Posted in Author Tetap, Comedy, D.O FF Indonesia, Drama, Fanfiction, Friendship, Multichapter, PG-15, School Life, Shuu

Caramelo pt. 13

 caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi, Chen, Sehun and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Sorry for typo(s). Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

Teaser: Pt. 1Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Shuu’s Present this story

“Anway, take care of yourself”

Melihat Chaerin murung sepertinya hal yang buruk. Kakinya yang terkilir mungkin alasannya bersikap seperti itu. Ia murung karena tidak bisa bergerak dan berpindah tempat sesuka hatinya.  Membuat Chaerin kembali ceria mungkin satu-satunya tujuan mereka saat ini. Mereka mempunyai ide gila. Dengan membawa troli dari klub tennis mereka menuju ke kelas Chaerin. Walau pada awalnya mereka harus terkena omelan karena membuat bola tennis berserakan.

“Chaeng-a!” panggil Bakhyun dari ambang pintu. Chaerin yang duduk di bangkunya sambil menopang dagu itu memandang Baekhyun dengan malas. Bukan saatnya main-main pikirnya. “Hey, tidak seharusnya kau murung!”

Kemudian Chanyeol, Seulgi dan Chen menampakkan diri mereka satu persatu. “Ayolah Chaerin! sampai kapan kau murung seperti itu?” kali ini Chen buka suara.

Chaerin mendengus sambil menggoyangkan seblah kakinya yang tidak terkilir. “Kami juga mempunyai kejutan untukmu!” kata Seulgi. Ia kemudian mendorong Kyungsoo, membuat lelaki itu menggerutu. Tetapi langsung saja Seulgi mencubitnya.

Wajah Chaerin kali ini tambah suram dari yang biasa. “Ayolah Chaeng, maafkan dia!” Sehun muncul dengan memasukkan saku ke celana.

Chanyeol terlihat memelas, “Maafkanlah dia! Maklumi dia, dia ‘kan bodoh.”

“Maafkan aku, Kwon.” Ucap Kyungsoo dari ambang pintu dengan lirih. Kemudian Seulgi mendorong badan Kyungsoo. Kyungsoo refleks melotot ke arah Seulgi. Kemudian Seulgi mengibaskan tangannya meminta Kyungsoo untuk menghampiri Chaerin.

“Kwon, maafkan aku ya! Ayolah. Aku sungguh tidak tahu.” Masih ingatkah kalian tentang kejadian tersebut. Tentang Kyungsoo yang memberikan bunga kepada Chaerin. Ternyata bunga itu memiliki arti berduka. Lucu bukan? Baru kali ini melihat Kyungsoo memohon.

Chaerin memandang Kyungsoo dari atas sampai bawah. Merasa jijik sekaligus ingin menahan tawa karena wajah Kyungsoo yang memperlihatkan ekspresi yang berbeda dari yang biasanya. “Chaerin mau tidak?” tanya Kyungsoo.

“Mau apa?” ucap Chaerin sambil mengerutkan dahi.

“Memaafkanku.”

“Baiklah… baiklah,” ucap Chaerin. “Melihatmu memohon adalah hal yang tidak ingin kulihat lagi seumur hidupku.” Kyungsoo menunjukkan eksprrsi leganya untuk beberapa sebelum Chaerin menyelanya, “Tapi ada satu syarat! Belikan aku susu pisang.”

Chanyeol, Bakehyun, Seulgi, Chen dan Sehun tertawa mendengar penuturan Chaerin. Mereka tergelak untuk beberapa saat.

“Gampang, dia akan memberimu satu kardus!” ucap Sehun sambil tertawa. Kyungsoo melotot ke arah Sehun seperti ingin menerkamnya. Tapi Sehun memperlihatkan wajahnya yang pura-pura tidak tahu menahu.

“Ayo ke kantin! Aku akan menraktir kalian tteokboki.” Boss Sehun, sepertinya akan menraktir mereka merayakan Chaerin yang kembali mempunyai mood yang bagus.

“Aku bagaimana?” protes Chaerin.

“Sebenarnya kami bisa saja menyuruh Kyungsoo atau Sehun menggendongmu. Tapi kami tahu ini sekolah jadi kami menyiapkan sesuatu,” ucap Chen.

