Posted in Action, D.O FF Indonesia, Fantasy, General, Multichapter, Mystery, School Life

Apokalypse #2

[Welcome.]

poster-apokalypse

Previous postTeaser / #1-This is Reality not History 

Poster by : Irish (Gracias dear :*) at Poster Channel

thanasa presented

apokalypse

Main Starring by EXO’s Do Kyungsoo,  Red Velvet’s Son Wendy, and Lee Hayi Genres Fantasy, School Life, Action, Mystery Duration Chaptered Rating General

Disclaimer : I’ve the plot! So, don’t copy  my thing without my permission. Thanks!

-o0o-

 

Prof. Lau memasuki ruangan setelah gema bel berdentang sebanyak tiga kali memenuhi seluruh sekolah. Ada satu kesamaan antara prof. Go dan prof. Lau mereka sama-sama tidak suka memelihara rambut di kepala. Hanya saja prof. Lau juga tidak menumbuhkan janggut seperti yang dilakukan prof. Go. Rahang prof.Lau pun terlihat lebih keras dibandingkan Prof. Go, dan ia adalah satu-satunya profesor di Saishin yang menghadiri tiap kelasnya seperti seseorang yang ‘normal’ tanpa atraksi sihir apapun, ia menyukai segala sesuatu yang bersifat konvensional. Jika kau melihat seorang guru memasuki ruang kelas dan mengajar para muridnya di dunia Khun, itulah yang dilakukan prof. Lau. Dan kebetulan, Prof. Lau memang seorang Khun dari dataran China Selatan. Tapi jangan pikir prof.Lau adalah seseorang yang bisa diremehkan, ia memiliki kemampuan terhadap pertahanan ilmu sihir diatas rata-rata. Ia juga salah satu professor senior di Saishin.

Sebagian besar murid dikelas kyungsoo diam dan memberikan atensi penuh atas kehadirannya, ia mengeluarkan selembar perkamen tua dan membuatnya melayang dihadapannya, Prof. Lau melirik sekilas ke ambang pintu,

“Kau bisa masuk sekarang.” mendengar ucapan sang professor sontak pandangan seluruh kelas beralih ke ambang pintu yang secara perlahan memunculkan sesosok gadis bertubuh pendek namun sedikit gempal dengan rambut coklat keemasan bergelombang. Sorot matanya terlihat ragu dan langkahnya pun perlahan memasuki kelas, ia hanya memandangi sang professor sekilas sebelum berdiri menghadap seluruh penghuni kelas tingkat enam di Mohautakuza tersebut,

“Namaku Lee Hayi, se.. se..nang berkenalan dengan ka-ka..lian.” Ucapnya sedikit terbata,

Chanyeol merangsek kearah kyungsoo yang tengah memperhatikan gadis yang ada didepan kelas saat ini,

“Sepertinya dia murid yang ditemukan Prof. Kara, cukup imut, Huh?” bisiknya pada Kyungsoo,

Shut up, yeol.” Balasnya tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis tersebut,

“Baiklah Nona Lee, kau bisa duduk disebelah Nona Son, kau bisa berkenalan dengannya dan yang lain setelah jam istirahat. Kita akan mulai pelajaran.” Hayi mengangguk singkat dan mengedarkan pandangannya secara acak, saat manik hazelnya bertemu dengan manik gelap Kyungsoo, ada jeda keheningan beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu menyerah menundukkan kepala dan melangkah cepat menuju meja yang ditempati Wendy, Wendy menyambutnya dengan senyuman. Ia pun membalas senyuman wendy walau terlihat begitu canggung.

“Aku Son Wendy, kau bisa memanggilku Wendy.” Hayi kembali tersenyum dan mengangguk mendengar perkenalan singkat wendy sebelum ia kembali menatap fokus kearah depan, memperhatikan barisan kata yang ditulis Professor Lau dipapan tulis. Hayi menggerakkan kepalanya perlahan mencoba melihat sesuatu di belakang, ternyata ia tengah menatap kearah Kyungsoo yang sedari tadi masih memandangnya intens tanpa ekspresi. Saat menemukan dwimanik kyungsoo masih menatapnya, ia membalikkan tubuhnya kembali dengan cepat dan membuka perkamen besar dihadapannya, berusaha berkonsentrasi dengan pelajaran yang dijelaskan oleh Prof. Lau saat itu.

.

.

.

.

“Jadi kau benar-benar tidak mengingat apapun?” tanya Kang Mina pada Lee Hayi si murid baru yang baru masuk tadi pagi. Hayi menggeleng sambil mengunyah roti isi miliknya. Hayi, Mina, Wendy, Eunbin dan Seulgi sedang menikmati santap siang mereka dimeja makan yang sama.

