Posted in Author Tetap, D.O FF Indonesia, Fantasy, General, Multichapter, Mystery, School Life

APOKALYPSE #1

[This is Reality not History]

poster-apokalypse 

Previous post: Teaser

thanasa presented

apokalypse

Main Starring by EXO’s Do Kyungsoo,  Red Velvet’s Son Wendy, and Lee Hayi Genres Fantasy, School Life, Action, Mystery Duration Chaptered Rating General

Disclaimer : I’ve the plot! So, don’t copy  my thing without my permission. Thanks!

-o0o-

 

“Aku heran kau tidak bosan menyantap jus tiga warna itu setiap hari.” Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut peraknya berseloroh kepada pria yang memiliki ukuran tubuh berbanding terbalik dengannya -pria itu pendek. Si pria pendek merapalkan mantra hingga sebuah buku usang -dengan ketebalan yang luar biasa, melayang menuju meja tempat ia menyantap sarapan paginya. Si pria jangkung mengambil tempat duduk bersisi dengannya.

“Kyungsoo-ah aku bicara denganmu!” si pria jangkung masih berceloteh sambil mengolesi roti bakar yang diambilnya dari meja makan tersebut.

“Iya aku tahu.” Kyungsoo –si pria pendek, menyeka ujung bibir kanannya dari sisa jus strawberry yang baru saja ditenggaknya sampai habis.

“Kau tahu, tapi tidak merespon? Benar-benar teman yang kejam.” Pria jangkung itu menggelengkan kepalanya sambil menggigit potongan roti yang ada digenggamannya,

“Berhentilah berceloteh Yeolie, kau mengganggu pagiku yang tentram, tahu?” si pria jangkung yang bernama Park Chanyeol tersebut mengangkat tangan pasrah. Park Chanyeol adalah sahabat Kyungsoo. Mereka bersahabat sejak tahun pertama penerimaan siswa di Mohautakuza, kala itu Kyungsoo membantu Chanyeol yang kewalahan atas aksinya yang salah merapalkan mantra sehingga ia dikejar-kejar oleh bola api yang dihasilkan dari mantra gagalnya tersebut. Sejak saat itu chanyeol selalu mengikuti Kyungsoo kemanapun pria pendek itu pergi. Awalnya ia merasa jengah, namun seiring berjalannya waktu persahabatan mereka terjalin dan semakin erat, walaupun dengan sifat berbanding terbalik yang mereka miliki.

“Omong-omong, ku dengar kemarin kau pulang larut lagi dari sekolah…” Kyungsoo tengah bersiap menyantap gelas jusnya yang lain, terdiam sejenak mendengar ucapan chanyeol.

Yeah.” Ia pun menyambar dan mulai meneguk jus berwarna kuning tersebut sampai habis,

“Kau sudah mulai berlatih? Bahkan disaat sebaran pertandingan belum dikeluarkan?”  Kyungsoo enggan bergeming dan hanya menenggak gelas jus terakhirnya –jus melon dicampur bayam, dalam diam.

“Kurasa jika bibi Won tidak mengancam untuk menjemputmu pulang, kau akan berada disekolah selama seminggu penuh, bukan begitu?” bibi won adalah kerabat satu-satunya yang dimiliki Kyungsoo saat ini, ibu Kyungsoo meninggal saat melahirkannya, dan ayah Kyungsoo meninggal saat ditugaskan pihak World Ministry ke daerah perairan utara saat umurnya menginjak lima tahun,

“Kau harus memperhatikannya juga. Beliau sudah tua, akhir pekan adalah waktu yang sempurna untuk berkumpul bersama keluargamu. Lain cerita jika kau berasal dari luar Saishin. Jangan menjadi egois hanya karena sebuah pertandingan yang sudah lewat.” manik kelamnya menatap tajam Chanyeol.

“Kau… kalau kau tahu bagaimana bila ada di posisiku, kau pasti akan melakukan hal yang sama Chanyeol.” Panggilan ‘chanyeol’ mengisyaratkan suasana hati Kyungsoo yang mulai memburuk, bahkan ia mendesis perlahan sambil mengucapkan pernyataannya tersebut.

“Dengan segala sesuatu yang kau miliki sekarang?” remah-remah roti yang dikunyah chanyeol jatuh mengotori celana seragam yang ia kenakan, “Fujitsu hanya pertandingan, sudah kukatakan berkali-kali bukan? kalah itu sesuatu yang wajar. Lagipula jaman sekarang siapa orang yang bisa mempertahankan gelar juaranya secara berturut-turut? Itu mustahil Kyungsoo.” Perkataan yang dikemukakan Chanyeol memang ada benarnya. Tapi Kyungsoo enggan mengakui itu.