Sehun dan Kyungsoo saling pandang mendengar penuturan Chen. Kemudian Chanyeol mendorong sebuah troli. “Kami butuh pejuangan untuk mendapatkan ini kau tahu?”

“Maksudmu aku naik ini?” ucap Chaerin. Ia terlihat antusias kali ini.

Mereka berjalan melewati lorong dengan tatapan aneh para murid. Chaerin snagat antusias, ia terus mengembangkan senyumnya dan mereka pun saling melempar candaan satu sama lain. Menurutnya, walaupun ide ini gila tetapi naik ke troli seperti ini menyenangkan. Seperti kembali ke masa kecil saat ibumu mendudukkanmu ke troli belanjaan bersama tumpukkan barang yang lain. Tak jarang kau memakan belanjaan ibumu bukan? Entah kenapa Chaerin sedikit merindukan masa-masa itu.

Satu lagi yang perlu kalian tahu, semakin hari Sehun semakin dekat dengan yang lain berkat Chaerin. Walaupun Kyungsoo dan Sehun masih terlihat canggung

Chaerin dan Kyungsoo yang sudah baikan duduk di bangku taman sambil meminum susu pisang. Mereka saling diam menikmati minuman masing-masing. Chaerin menerawang memandang bunga sakura yang mulai rontok. Tak terasa musim semi akan berakhir. Rasanya baru kemarin Chaerin bernyayi untuk Kyungsoo.

“Terimakasih,” ucap Chaerin kemudian memandang Kyungsoo. Lelaki itu terlihat bingung. “Terimakasih untuk kemarin. Aku menghargainya, kau telah berusaha. Itu sebuah kemajuan.” Chaerin tersenyum kepada Kyungsoo.

“Cepat habiskan minumanmu. Sebentar lagi masuk,” ucap Kyungsoo.

“Masakan ibumu enak. Banyak seklai yang kau bawa kmarin, aku menghangatkannya tadi pagi untuk sarapan. Ucapkan terimakasih kepadanya.”

Yya! Kenapa kau ini?”

Chaerin menyelipakan tangannya ke lengan Kyungsoo. Kyungsoo emmandang Chaerin tidak mengerti. “Aku akan menikmati ini. Jarang-jarang kita bisa akur.”

Mereka lalu terdiam lagi. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Atau saling menikmati suasana ini. Semilir angin yang datang dan pergi,  sinar matahari yang hangat. Chaerin menyukainya, ia akan berusaha mengingat ini. Entah kenapa ia hanya ingin mengingatnya. Ia juga ingin mengingat kehangatan Kyungsoo. Sebentar saja.

Akhir-akhir ini, hubungan mereka tidak terlihat baik. Mungkin beberapa hari atau mungkin beberapa minggu ini . Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo dengan Chaerin. Mereka terlihat semakin menjauh, walaupun mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar dekat satu sama lain. Kyungsoo terlihat menghindar saat melihat Chaerin. Jika Chaerin berkumpul dengan anggota Caramelo ia akan memilih duduk bersama wakilnya –kau tahu siapa gadis yang dimaksud ‘kan?

Tidak ada yang tahu pasti alasan dibalik sikap Kyungsoo yang semakin dingin kepada Chaerin. tetapi yang jelas Kyungsoo terlihat menghindar saat ia semain sibuk dengan kegiatan OSIS-nya. Gadis itu terlihat sangat tersiksa dengan keadaan tersebut, walaupun hanya Sehun saja yang mengetahui perubahan sikap Chaerin.

Chaerin tengah duduk di bangku di ujung kantin bersama yang lain. masih ingatkan dengan cara berpakaiannya? Seperti biasa rambut ombre-nya ia bentuk menjadi sanggul kecil dan sepasang sumpit bertengger manis diatasnya. Serta tak lupa yang menjadi ciri khasnya adalah celana olahraga yang ia gulung selutut dengan rok kotak-kotak setelahnya.

Seperti biasa ia memesan Shin ramyun dengan telur. Sebenarnya ia sudah berhenti makan ramyun sejak ia akan mengikuti olimpiade tennis. Tetapi olimpiade itu telah lama berakhir. Untuk rencana kedepannya mungkin Chaerin harus fokus ke sekolah.