“Tapi- mengapa kau bisa tahu kalau namamu Lee Hayi?” tanya Mina lagi, Hayi menyibakkan rambut panjang bergelombang miliknya, Mina, Wendy dan Eunbin melongok bersamaan kearah pundak kiri Hayi, hanya Seulgi yang acuh dan terus menikmati jus melon sambil memainkan rubik segi delapan miliknya. Disana tergores aksara Korea kuno seperti tattoo yang bertuliskan Lee Hayi dengan tinta jingga berkilauan. Mina dan Eunbin terlihat menganga,

Wuoah… kau mempunyai tattoo seperti itu? Keren sekali. Siapa yang membuatnya? Orang tuamu?” Eunbin mencecar Hayi dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Hayi hanya mengedikkan bahu dan menggeleng lemah,

“Lalu? Apa kau sudah ‘dipilih’? Maksudku, kau sudah melewati test penentuan gajog, belum?” Hayi mengangguk perlahan, Seulgi yang sedari tadi bersikap acuh mulai menunjukkan gelagat tertarik mendengar pertanyaan saudara kembarnya tersebut. Kang Seulgi dan Kang Mina merupakan saudara kembar namun tidak identik. Sifat mereka pun bertentangan seperti kutub utara dan selatan. Kang Mina pribadi yang hangat dan cendrung banyak bicara, ia sangat suka makan, karena itu permukaan pipinya memang terlihat lebih tembam dibandingkan wajah seulgi yang begitu tirus. Seulgi adalah pribadi yang lebih dingin tidak banyak bicara, dan cepat tersulut emosinya. Namun ia memiliki kemampuan sihir dalam menyerang yang cukup baik. Ia sangat mengagumi Prof. Takeru.

“Aku… aku gajog Surudoi.” Jawab Hayi singkat setelah selesai mengunyah habis roti yang disedang disantapnya,

Ahhh, sayang sekali. Kau akan bertemu dengan murid-murid yang menyeramkan dan tidak punya sense pertemanan yang baik,” Mina mendesah dan melirik penuh arti pada sang kakak –yang berasal dari gajog surudoi, yang seketika mendelik mendengar ucapannya, “Jika kau terpilih di gajog Jianheeng sepertiku, kujamin kau akan berubah menjadi seseorang yang lebih ceria dan bercahaya sepertiku dalam beberapa bulan.” Ucap Mina antusias,

Cih, bercahaya?! Aneh dan tidak tahu adat atur kalau boleh kukoreksi. Gajog mu itu terlalu dibawah rata-rata Mina.” Seulgi tiba-tiba berkomentar, Mina mengerucutkan bibir tanpa berniat untuk melawan kakaknya tersebut. Walau bagaimanapun Mina sangat menghormati Seulgi, Wendy dan Eunbin hanya terkekeh melihat kelakuan kedua temannya tersebut.

Well, setidaknya kau akan memiliki Seulgi saat berada di asrama. Walaupun agak kasar tapi sebenarnya ia pribadi yang baik kok.” Ucap wendy sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Seulgi, Seulgi hanya memutar bola matanya, menyambar sebuah apel dan menggigitnya ganas, “Surudoi itu… gajog yang penuh dengan murid berbakat, kau harus bekerja keras untuk mengimbangi mereka. Dan kau harus berhati-hati, seperti kata Mina, gajog surudoi dan cheogoshi terkenal dengan karakter muridnya yang sedikit individualis dan errrr… menyeramkan.” Wendy sedikit melirik kearah Seulgi takut-takut perkataannya menyinggung salah satu sahabatnya tersebut, namun dilihat dari gelagat acuhnya Seulgi tidak mempermasalahkan pernyataan yang wendy lontarkan tentang gajognya.

Percakapan mereka terusik dengan kehadiran Kyungsoo dan Jongin di dalam ruang makan yang hampir bersamaan. Setiap mereka berada didalam satu ruangan berjarak kurang dari lima meter tanpa pengawasan pengajar, aura konfrontasi memancar begitu kuat. Jongin tidak pernah bosan memprovokasi Kyungsoo untuk membuat masalah dengannya,

“Kulihat kau sudah tidak berlatih sekeras kemarin, apakah kau menyerah?” Jongin melirik ke meja tempat wendy duduk bersama teman-temannya, “Ahhh, aku lupa, kau kan sudah dikalahkan. Bahkan dengan seorang khun wanita sampah yang tidak ada apa-apanya.” Jongin masih berceloteh, Kyungsoo sudah siap melawan ucapan Jongin namun Chanyeol menahan pundaknya dan menggeleng pelan,

Braaaakkkk

Suara gebrakan meja memenuhi ruang makan tiba-tiba. Seluruh mata memandang wendy yang berdiri tiba-tiba dan membuat keributan tersebut. Ia menatap tajam kearah Jongin dan menghampirinya, Eunbin, Seulgi dan Mina juga ikut berdiri namun tidak berniat untuk menghentikan pergerakan wendy yang semakin mendekat kearah Jongin, Hayi hanya bisa menatap setiap kejadian tersebut dengan kebingungan,