Dan Chanyeol menyadari betul perubahan perangai sahabatnya itu sejak ia dikalahkan seorang Khun dari gajog Ganesharu pada pertandingan Fujitsu semester lalu, dan lebih parahnya lagi Khun itu adalah seorang wanita.

Kyungsoo adalah siswa tahun keenam bersama Chanyeol, ia merupakan siswa kebanggaan gajog Surudoi. Sedangkan Chanyeol terpilih sebagai gajog Hikaru.

Sejak saat itu Kyungsoo kerap kali pulang terlambat demi berlatih disalah satu kamar rahasia yang terdapat di dalam bangunan Mohautakuza. Kekalahan itu bahkan rasanya belum cukup, dengan datangnya gunjingan yang diberikan beberapa teman sekolahnya mengingat reputasi ‘istimewa’ nya selama ini. Ia adalah keturunan seorang Do Shi Jin –panglima perang kerajaan dinasti Mu, tidak ada satupun orang di Saishin yang tidak mengenalnya. Banyak orang di Saishin yang menghormati Kyungsoo –karena asal-usulnya, namun ada juga yang malah menjadikan Kyungsoo sebagai orang nomor satu yang dibenci dan harus dihancurkan. Kyungsoo merupakan ancaman bagi orang-orang ambisius semacam Kim Jongin.

“Lebih baik kau habiskan rotimu dengan cepat Yeolli. Aku tidak mau berurusan dengan Prof.Horvejkul.” chanyeol melirik jam dinding kayu yang terdapat dalam rumah Kyungsoo. Ia pun membelalakan matanya menyadari bahwa kelas Prof. Horvejkul akan dimulai kurang dari 20 menit lagi.

“Kita berangkat sekarang!” tukasnya cepat, seraya berdiri dan mengibas-ibaskan celananya dari remahan roti. Kyungsoo hanya melirik sebal melihat kelakuan sahabatnya tersebut. Ia mengambil buku tebal usang yang ada diatas meja makan.

Clinardium ivosesa

Kedua bangku yang baru saja digunakan merapat kedalam kolong meja dan piring serta gelas yang ada melayang dengan rapih menuju tempat cuci piring, disaat yang bersamaan taplak meja melayang mengibaskan sisa-sisa remah roti yang disambut oleh sapu yang bergoyang membersihkan area sekitar meja makan tersebut. Semua selesai dengan rapi tepat saat Chanyeol berhasil mengikatkan tali sepatu boot cokelat miliknya serta jubah hitam berlambangkan burung merak, identitas mereka sebagai murid Mohautakuza.

.

.

.

Persaingan di Mohautakuza begitu ketat, meski begitu tidak lantas para siswa mengeksklusifkan diri dengan gajog masing-masing. Salah satu hal berbeda yang terdapat disini, mereka –para murid, cukup berbaur dengan gajog manapun. Prof. Go –sang kepala sekolah, memiliki peran besar untuk menciptakan lingkungan untuk berkompetisi secara fair namun tidak melupakan esensi dari sebuah jalinan pertemanan. Selain Kyungsoo gajog Surudoi juga dihuni oleh siswa-siswi lainnya seperti Nakamoto Yuta, Kang Seulgi, Park Jimin, Lee Minhyuk, Kim Yerim, Kim Sejeong, Ayunda, Chittapon dan banyak murid dari tingkatan kelas yang berbeda dengan mereka.

Selain itu, ada pula gajog Cheogoshi, tempat rival terberat Kyungsoo berada –Kim Jongin, sebenarnya Kyungsoo tidak terlalu memperdulikan gangguan yang ditimbulkan pria berkulit cokelat tersebut, namun jika hal itu menyangkut harkat dan martabat keluarganya, ia tidak bisa tinggal diam. Kim Jongin memang pria yang ambisius namun cendrung licik, ia sangat suka mengkonfrontasi Kyungsoo bersama dua antek-anteknya –Lee Taeyong dan Huang Zi Tao. Selain mereka bertiga, siswa lain yang tergabung dalam gajog ini adalah Im Nayeon, Mark Lee, Jeon Jungkook, dan Park Siyeon, Nam, Abimanyu, dan yang lainnya.