“Dimana Kyungsoo?” tanya Baekhyun sambil memakan tteokbokki-nya.

Sambil meminum sodanya Seulgi menjawab, “Dia bilang ada rapat bersama anggota OSIS lainnya.” Jika kalian tanya Chanyeol dan Chen sedang apa. Mereka berdua sedang bermain game PC dengan sebuah konsol di tangan masing-masing.

Chaerin masih berkonsentrasi pada ramyunnya. Gulungan rambutnya sudah terlepas karena sumpit yang menjadi penahannya telah ia gunakan untuk memakan ramyun.

Ia merasakan panas saat memasukkan ramyun di mulutnya. Ia mengipas mulutnya dengan tangannya. “Pelan-pelan Chaengie-ya!” ucap Seulgi dengan wajah yang menunjukkan betapa prihatinnya ia kepada teman bodohnya itu.

Saat itu, Chaerin melihat Kyungsoo berjalan membawa sebuah map. Dengan refleks ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Berusaha mengalihkan perhatian Kyungsoo kepadanya. Kyungsoo melihatnya, mata mereka bertemu satu sama lain. tetapi sayangnya, dia berpaling. Tanpa menoleh kepada Chaerin lagi, memilih duduk bersama Park Jiyeon, sang wakil. Tangannya langsung melorot kebawah. Ia tak menyadari, ia tak melihat jika ada Park Jiyeon. Kemudian melanjutkan makanan seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya juga tak menunjukkan apapun.

Baekhyun, Seulgi, Chanyeol, Chen saling berpandangan. Tak tahu apa yang terjadi, hanya rasa khawatir yang terpancar dari mata masing-masing.

“Aku sudah lama tidak makan ini,” ucap Chaerin dengan mulut yang penuh dengan kuning telur.

“Hei babi, telan dulu baru berbicara, jorok tahu,” ucap seseorang kepada Chaerin. orang tersebut adalah Sehun, ia menunjukkan senyum terbaiknya seolah ia baru saja menyikat gigi. Kemudian ia mengikatkan rambut Chaerin yang hampir-hampir membaur bersama kuah ramyun.

“Sehun-a, anjja!” kata Chaerin sambil menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. Senyumannya mengembang saat menemukan Sehun berdiri di dekatnya.

“Aku bukan anjing peliharanmu!” Entah mengapa walaupun ia berkata demikian ia tetap menarik kursi dan duduk di sebelah Chaerin.

“Hei Bro!” sapa Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sepertinya pertandingan sedang seru-serunya.

“Yasss…, aku menang  kau harus mentraktirku sekotak yoghurt!” ucap Chanyeol sambil melemparkan konsolnya dan mendarat mulus di meja.

“Oke… oke akan kulakukan.” Chen menggerutu. Ia menggaruk tengkuknya sambil mengasihani dirinya sendiri di dalam hati.

Yang lainnya hanya memandang mereka, mencoba mengode Chanyeol dan Chen bahwasanya mereka melakukan selebrasi di waktu yang tidak tepat. Seharusnya juga mereka harus memberi solusi kepada Chaerin di saat seperti ini.

“Chaerin…, Chaeng!” ucap Chanyeol dengan hati-hati. Sehun memandang Chaerin yang telah menyelesaikan ramyun-nya dengan mata yang menyipit.

Wae?” tanya Chaerin sambil bersandar pada kursi. Ia memandang temannya iu satu-persatu.

“Kau ada masalah apa sih dengan Kyungsoo. Kau juga jarang ke rumah Chanyeol akhir-akhir ini,” tanya Baekhyun.

“Tidak tahu.” Chaerin menjawabnya dengan biasa wajahnya pun tidak menampakkan kesedian sedikitpun. Seulgi hanya mengela nafasnya gemas.

“Bagaimana kau tidak tahu penyebabnya? Itukan hubunganmu dengannya,” ucap Chen. Chaerin hanya menghela nafasnya dan memandang ke arah Sehun sambil menaikkan alisnya. Sehun membalasnya dengan mengacak rambut Chaerin. Ia kemudian menurunkan tangan Sehun dari kepalanya.