“Tidak ada apa-apanya katamu?” ucap wendy saat sudah berada kurang dari dua meter dihadapan Jongin, Jongin hanya melemparkan smirk miring meremehkan Wendy, “Humm, setidaknya aku tidak menjadi anak buangan di keluargaku yang terus dibayang-bayangi oleh kehebatan saudara kandungnya sendiri.” Air muka Jongin berubah mengeras, wendy maju semakin mendekat kearah Jongin, “Jika kau merasa dipecundangi oleh kakakmu, Kim Jongdae. Jangan mencari-cari perhatian disekolah! Itu memalukan, tuan Kim.” Bisik wendy dengan jarak yang begitu dekat dengan telinga Jongin,

“KAU!” Jongin sudah siap menarik tongkat sihirnya kearah Wendy, tepat disaat Kyungsoo menarik gadis tersebut kebelakang tubuhnya dan mengarahkan tongkat sihirnya ke hadapan Jongin. Wendy sedikit terbelalak melihat kejadian yang begitu cepat tersebut, sadar akan genggaman tangan Kyungsoo ia menarik lepas tangannya dan mendesis kearah Kyungsoo,

“Aku tidak butuh bantuanmu.” Ucapnya seraya mendesis,

“Aku tidak membantumu. Jongin adalah seteru ku dan kau yang sok pahlawan muncul ditengah-tengah kami.” Balas Kyungsoo tanpa memalingkan wajahnya dari Jongin,

“Dia menghinaku, aku tidak bisa diam sa-”

“Ada apa ini? Keributan apa yang terjadi di jam makan siang seperti ini.” ucapan Wendy terpotong dengan kehadiran Prof. Horvejkul bersama dengan Prof. Kara, Baik Kyungsoo maupun Jongin menurunkan tongkat sihir masing-masing. Prof. Horvejkul memandang Kyungsoo, Jongin dan Wendy secara bergantian. Wendy berdecak kesal, ia memikirkan jika poin nya bertambah maka nilainya di semester ini akan menurun, berurusan dengan Prof. Horvejkul bukan perkara yang baik, karena itu akan berpengaruh dengan nilai study-mu. Dan Wendy membenci itu.

“Tuan Do, Tuan Kim, dan Nona Son. Kalian bisa ikut keruanganku, Sekarang.” Prof. Horvejkul berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan, Prof. Kara menarik nafas panjang menatap Kyungsoo yang segera membuang muka ditatap seperti itu, setelah Kyungsoo melewatinya ia mengalihkan pandangan kearah Hayi yang masih terlihat kaget dan bingung. Saat Hayi menyadari bahwa ia ditatap oleh prof. Kara, ia tersentak dan menunduk perlahan meskipun iris matanya berusaha mencuri-curi pandang kearah professor manis yang telah menyelamatkan hidupnya tersebut.

Sepeninggalan kedua professor tersebut terdengar riuh kasak-kusuk murid lain yang menggunjingkan kejadian yang baru saja terjadi diruang makan tersebut. Eunbin, Mina dan Seulgi kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Mina mendengus keras, dan Eunbin menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah. Hayi melihat mereka berdua secara bergantian,

“Ini gawat. Wendy pasti akan mengumpat disepanjang sisa semester ini.” ujar Mina,

Yeah, ini semua karena si bedebah Jongin.” timpal Seulgi, Eunbin melemas dengan memijat-mijat dahinya pelan.

“Ke..Kenapa wendy akan mengumpat disepanjang semester ini?” tanya Hayi tiba-tiba.

“Ia akan kena poin kedisiplinan karena masalah ini.” Jawab Eunbin singkat, Hayi mengangguk-angguk sambil mengerucutkan bibirnya,

“Memang… Poin kedisplinan masalah yang besar ya?” tanya nya lagi, Mina mendengus memandang Hayi dengan pandangan frustasi,

“TENTU SAJA, KARENA ITU AKAN BERIMBAS PADA MENURUNNYA NILAI WENDY DI AKHIR SEMESTER.” Ucap Eunbin dan Mina bersamaan, Hayi sedikit terlonjak kaget dan meringis mendengar jawaban kompak kedua teman barunya tersebut. Seulgi hanya menggelengkan kepalanya.

.

.

.

.

Prof. Horvejkul memandang ketiga murid yang ada dihadapannya secara bergantian sambil mengetuk-ngetuk meja kerja miliknya. Mereka bertiga belum ada yang berani buka suara,

“Jadi, ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi diruang makan tadi?”

“Kyungsoo mengacungkan tongkat sihirnya padaku karena melihatku mengajak Wendy berbicara, prof. Sepertinya mereka sepasang kekasih.” Jongin berceloteh santai, mendengar pernyataannya Kyungsoo dan Wendy menatap pria itu secara bersamaan dengan tatapan tidak percaya bahkan Wendy terlihat menganga, Prof. Horvejkul berganti menatap Wendy dan Kyungsoo secara bergantian.

