap erat Chaerin. Saat Chaerin membalas ciuman tersebut. Ia melihat sebuah ciuman yang tak pernah terbayangkan. Wajah khawatirnya berubah datar.seperti raganya sudah melelah entah kemana, ia merasakan jika tubuhnya lebih ringan entah dalam artian baik atau buruk.  Kehadirannya tak pernah disadari oleh Chaerin dan Sehun.

Dengan langkah berat Kyungsoo meninggalkan tempat itu dengan membawa pulang rasa yang tak jelas terbaca oleh dirinya sendiri. Sebuah rasa yang mengganjal di dadanya, hanya itu yang ia tahu. Ia begitu terlambat.  Dia mungkin masih terlalu muda untuk dapat menerka hatinya. Menyedihkan.

Dengan langkah gontai Chaerin berjalan menuju halte bus. Walaupun jarak yang cukup jauh dari rumah Chanyeol, ia berjalan. Menundukkan kepala sambil memandangi ujung sepatunya yang terus bergerak adalah hal yang bisa dilakukannya dalam situasi ini. Ia tak pernah tahu jika sakit di dadanya begitu menyiksa, membuat dirinya seakan ingin muntah.

Hari sudah malam, terlihat dari langit yang sudah berubah warna menjadi gelap serta munculnya beberapa bintang di beberapa sisi. Jalanan di komplek rumah Chanyeol terlihat lengang dan tidak banyak orang yang lewat. Ia menghentikan langkah ketika berada di depan sebuah rumah. Ia memandang ke atas, menatapnya dengan nanar. Berharap Kyungsoo melihatnya dari kamarnya. Tetapi itu mustahil.

Ia kembali melanjutkan langkahnya sambil bergumam dan tertawa seorang diri. Orang-orang mungkin menyebutnya gila. Kali ini ia mencoba memperlebar langkahnya.

Srak…srakkk…srak…

Langkah ganda terdengar oleh Chaerin. Ia merasa ada yang mengikuti langkahnya saat ini. Ia sedikit menengok ke belakang dan ia menemukan seorang lelaki bertubuh tinggi mengenakan jaket hitam bertudung sedang mengikutinya di belakang. Ia tidak begitu gelisah saat ini. Ia malah sudah tahu apa yang harus dilakukan jika orang tersebut mendekat.

Chaerin menghentikan langkahnya setelah memasuki sebuah gang buntu yang amat sepi. Mungkin hanya ada beberapa tikus atau kecoa disana. Lelaki itu masih mangikutinya, saat Chaerin berhenti lelaki itu juga berhenti. Dengan cepat dan tanpa aba-aba Chaerin membalikkan tubuhnya kemudian mencoba memukul wajah lelaki itu.

Sayangnya tak tiknya kurang perhitungan. Membuat pukulannya tidak tepat sasaran. Ia masih menimbulkan jarak beberapa centi dari wajah targetnya. Chaerin meringis karena ia merasa pundak kanannya sangat sakit dan perih. Seperti ototnya telah robek. Lelaki itu menyeringai dari sorot matanya kemudian meraih tangan Chaerin dan memeluntirnya ke belakang tubuh Chaerin yang membuat Chaerin mengumpat.

“Sialan!” umpat Chaerin sambil menahan sakit yang menjalar dari satu titik ke seluruh tubuh. Lelaki itu tertawa di belakangnya sambil etrus mengunci gerakannya. Chaerin tidak tahu pasti tetapi ia merasakan lelaki itu yang membekap mulutnya dan hidingnya menggunakan sebuah kain.

“Ahah…, hahh…,” Chaerin berusaha meraup oksigen yang menipis karena bekapan lelaki itu. Tetapi ia merasakan tubuhnya melemah serta pandangannya gelap dan ia hanya melihat satu titik cahaya yang kabur. Sebelum pada akhirnya ia terkulai lemas didekapan lelaki asing itu.

To Be Continue…

Halo kembali lagi dengan Shuu! Aaaa…. ini part tersulit sejauh ini. Ini juga pertama kalinya nulis kiss scene. Aku malu…. gimana gimana? Part ini emang kebanyakan tentang Sehun-Chaerin. Tulis komen kalian aja ya… jangan lupa like, komentar dan promosiin Caramelo ke temen-temen juga boleh. Ditunggu komentarnya ya…

Advertisements

Author:

Sedang tidak produktif, karena ide yang saya pesan di OLX dan dikirim melalui JNE lagi nyasar entah kemana

21 thoughts on “Caramelo pt. 14

  1. Kyung bukan gk peka hanya selalu terlambat menyadari. Maafkan saya, tapi saya kesal pas adegan chaerin sama sehun. Eum, yakuzanya balik ya, woho actionnya balik lagi. Caramelo mulai beraksi

  2. Hallo author, udah lama aku baru baca ini lagi. Sebenernya aku sebel sama kyungsoo, dia ga peka banget. Tapi harusnya dari kejadian itu dia nyadar sama perasaanya. Dia juga mulai cemburu. Wkwkwk

    1. Disi manakah kamu? Sisi Chae-Kyung atau sisi Hun-Chaeng? Makasih ya btw udah baca dan komentar. Tunggu part Caramelo selanjutnya ya…

  3. huwaaaaaaa tanpa sdar aku baca ini smpai nahan nafas😌
    hah hebat ini ff bkin aku penasaran, hehehe apalagi liat kyungsoo.
    semoga ada yang nolongin chae, aku harap kyung atau sehun yg nolongin, mgkinkah itu klompok yakuza?? huwaaa makin penasaran.

  4. Kenapa daku tidak bisa komen do chap.15ㅠㅠ
    Diriku nangis bener baca chap.15 huaaa:'(( chaeng,,,, yang tabah yaa;’))
    Uuuh udah mau end aja, bakal kangen sama cerita ini:’))
    Btw, kita sama lo aku juga masuk SMA (gak ada yg tanya-,-😂)
    Ditunggu next part yaa, intinya part 15 bikin baperㅠㅠ Fighting!😊

    1. Halo bibble! Ahehehehe… untung kamu bilang. Aku jadi udah benerin kotak komentarnya buat muncul wkwkwkwk… Lumayan lama lo Caramelo ini… udah setahun sejak teasernya keluar betapa lemotnya diriku untuk menulis ㅠㅠ

      Ciyeee samaan, btw kamu 01L apa 02L? Kalo aku 01L wkwkwk…. Oke part 16nya dalam proses pengetikan. Makasih udah baca+Komentar 💕💕💕

      1. Tapi kamu bakat banget buat bikin cerita, bahasa yang kamu buat rapi dan bikin tertarik buat baca😍 aku aja gak bisa bikin beginian wkwkw

        Aku 01L hehe, samaan juga wkwkwk… Dan aku gak nyangka diriku tuh udah mau SMA, perasaan baru kemaren masuk SMP eh sekarang udah SMA aja wkwk

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s