“Kau tidak bisa seperti ini selama berminggu-minggu. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi padamu. Bukankah itu hanya membuat pikiranmu tersiksa. Itu juga akan mengganggu belajarmu. Kau tidak ingin dikirim ke Jerman ‘kan?” ucap Sehun panjang lebar kali tinggi.

“Apalagi setelah menjauh darimu dia terlihat dekat dengan Jiyeon,” ucap Seulgi. “Apa kau tidak cemburu padanya?” tambahnya.

“Berhak cemburu-!” ucap Chaerin dengan nada tinggi kemudian memelankan suranya setelah menghela nafas. “Berhak cemburu bagaimana aku padanya? aku saja bingung dia menyukaiku atau tidak.” Ia berusaha mengucapkannnya tanpa ada nada yang tinggi di setiap kalimatnya.

“Kenapa kalian memancingku untuk mengatakan ini?” ucapya dengan suara yang memelan. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di tangannya yang sudah dilipat di atas meja.

Mereka menatapnya dengan miris. Mengasihani nasib Chaerin dan menyayangkan sikap Kyungsoo yang begitu dingin. Sehun mengusap punggung Chaerin. Bukan untuk bersikap posesif tetapi untuk  membuat Chaerin lebih tenang.

Kelas terlihat lengang. Beberapa siswi duduk di sudut kelas, entah apa yang dibicarakan mereka. jelas dari raut muka mereka jika mereka sedang bergosip, membicarakan fashion terbaru atau mungkin, produk baru dari Shuu U*mura. Bisa-bisa saja Chaerin bergabung dengan mereka membicarakan fashion atau produk keluaran Shuu U*mura teranyar. Tetapi untuk apa bergabung jika ada Seulgi yang selalu ringan hati meminjamkan produk kosmetik teranyarnya kepada Chaerin?

“Oh ya aku mau keluar sebentar, aku ingin bertemu Sehun sebentar. Ia mengajakku battle game PC terbarunya nanti malam,” kata Chaerin bersemangat mengangkat bokongnya dari tempat duduknya.

“Kau ini, jangan lupa belajar!” ingat Seulgi sambil membuka buku sains-nya yang setebal ensiklopedia milik ayahnya.

Okay madame! Aku hanya melakukannya saat weekend saja.”

Chaerin melangkah kecil keluar kelas. Sambil bersenandung kecil, menyenandungkan lagu Dumb Dumb dari Red Velvet. Lorong juga masih ramai dengan siswa maupun siswi yang sedang berbincang satu sama lain.

Ia melewati gerombolan dari Park Jiyeon dari kelas 1-3 yang terkenal tersebut. “Apa kau tahu, gadis itu. Kwon Chaerin, gadis yang tak tahu malu. Aku tak habis berpikir dia mendekati dua orang sekaligus. Apa kalian juga tahu? Geng mereka kudengar pernah masuk ke club tanpa izin. Hanya karena Sehun pemiliknya. Dari sana saja sudah kelihatan mereka tidak benar,”

Kuping Chaerin terasa panas membuatnya berbalik dan menatap Park Jiyeon dengan mata yang memerah. “Kau bilang apa tadi? Kalau berani katakan sekali lagi!” ucap Chaerin dengan sebuah kepalan di samping badannya.

Seketika suaranya menggema di lorong tersebut. Membuat banyak murid yang bergerombol menonton pertengkaran itu.

“Kau gadis tidak benar yang sering pergi ke club! Apa yang telah kau lakukan dan Sehun di dalam club itu? Menjual tubuhmu padanya?”

Dug….

Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Jiyeon tanpa ampun. “Dasar gadis brengsek,” ucap Jiyeon, terlihat darah yang memenuhi giginya.

“Jaga mulut kotormu. Kau tidak bisa menjelekkan Sehun dihadapanku!” teriak Chaerin tepat di muka Jiyeon.

“Itu memang kenyataannnya ‘kan? Memangnya kenapa?” ucap Jiyeon tak tahu malu. Kemarahan Chaerin sudah berada di ubun-ubun. Ia menarik rambut cokelat milik Jiyeon, sepertinya kepalanya akan putus beberapa detik lagi.

Banyak murid grusak-grusuk membicarakan mereka berdua. Kebanyakan mendukung Chaerin karena memang Jiyeon dikenal pengedar gosip busuk dan banyak kejelekan lainnya yang telah ia perbuat selama bersekolah.