“I.. i..itu tidak benar prof. Pernyataan Jongin barusan tidak benar. A..a..aku, maksudku aku dan Kyungsoo tidak ada hubungan apapun. Berkencan dengan pria ini, Heh… yang benar saja.” Ucap Wendy seraya melirik singkat Kyungsoo. Kyungsoo masih terdiam dan hanya membalas wendy dengan lirikan tajam miliknya. Prof. Horvejkul menarik nafas panjang lalu menyandarkan bahu ke dinding kursi busa miliknya. Ia menatap Kyungsoo dengan tatapan menuntut, dan Kyungsoo pun membuka suara.

“Begini prof. yang benar adalah Kim Jongin melontarkan pernyataan-pernyataan yang kurang pantas tentangku. Lalu Son Wendy merasa tersinggung dan balas mengkonfrontasi Jongin. Jika saya tidak membalas pergerakan Jongin yang telah mengeluarkan tongkat sihir miliknya, saya tidak yakin nona Son akan berada disini tanpa tergores sedikitpun.” Prof. Horvejkul mengerutkan keningnya membentuk guratan tiga garis horizontal diwajah putih langsat miliknya.

Prof. lihat sendiri kan?! mereka bahkan saling melindungi agar tidak ada satupun yang tersakiti.” Timpal Jongin, membuat Kyungsoo dan wendy melemparkan pandangan jengah terhadapnya.

“Bisa kau diam Tuan Kim? Aku tidak memintamu untuk berkomentar.” Tukas Prof. Horvejkul menatap tajam kearah Jongin. Dan jongin hanya memutar kedua bola matanya seraya mengumpat lirih.

“Saya tidak melihat adanya korban dikejadian ini. Dan saya sungguh tidak mengerti permasalahan yang terjadi diantara kalian. Untuk kali ini saya akan melepaskan kalian tanpa memberikan poin kedisiplinan.” Kedua bola mata wendy terlihat berbinar mendengar ucapannya tersebut, “Tapi jangan pikir aku akan melepaskan kalian bertiga! jika kalian tertangkap tangan olehku membuat keributan seperti tadi saya tidak akan segan menghukum kalian dengan hukuman yang lebih berat dua kali lipat, kalian mengerti?!”

“Ya, Prof.” ujar mereka bertiga secara bersamaan.

“Dan kau Do Kyungsoo, kau ingat poinmu denganku sudah berapa kan?”

“Ya, prof. saya ingat. Maafkan saya.” Jawab Kyungsoo, Jongin terlihat tersenyum sinis mendengarnya.

“Kalian bisa meninggalkan ruangan ini.” mereka bertiga pun menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Setelah berada beberapa meter diluar ruangan Prof. Horvejkul, mereka bertiga bersiap mengambil jalan masing-masing. Namun tiba-tiba Jongin membuka suara,

“Untuk kali ini aku melepaskanmu Khun. Dan kau Kyungsoo, jangan pikir urusan kita sudah selesai.” Baik wendy maupun Kyungsoo mendengar perkataan Jongin tersebut dengan jelas. Namun mereka memutuskan untuk tidak meladeninya dan segera meninggalkan lorong gelap tersebut menuju asrama masing-masing.

.

.

.

.

Di koridor gelap dekat pintu ruang rahasia, terdengar langkah tergesa seseorang yang sibuk melihat keadaan disekelilingnya. Ia bernafas lega setelah menemukan sosok wanita yang memang sudah memiliki janji dengannya, tidak jauh dari pintu ruang rahasia tersebut.

“Aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi para professor akan mengecek asrama, kau ingat?” si wanita hanya mengeluarkan smirk tidak simetris,

“Lima menit. Aku hanya akan mengingatkan beberapa hal padamu.”

“Kupikir akan lebih aman jika kita masuk ke dalam.” Ujar si pria kemudian.

Dan mereka pun menghilang dibalik dinding batu hitam yang merupakan pintu dari salah ruang rahasia yang ada di Mohautakuza. Sang wanita membalikkan tubuhnya menatap si pria.

“Kau tahu waktunya sudah dekat bukan?”

Yeah, aku tahu…”

“Kuharap kau fokus terhadap tugasmu, jangan hanya menjadi seorang penonton.”

“Sebelum Dia benar-benar kembali, kita harus menyelesaikan tugas kita masing-masing. Mengerti?!”

“Ya…”

“Oh ya, kupikir gadis dari gajog Ganesharu itu akan sedikit menghambat tugas kita.”

“Aku malah merasa, si murid baru lebih mencurigakan.”