“Hapus dulu make up tebalmu sebelum mengataiku seperti itu!” bentak Chaerin.

Park Jiyeon membalas perlakukan Chaerin dan sekarang mereka berdua saling jambak sambil mengucapkan kalimat sumpah serah kepada satu sama lain. “Wajah palsu seperti itu tidak pantas mengatai teman-temanku!”

“Apa kau tidak tahu apa yang harus kau terma setelah melakukan itu padaku?” ucap Jiyeon.

“Tidak tahu memang kenapa?” kata Chaerin terus menarik rambut Jiyeon.

“MINGGIR SEMUA MINGGIR!!!” Teriak seseorang dari kerumunan. Tapi tak membuat mereka berdua menghentikan pertengkaran tersebut. Jang ssaem muncul dari balik kerumunan dengan menunjukkan wajah kesalnya dibelakangnya ada Kyungsoo yang terkejut melihat mereka berdua bertengkar hebat seperti itu.

Tak berselang lama Sehun muncul, disampingnya terdapat seorang yang tinggi menjulang tidak lain adalah Chanyeol. Kemudian di belakang mereka terlihat Seulgi, Chen, dan Baekhyun. Mereka semua membelalak.

“Hentikan KWON CHAERIN!” teriak Jang ssaem. Chaerin memiting tangan Jiyeon membuatnya merintih kesakitan dan melempar tubuh Jiyeon kelantai. Ia merintih kesakitan dengan darah yang menutupi giginya. Segumpal rambut masih ada di tangan Chaerin.

“Kwon Chaerin! apalagi yang kau perbuat? Saya bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini! Kau harus menerima hukumannya!” bentak Jang ssaem.

Jiyeon gadis itu telah dipapah dikeluarkan dari lingkaran setan tersebut. Menuju ruang kesehatan mungkin. Seulgi terlihat paling khawatir daripada yang lainnya. Ia menggigit kukunya. Chanyeol mencoba untuk menengkannya. Tapi mebuat Seulgi tampak lebih histeris. Ia menangis dalam pelukan Chanyeol.

“Saya tidak pantas menerima hukuman,” ujar Chaerin sambil memandang lekat mata Jang ssaem.

“Apa yang kau katakan? apa kau tidak tahu kau bisa dikeluarkan. Apalagi kau membuat masalah dengan Jiyeon,” ucap Jang ssaem.

“Kenapa? Apa hanya karena ayahnya seorang donatur disini? Siapa yang menyuruh ayahnya untuk menjadi donatur? Tidak ada ‘kan?” ucap Chaerin. “Percuma menjadi donatur, dia akan malu melihat kelakukan putrinya yang menjijikkan itu. aku kasihan dengan ayahnya.”

Jang ssaem terlihat memegang kepalanya yang mendadak pusing. ia kemudian berkata, “Temuilah saya setelah rapat di ruang guru. Reungkanlah kesalahanmu.” Kemudian Jang ssaem pergi menembus kerumunan.

Cherin termenenung sambil mengepalkan tangan di samping badannya. Kemudian tersenyum pahit. Seseorang mencengkeram tangannya begitu kuat, Chaerin mengelak membuat tangannya terangkat diudara.

Kyungsoo, lelaki itu menatap Chaerin dengan kilat penuh amarah. “Ikut aku.”

“Kyungsoo Oppa! Mau kau bawa kemana Chaerin?” tanya Seulgi dengan suara bergetar. Chen menahan Seulgi dengan menahan lengannya.

“Perasaanku tidak enak,” ucap Sehun. Wajahnya tertekuk.

Seiring menghilangnya mereka berdua. Murid lainpun berangsur kembali ke kelas masing-masing. Mungkin masih membicarakan pertengkaran antara Chaerin dan Jiyeon. Menimbang siapa yang salah, siapa yang akan mendapat hukuman. Tetapi kelihatannya sudah jelas siapa yang salah dan siapa yang menerima hukuman. Menyedihkan.

Entah Kyungsoo akan membawanya kemana. Tak satu patah katapun yang bisa dilontarkan Chaerin untuk waktu sekarang ini. Ia tahu Kyungsoo akan memihak siapa. Ia tahu.