“Kau bercanda, wanita lemah seperti dia? Ia bahkan bisa masuk di Mohautakuza hanya karena belas kasihan, kalau kau mau tahu.” Si pria menyandarkan tubuhnya kedinding, dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Entahlah… mungkin itu hanya perasaanku. Jadi ada hal lain yang ingin kau katakan?” si wanita melangkah mendekat,

“Kurasa kita juga sekarang harus lebih berhati-hati. Prof. Kara sudah mencium pergerakan ganjil didalam Mohautakuza. Tapi sepertinya ia belum mengetahui bahwa yang melakukan pergerakan itu adalah seorang murid seperti kita.” Si pria mengangguk sambil mengusap-usap dagunya,

“Baiklah. Kita bertemu lagi nanti, kau tidak mau tertangkap di luar asrama oleh professor gajog mu kan?” Si pria terkekeh pelan mendengarkan pertanyaan retorikal yang dilotarkan si wanita. Lalu mereka pun pergi meninggalkan ruang rahasia tersebut dan mengendap-endap kembali ke asrama masing-masing.

.

.

.

.

Hayi berada satu kamar dengan Seulgi, Hayi tidak bisa tidur sebelum tengah malam. Ia memandang Seulgi yang sudah tergeletak dan tertidur pulas diatas ranjangnya. Hayi menarik nafas dalam-dalam dikamarnya terdapat jenjela kecil berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 50 centimeter, ia memandang langit malam dari jendela tersebut. Ditariknya kedua kakinya sehingga ia bisa meletakkan dagunya diatas lutut dan memeluk erat kedua kakinya tersebut.

Ia mendengar suara gaduh dari arah ruang santai surudoi yang terletak ditengah-tengah bilik murid yang ada di asrama tersebut. Hayi mengalihkan tatapannya kearah pintu dan bangun dari ranjangnya perlahan keluar dari kamarnya menuju keruang santai. Ia melangkah mengendap saat sudah berada diluar kamarnya, ia mencoba meraba-raba tubuhnya sendiri mencari tongkat sihir miliknya yang ternyata tertinggal di laci buffet miliknya. Ia pun hanya bisa bergumam lirih merutuki kecerobohannya, jika ia harus kembali kedalam kamar terasa tanggung karena beberapa langkah lagi ia akan sampai ke ruang santai. Jadi tanpa pertahanan yang memadai ia meneruskan langkahnya memenuhi kuriositas tinggi yang ditimbulkan bunyi gaduh beberapa saat yang lalu.

Ia mengintip ruang santai dari balik tembok lorong kamarnya. Nihil. Tidak ada apapun disana. Hayi melangkah lebih cepat dan melihat sekelilingnya, kalau-kalau penglihatannya baru saja salah. Tapi tetap tidak ada satu orangpun diruangan tersebut. Hayi membalikkan tubuhnya saat merasa terpaan angin malam menerbangkan helaian rambut bergelombang miliknya, ternyata pintu kaca yang terdapat disebelah utara ruang santai Surudoi dengan ketinggian yang lebih daripada tinggi manusia pada umumnya, terbuka lebar. Disana ada balkon kecil berukuran sekitar 2×3 meter. Hayi melangkahkan kakinya menuju balkon tersebut, pemandangan malam bukit-bukit kecil dan danau yang mengelilingi Mohautakuza ditambah hamparan bintang berkilauan dan kerlap-kerlip cahaya yang berasal dari sebagian pemukiman daerah Saishin di sebelah tenggara Mohautakuza, begitu menakjubkan. Hayi memejamkan kedua matanya dan menikmati terpaan angin dingin yang menusuk-nusuk permukaan kulitnya, namun Hayi merasa nyaman dengan hal tersebut.

“Kau tidak tidur?” baritone suara pria menginterupsi kedamaian yang tengah Hayi nikmati. Ia terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia mendapati seorang pria pendek, bermata besar dengan piyama hitam dan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku piyamanya tersebut. Pria itu diketahuinya terlibat dalam keributan yang terjadi di ruang makan tadi siang.

“A…a…aku mendengar suara ga, ga..duh tadi. Jadi aku ke..ke..luar untuk mengeceknya.” Jawab Hayi terbata, Kyungsoo mengulum senyum singkat.

“Tanpa membawa tongkat sihirmu?” Hayi meringis dan menggaruk-garuk kepalanya, “Kau terlalu ceroboh untuk hitungan murid tingkat enam.”

Hayi mendongak menatap Kyungsoo sedikit takut dan ragu,

“Ta- ,Tapi A-aku…”

“Kau mau membela diri dengan mengatakan kau adalah murid baru?” potong Kyungsoo sarkastik, dan pernyataannya sukses membuat Hayi menciut.

“Apapun alasannya kau adalah seorang penyihir, dan kau terpilih sebagai seorang surudoi. Setidaknya kau harus tahu dasar-dasar  untuk menjaga dirimu sendiri-” Kyungsoo mengerling kearah Hayi, “Seperti membawa selalu tongkat sihir bersamamu, contohnya.”

“Ye…yeah.. a-aku akan me-mengingatnya.” Ujar Hayi sambil memainkan buku-buku jarinya. Kyungsoo mendengus,

“Dan bisakah kau berhenti menjadi orang gagap? Itu memalukan, apalagi untuk hitungan seorang Surudoi. Kau tahu?” Kyungsoo menatap tajam pada gadis berambut kuning keemasan itu. Si gadis hanya mengangguk patuh, tidak berani mengeluarkan suaranya karena takut kata-kata yang keluar dari mulutnya kembali terpatah-patah.

Kyungsoo sudah siap melangkah meninggalkan ruang santai tersebut dan kembali kekamarnya, tapi langkahnya terhenti dengan penuturan tiba-tiba dari gadis yang tidak berada seberapa jauh darinya tersebut,

“Maaf… tapi aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?”

Pertanyaan bodoh, batin Kyungsoo.

“Tentu saja Kyungsoo, apa kau pikir aku mempunyai nama samaran atau yang lainnya, huh?” Hayi hanya bisa meringis, “Ah ya, aku tidak terlalu suka berbasa-basi dengan mengucapkan salam selamat datang atau apapun itu. Tapi kau bisa mencariku jika merasa kesulitan dalam mengerjakan suatu hal yang berkenaan dengan mata pelajaran kita dikelas, aku… adalah mentormu.” Kyungsoo menyelesaikan deskripsi panjangnya, lalu melangkah santai menuju kamarnya, benar-benar meninggalkan si anak baru yang masih berdiri termangu ditempatnya.

.

“Bagaimana Kyungsoo? Apakah kau menerima permohonanku? Kau harusnya tahu tidak lazim seorang guru memohon pada seorang murid bukan?!” pertanyaan retoris, tapi Kyungsoo masih tidak habis pikir dengan permintaan yang dilontarkan salah satu pengajar wanita yang disegani di Mohautakuza –prof. Kara, ini. Menjadi seorang mentor murid baru antah berantah? Yang benar saja. Bergaul akrab dengan teman-teman yang telah bersama Kyungsoo  selama enam tahun ini saja sulit. Apalagi murid baru.

“Bukan bermaksud lancang menyelidik prof, tapi aku berhak tahu alasannya. Dan diantara semua orang kenapa harus aku? Kau tahu kepribadianku, bukan?” profesor manis tersebut tergelak rendah,

“Tidak ada alasan spesifik Kyungsoo. Pertama, kau akan berada dalam satu gajog dengannya –surudoi , dan kupikir kau yang paling potensial untuk menjadi seorang mentor untuknya. Aku sudah mengemukakan hal ini pada Prof. Lau dan ia sangat setuju dengan usulanku.” Profesor itu mengerling singkat pada Kyungsoo yang masih mengerutkan dahi dan meremas-remas kedua telapak tangannya.

“Percayalah Kyungsoo, gadis itu tidak akan menyusahkanmu. Dia, akan menjadi seorang teman yang baik untukmu, kelak.”

Kyungsoo menatap perempuan yang kembali melanjutkan aktivitasnya membereskan perkamen-perkamen lusuh yang berserakan di meja kerjanya, tanpa ekspresi.

-o0o-

Kelas purantologi yang dipimpin oleh Prof. Shiitze berlangsung gaduh, sang profesor memang bukan tipikal pengajar strict yang benci dengan suara bising. Contohnya sekarang ia masih asik menjelaskan tentang Auriculiformis -tumbuhan berbunga tunggal jingga yang banyak digunakan dalam penyembuhan retak tulang atau memar dibagian dekat kepala, walaupun beberapa murid terlihat kasak-kusuk dan mengeluh lirih karena rasa mual yang bergejolak akibat bau busuk yang disebabkan oleh tumbuhan tersebut,

“Jadi, apakah kalian bisa melihat betapa indahnya tumbuhan ini? Warnanya seperti guratan langit senja,bukan?” celotehnya menghiraukan tatapan muak beberapa murid yang tengah diajarnya, mereka bersumpah lebih baik dijemur pada terik panas matahari seperti siang ini dibandingkan harus berkutat dengan tanaman berbau busuk –yang nyatanya sangat bermanfaat ini- kebanggaan Prof. Shiitze saat ini.

Hanya segelintir wajah yang terlihat tegar dan tidak bergeming menggenggam akar  Auriculiformis yang berlendir abu tersebut, salah satu diantaranya adalah Wendy. Sesekali ia terkikik melihat ekspresi wajah Mina dan Eunbin yang seperti seorang sekarat. Garis wajah mereka menyiratkan tatapan –tolong-keluarkan-kami-dari-ruang-kaca-terkutuk-ini-, disebelah mereka berdua terlihat Seulgi dengan wajah merah padam, dan mengeluarkan umpatan-umpatan dengan nada lirih.

“Jadi apa fungsi dari lendir yang berada di akar Auriculiformis?” Wendy terlihat antusias mengangkat tangan kanannya setelah memindahkan tanaman tersebut ke genggaman tangan kirinya.

“Ya, Nona Son.”