“Tidak lelahkah kau bertengkar Kwon? Tidak ingatkah kau baru saja diskors?” ucap Kyungsoo dengan nada meninggi.

Mata Chaerin memerah menahan tangisan dan amarah sekaligus. Semua rasa itu bercampur aduk membuatnya mual. “Aku hanya ingin membela kalian saja. hanya itu yang kuinginkan aku tak apa jika ia menghinaku. Tapi tidak untuk kalian, terutama Sehun. Kalian terseret dalam masalahku. Apa kau tak tahu ia mengatai kalian dengan hal yang tidak pantas diucapkan murid SMA. Tidak apa dia mengataiku wanita tidak benar karena sering pergi ke club, memang itu kenyataannya.”

“Apa maksudmu?” tanya Kyungsoo dengan alis yang menaut satu sama lain.

“Kau begitu naif Do Kyungsoo-ssi. Tak tahukan kau Jiyeon itu seperti apa? Dari luar saja terlihat baik tapi dalamnya busuk.” Penuh penekanan di setiap kata-katanya. Membuat Kyungsoo mengunci mulutnya rapat untuk beberapa saat.

“Jangan bicara macam-macam tentang Jiyeon. Kau tidak tahu apa-apa!”

Mata Chaern membelalak, air mata itu jatuh di pipinya saat itu juga. Cepat-cepat ia mengusapnya. “ Kau yang tidak tahu apa-apa! Aku tahu cinta itu buta, tapi kau terlalu buta Kyungsoo-ssi! Aku tahu kau takut menghadapi kenyataan bahwa Jiyeon baik kepadamu hanya karena dia menyukaimu! Berapa lama lagi kau berpaling dari kenyataan, hah?” ia mengatakannya dengan suara serak. Menatap Kyungsoo dalam, tetapi lelaki itu tak bergeming.

Chaerin menundukkan wajahnya. Isakan kecil itu keluar dari bibirnya. Dia kemudian berkata dengan pelan, “Aku hanya menginginkanmu yang berada disisiku. Itu saja. awalnya kupikir dengan menerima dan memberi, cinta itu akan terasa legkap dan bahagia. Tetapi aku salah, hanya melihatmu tersenyum saja membuat dadaku penuh. Aku bahagia melihatmu tersenyum meskipun bukan aku yang membuatmu tersenyum. Itu saja sudah lebih dari cukup. Tetapi kenyataannya, kau yang selalu mengesampingkanku membuatku kecewa.”

Chaerin memandang wajah itu selama beberapa detik. Kemudian berbalik berjalan sambil terisak.  Sedangkan Kyungsoo, ia hanya terkejut mendengar penuturan Chaerin, yang bisa ia lakukan adalah mematung sambil memandang punggung kecil yang bergetar itu. Memandangnya hingga menghilang setelah belokan di ujung jalan.

Sehun mengetuk-ngetuk ponselnya. Menunggu Chaerin datang. Lelaki itu mendengar suara derap langkah cepat-cepat ia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ia kemudian berdiri sambil memasukkan sebalah tangannya di saku.

Ia melihat Chaerin menundukkan kepalanya. Rambutnya masih berantakan, wajah murungnya terlihat tatkala angin musim semi menerbangkan surai rambutnya.

“Kau marah?” tanya Sehun sambil menyibakkan rambut Chaerin. Sehun kemudian menyisir rambut Charin dengan jari-jarinya. Membuatnya lebih baik.

Eung,” Chaerin mengiyakan tanpa membuka mulutnya sedikitpun. Chaerin kemudian memukul dada bidang Sehun. Berusaha menahan tangis tapi tidak bisa, air mata kembali keluar.

 Sehun memegang tangan Chaerin. menghentikan sikap bodohnya itu. “Kau masih tidak bisa marah? Kenapa kau masih menunjukkan kelemahanmu padaku?” Kemudian lelaki itu menarik tangan Chaerin dan melingkarkannya di pinggangnya.

Tangis Chaerin meledak seiring ia tenggelamkan wajahnya disana. Sehun menepuk-nepuk punggung Chaerin berusaha membuatnya lebih baik. “Maafkan aku hun-a,” ucap Chaerin dengan nada bergetar.