“Menjaga stabilitas pertumbuhan dan sirkulasi respirasi di tahap pertama pertumbuhannya, prof. Setelah lewat 90 hari pemeliharaan, lendir tersebut beralih fungsi sebagai aktivator zat jjangrum pada saat perebusan ramuan kelopak bunga Auriculiformis yang berkhasiat untuk menyembuhkan segala masalah keretakan tulang.” Tukasnya panjang lebar,

Profesor jangkung berlesung pipi tersebut tersenyum puas menatap gadis tersebut,

“Sempurna Nona Son. Kau memang tidak pernah mengecewakanku.” Wendy hanya mengulum senyum singkat, hal ini merupakan pemandangan lazim yang terlihat di kelas tingkat enam. Tanyakan pada mereka, siapa yang mampu menandingi dominasi si gadis Khun bersurai cokleat tersebut dalam hal teori?! Jawabannya pasti, Tidak ada.

Kyungsoo yang berdiri paling belakang disisi kiri hanya memandang malas adegan pujian sang profesor tersebut. Sedangkan Jongin yang berada disisi berlawanan darinya -namun masih dalam garis yang hampir sejajar, hanya bisa mendecih dengan tatapan benci, walaupun yang bisa dilihat hanya punggung gadis tersebut.

Selang beberapa menit kemudian lonceng berdentang menandakan  kelas Prof. Shiitze hari ini telah berakhir. Dan wajah berbinar pun terpancar dari hampir seluruh murid yang terjebak diruang kaca tersebut. Wendy baru saja selesai mencuci tangannya saat Yixing menghampirinya seraya melemparkan seulas senyuman manis khas-nya.

“Kau curang wendy-ah, kalau ku tahu buku hijau lumut yang kau tekuni di perpustakaan tempo hari adalah kunci pujian bertubi-tubi yang kau terima hari ini, tentu aku akan melahap lembaran-lembaran kertas tua itu juga.” Wendy terkekeh dan mengibas-ibaskan kedua tangannya agar telapak tangannya lebih kering.

“Itulah gunanya antisipasi. Hidup harus penuh perencanaan Yixing-ah, kalau tidak kau pasti akan seperti berjalan tanpa arah, sesuatu yang random tidak cocok denganku.”

“Ayolah, kita teman. Setidaknya kau memberikanku peringatan, kau tahu persis nilaiku dengan prof. Shiitze semester lalu tidak terlalu memuaskan. Kau seperti ahli nujum, tahu saja kalau bahasan minggu ini tentang Auriculiformis.” Wendy mengedikkan bahunya menanggapi pernyataan Yixing,

“Kalau kau pikir Laudable itu tidak terlalu memuaskan, bagaimana kabarnya berpuluh murid lain di kelas kita yang harus cukup puas mendapat Sufficient bahkan Rufferty?!” Wendy sedikit melebarkan bola matanya mendramatisir pernyataannya, “Kalau kau berharap nilai Outstanding menjadi milikmu, berhentilah bermimpi. Nilai itu hanya untukku.” Tukasnya seraya menjulurkan lidah pada salah satu temannya tersebut. Yixing hanya bisa menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan wendy.

“Wendy…” mendengar namanya dipanggil, gadis itu menoleh, dan mendapati Hayi yang tengan menghampirinya.

“Ada apa Hayi?”

“Anu.. umm, err… aku, aku ingin menanyakan perihal cara pemeliharaan Auriculiformis yang tepat seperti yang tadi kau dan prof. Shiitze jelaskan. Aku , umm… belum terlalu mengerti.” Wendy tersenyum memandang wajah pucat Hayi namun dengan rona kemerahan yang berada disekitar hidung dan matanya.

“Baiklah, kau bisa menemuiku kapan pun.” Tukas wendy,

“Bagaimana kalau sekarang?” tanya Hayi penuh harap. Wendy segera mengingat janji yang telah dibuatnya bersama Yixing sejak beberapa hari lalu untuk mengerjakan tugas Aritmatika -itu salah satu alasan mengapa Seulgi, Mina, dan Eunbin meninggalkan Wendy di ruang kaca terlebih dahulu, mereka bertiga membenci Aritmatika-, ia melirik Yixing sekilas. Dan Yixing seolah tahu persoalan yang terjadi saat ini sehingga membuat Wendy tidak langsung menjawab permintaan gadis yang ada dihadapan mereka saat ini,

“Tidak masalah wendy, kita bisa mengajak Hayi belajar bersama kita. Walaupun kau akan konsentrasi pada dua pokok bahasan secara bersamaa. Kupikir kau tidak punya masalah dengan hal seperti itu, bukan?” Yixing memandang wendy, dan Wendy mengangguk menyetujui, “Oh iya, aku Yixing omong-omong. Kemarin kita tidak sempat berkenalan secara langsung.” Ujar pria berlesung pipi itu beralih menatap Hayi. Hayi menunduk singkat –sopan santun ala asia, dan tersenyum.

“Kau bisa memanggilku Hayi, Yixing…”

Mereka bertiga baru saja akan meninggalkan ruang bersuhu hangat dengan luas berkisar 700 meter persegi yang sudah mulai sepi tersebut. Namun kehadiran Sana yang berlari dengan wajah panik menarik atensi murid yang masih tersisa diruangan tersebut tidak terkecuali mereka –Wendy, Hayi, dan Yixing.

YA… YA…YA…. Kalian harus membaca ini. Ini berita besar! Sungguh…” Wendy mendahului langkah para murid yang tersisa untuk mendekat ke Sana –gadis cantik dari gajog Jianheeng, dan melongok pada lembaran kertas dengan gambar-gambar hidup yang mereka semua ketahui merupakan koran harian yang tersebar diseluruh Saishin –termasuk Mohautakuza. Headline berita yang tercetak besar-besar pada halaman depan kertas tersebut, memang cukup memacu adrenalin orang-orang yang membacanya.

Masulsa Kembali, Dua Pejabat Pemerintahan Mati Menggenaskan.

“….Han Jiwon dan Zhang Yua Wei ditemukan tewas dengan keadaan menggenaskan di salah satu lorong teleport gedung pemerintahan Saishin. Melihat keadaan korban para Shouwei mengasumsikan bahwa semua ini merupakan ulah Masulsa…”

Wajah wendy memucat, sebagian besar teman sekelas yang berada disekitarnya sontak berkasak-kusuk heboh. Hanya Hayi yang memasang wajah tanpa ekspresi namun tergurat jelas ia sedang bingung. Melihat respon mereka semua, termasuk Wendy.

Sial, ini hanya hoax. Masulsa hanya legenda. Sebentar lagi Wendy, sebentar lagi. Kau pasti bisa lulus sebagai Manyeo terbaik, bersabarlah. Makhluk jahanam itu tidak akan bisa menghancurkan hidup dan mimpimu. Ini semua kebohongan, asumsi tidak berdasar.

 

TBC

Hei-hei.. apa kabar kawan?

Aku post part.2 terbaru hanya dalam satu minggu?! yah karena chaptered ini memang sudah seteengahnya kukerjakan sihh.. jadi tinggal edit-edit sedikit. Tapi mulai part.3 aku harus mulai menulis lagi fufufufufu…

Hayi sudah datang #yeah… Bagaimana? adakah yg masih tertarik menunggu kelanjutan FF ini? Please give ur review gaes.. Gumawo :*

withlove,

thanasa

 

Advertisements

Author:

I am a ordinary girl, who love Do Kyungsoo damn much... -You may know My Name, But You don't really know Who I am- (:

14 thoughts on “Apokalypse #2

  1. Laudable itu apa..? Sufficient itu apa..?
    Rufferty itu apa..?
    Okesiip banyak yang gk daku ngerti..:’) maap aja ini otak lemot banget..:’)

    Hayi kayanya misterius gitu ya.. dia kaya heroin2 di anime yang kliatan lemah gitu.. tpi ternyata gk lemah2 amat(?) #soktau

    Ditunggu lagi lanjutannya ea(?)

    1. hahaha… gpp jdi itu istilah penilaian di mohatakuza. Aku jg lupa msukin istilah2 itu di teaser. Jadi tingkatan penilaiannya ada 5, paling atas Outstanding : mengagumkan.
      2. Laudable : terpuji
      3. Decent: Layak
      4. Sufficient : cukup
      5. Rufferty : buruk

      hehehe, hayi emg misterius mankanya aku ngefans #loh?!!
      kalau utk karakter tiap cast kita lihat disetiap part selanjutnya yh…
      Semoga sbar menanti, gumawo^^

  2. Walaupun banyak yang nggak mudeng tentang ungkapannya, tapi aku tipe yamg nggak mau Tibet jadi diiyain aja hahahha… Ini baca FF sambil liat Harry Potter & Deathly apa itu… Kebetulan banget muncul di TV ahahahha… Ini keren beneran nggak boong /wajah serius/

    Ditunggu cerita selanjutnya!

  3. Whohoho saya suka jalan cerita nya yg bikin penasaran :D, ehhmm Kyungsoo jadi mentor hayi, jd penasaran apa yg terjadi di chapter berikut nya, saya tunggu next chapter nya thor 🙂

  4. Huhu…serasa nostalgia sama Harpot lagi thor. Cuma kadang masih ngga ngeh sama nama/istilah. Asramanya kyungsoo kalau di HP termasuk asrama apa ya thor? Atau emang sengaja dibuat beda sama aslinya?
    Lanjut thor

    1. hai hai…
      kamu bsa pgil aku tha atau tata…
      hehehe iya aku bnyak bkin istilah ori sih… harry dlu kan Griffindor (singa) , aku bkin lambng2nya gak ada yg sama dgn hogwarts kok… ini rata2 hewan representatif asia hehehe

      sengaja dibuat agak beda… lebih asia2 gtu wkwkwk

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s