“Hei, tidak perlu meminta maaf. Memangnya kenapa?” ucap Sehun pelan. “Uljima…, aku suka diirmu yang tidak bisa marah. Aku suka dirimu yang menggantikan amarahmu dengan menangis.”

“Jangan dengarkan omongan buruk tentangmu, hm? Kau sudah banyak mendapatkannya.” Ucap Chaerin bersuara serak. Tubuh mungil itu semakin mungil saat Sehun mendekapnya. Sehun tersenyum kecil, bisa-bisanya Chaerin menghiburnya disaat seperti ini.

“Hei.., hei, harusnya aku yang mengatakan itu.”

Sehun mengantarkan Chaerin menemui Jang ssaem di ruang guru, setelah menunggu Chaerin di depan kamar mandi wanita seperti seorang mesum. Chaerin perlu membasuh mukanya yang tidak terlihat baik itu. supaya terlihat lebih segar tidak kuyu setelah menangis barusan.

“Kau tidak perlu kesana jika kau tidak merasa bersalah,” ucap Sehun.

“Aku perlu menjelaskannya pada Jang ssaem. Sikapku yang menghindar akan memperburuk situasi,” ucap Chaerin lirih.

“Aku akan menunggu di luar,” ucap Sehun sambil memegang pundak Chaerin. gadis itu mengangguk mengiyakan. Ia menghadapi situasi ini walaupun ia tahu hal ini tidak akan menguntungkan baginya.

Sehun menyandarkan dirinya ke tembok menunggu Chaerin. Ia berharap agar semua akan baik-baik saja. Malang nasib gadis itu pikirnya.

Seiring Chaerin masuk ke ruangan tersebut, banyak pasang mata yang melihatnya atas sampai bawah. Tak lain adalah para guru yang terlihat iba terhadap gadis itu.

“Kwon Chaerin,” panggil Jang ssaem saat Chaerin telah ada di hadapannya. Jang ssaem meletakkan pulpen di meja. Memandang dengan geram gadis dihadapannya tersebut. “Sudah kubilang berapa kali jangan buat onar lagi!”

“Saya tidak akan membuat onar jika tidak ada yang menyulut ssaem. Seperti kasus yang lalu, terbukti ‘kan mereka yang bersalah. Sekarang mereka berterimakasih padaku karena lepas dari jeratan para yakuza.”

“Iya tahu, tetapi kenapa dengan Jiyeon? Apa kau tidak tahu orangtuanya donatur terbesar di sekolah kita? Kau bisa saja sekrang dikeluarkan. Tetapi pihak sekolah berbaik hati untuk membuatmu tinggal karena kau aset sekolah. Kalau bukan karena tennis kau tidak akan pernah berdiri dihadapanku seperti ini,” ucapnya.

Caherin mengepalkan tangan di sebelah badannya. Giginya bergemeletuk. “Memangnya kenapa dengan orangtuanya sebagai donatur? Jika menyangkut paut orang tua, ayahku adalah jendral. dia bisa saja mengancam Anda jika berbuat sesuatu padaku, menodongkan pistol dikepala Anda mungkin.”

Jang ssaem terlihat menelan ludahnya. Matanya terliat menghindari kotak dengan Chaerin. “Ohhh.. ya aku lupa,” gumamnya samar. Ia berdeham kemudian berkata, “Bagaimanapun juga kau harus mendapat hukuman atas tindakanmu.”

“Sudah berapa kali saya jelaskan. Saya tak berhak menerima hukuman itu!”

“Apa maksudmu? Kau jelas-jelas melukai dia dan kau mengelak?”

“Cih, apakah seorang siswi SMA pantas mengatakan murid lainnya dengan sebutan kasar Jalang, wanita penggoda, menjual tubuhnya? Itu adalah kata-kata yang tak pantas diucapkan seorang siswi SMA. Jika dia berpendidikan dia tidak seharusnya mengatakan itu kepada Saya.”

Beberapa guru yang ada disana mendengar seksama penuturan Chaerin. kebanyakan terperangah atas pengakuan Chaerin tadi.

“Tapi sekarang ini tidak ada bukti jika dia mengatakan itu Chaerin-ssi. Bagaimanapun juga aku harus memberimu hukuman,” kata Jang ssaem sambil menunjukkan batang rotan di tangannya.

Tak perlu berdebat lagi Chaerin akhirnya menyerah dengan memutar tubuhnya. Tangannya tertaut satu sama lain di depan badannya. Percuma menjelaskan sampai mulutnya berbusa Jang ssaem hanya akan menutup mata dan telinga terhadap penuturan Chaerin.

Ia merasakan panas dan perih disaat bersaman di pahanya. Rotan itu mencambuk pahanya dengan kencang. Tak ada rintihan yang terdengar, ia hanya membungkam mulutnya rapat-rapat. Berusaha tidak merintih. Jang ssaem bisa saja mencari bukti bahwa Jiyeon yang memulai duluan. Tetapi semua tahu, ayah Jiyeon terlalu berkuasa.

To Be Continue…

Yuhuuu…. Caramelo tampilan baru! Gimana sennag nggak udah update? Ehehehhe kangen sama kalian. Akhirnya chap ini selesai ini mau lanjut nulis chap selanjutnya. Doain nggak ada halangan ya…. Aku mau persiapan masuk SMA lewat jalur prestasi. Doain ya ketrima ke sekolah tujuan. Inget nggak aku yang waktu minta doa untuk lomba cerpen beberapa waktu lalu? Piagam dari situ alhamdulillah bisa buat tiket japres! Love you All

CgULlTPUMAAuH8Y.jpg
Ini penampakan kukis yang dibuat Chaerin untuk Kyungsoo
1462690858969
lucu ‘kan?
Advertisements

Author:

Sedang tidak produktif, karena ide yang saya pesan di OLX dan dikirim melalui JNE lagi nyasar entah kemana

15 thoughts on “Caramelo pt. 13

    1. halo rahmah! terimakasih sudah membaca Caramelo. Semoga suka ya! Terimakasih atas doanya! thank you! love you!

  1. Finaly shuu is back, aish, di part ini aku juga mau ngamuk kaya Chaerin. Lagian kepala sekolah aneh. Bagaimanapun juga chaerin itu perempuan.
    Btw shuu, ada beberpa penulisan yang masih typo. Untuk alur dimana kyungsoo dan Chaerin saling menjauh apa nanti dijelaskan?
    Aish, kadang pengen teriak “Pinguin babo gk peka”

    1. Hai kak evinaaaa…. diirmu ganti poto profil ya? Ehehehehe makasih udah setia membaca ceritaku T^T aku terharu lojjjj… Maafkan diri ini karena banyak typo kadang2 keyboardnya udah diteken tapi nggak muncul ahahahha….

      tennag aja untuk masalah alur itu nanti akan dijelaskan kenapa Chaerin dan Kyungsoo jauh2an. Mungkin agak lama. Tapi tolong baca sampai habis ya… ehehehhe… kapan sih dia peka kapan? Kelihatannya KYungsoo bukannya nggak peka tapi nggak paham sama begituan ^^

      1. Waw, u know me? Sama-sama, tenang aja. Akan ku tunggu sampai tuntas. Bahkan part ini ku baca berulang ulang. Sampai keselnya pun berulang-ulang. Kyungsoo itu akademi boleh nilai 100 soal rasa 0 besar haha.

        Btw, boleh lah klo lagi bosen. Mampir” dan baca ceritaku ya

  2. Rasanya saya ingin masuk ke cerita dan ikut menjambak Jiyeon! Lalu menodongkan pistol kepada Jang Ssaem. Part ini sungguh T^T eh.. tapi kenapa Kyungsoo dan Chaerin tiba-tiba seperti itu? Tolong bantu jelaskan. Terima kasih. ^-^

    1. HAHAHAAHAHA…. makasih ya udah mau bac adan komentar! Kamu juga bisa memberikan kritikan tentang cerita ini. Nanti akan di ceritakan tenang saja. Tapi mungkin agak lama

    1. makasih udah baca dan komentar! ditunggu ya kelanjutannya. sebenernya tinggal copas dan tinggal nambahin sedikit party yang belum kutulis aja sih… ehehehhe

    1. halo kak kemarin kita baru dm2an ehehhehe… makasih udah tetep stay baca Caramelo sampai chapter sekian. makasih ya!

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s