Gajog Ganesharu dikenal karena murid-muridnya yang pandai, terutama dalam hal teori-teori ilmu sihir. Selain itu gajog ini memiliki seorang khun jenius yang mendadak terkenal setelah mengalahkan Do Kyungsoo di pertandingan Fujitsu, adalah Son Wendy ia memang dikenal sebagai gadis jenius namun keras kepala ia sukar bergaul dengan para darah murni kecuali Yixing,Seulgi, dan Mina –adik kembar seulgi. Selain itu siswa lain yang juga cukup cerdas adalah Kim Dahyun, Jung Jaehyun, Mingmei,Dimas, Kajol dan Ling Ling.

Ada pula gajog Jianheeng, namun beberapa siswa di gajog ini memiliki perilaku dan kebiasaan yang ‘aneh’. Penghuni gajog ini antara lain Xiumin, Kang Mina, Minatozaki Sana, Changsub, Suga, Jeon Somi, Laksmi, Yuwen, Gayatri dan Ten.

Gajog terakhir adalah Hikaru –gajog yang dihuni Chanyeol, kebanyakan siswa di gajog ini memiliki kemampuan seni yang begitu menakjubkan, sebut saja Jung Soojung, Anjali dan Hirai Momo yang begitu menakjubkan saat menari, Kwon Eunbin seorang khun yang dijuluki ‘tangan dewa’ karena kemampuan melukisnya yang diatas rata-rata, Kim Taeyeon, Raniah dan Sakura dengan suara indah mereka dan jangan lupa, Chanyeol dan Wakabayashi yang diam-diam memiliki bakat bermusik yang sangat mumpuni.

.

“Jadi bisakah kau bersikap lebih santai setelah ini? Ayolah, kau harus menemaniku berburu Xiaouyu –hewan kecil seperti marmut namun memiliki bulu yang berkilau seperti emas, akhir pekan ini, Kyungsoo.” Kyungsoo mendelik, dan Chanyeol pun menciut melihat hal tersebut,

“Percepat langkahmu bodoh. Kupatahkan telinga bangirmu, jika permulaan pekan ini hancur karena ulahmu.” Chanyeol sedikit mendengus,

“Kau tidak buta. Kita sudah sampai disekolah, lihat?”

“Tapi belum sampai dikelas.” Balas kyungsoo cepat.

Chanyeol memang benar. Mereka berdua sudah sampai di area Mohautakuza yang berdiri kokoh dengan dinding nephrite –sejenis batu giok berwarna putih, dengan ukiran zamrud menggambarkan kelima mutan –elang,macan, gajah,panda,dan burung merak- yang berjasa dalam perang dahsyat beratus-ratus tahun lalu. Suasana yang terlihat saat sudah melalui gerbang megah -setinggi kurang lebih tujuh meter, Mohautakuza begitu ramai. Beberapa siswa-siswi bersesaran dengan  buku-buku dan tongkat sihir. Beberapa diantara mereka saking menjahili teman yang sedang serius membaca perkamen besar, ada yang tengah menguji-coba mantra namun dari wajah gosong yang tercipta beberapa saat setelahnya menunjukkan bahwa percobaan gadis itu gagal.

Kyungsoo dan Chanyeol bersusah payah menerobos dan berlari setibanya dilorong panjang dengan dinding berwarna hijau pekat, menuju kelas Prof. Horvejkul. Mereka boleh bernafas lega karena saat muncul diambang pintu, suasana kelas tidak kalah riuh dengan area taman sekolah –yang mereka lewati tadi, Kyungsoo mendaratkan bokongnya dibangku kayu Ek panjang yang terletak di garis ketiga sebelum barisan paling belakang, Chanyeol mengambil tempat di sisi kirinya. Belum sampai 10 sekon dari itu, asap hijau memenuhi podium kecil yang ada didepan kelas, sekon selanjutnya muncul Prov.Horvejkul dibalik asap tersebut, melihat hal itu suasana kelas hening dalam sekejap.

“Selamat pagi, kuharap kalian tidak melupakan tugas yang kuberikan akhir minggu lalu.”

Spidol hitam bergerak tanpa komando dilangit-langit, menunjukkan beberapa kata yang membentuk kalimat dalam ukuran yang cukup besar, sedangkan sang professor hanya memandangi batu amorf sebesar kepalan tangan yang ia letakkan diatas papan podium tempatnya berdiri saat ini, sebagian besar siswa menunjukkan kuriositas yang tinggi, yang lainnya hanya menatap batu tersebut dengan guratan wajah bingung. Wendy hanya tersenyum sekilas memandang ekspresi teman-teman sekelasnya. Hanya ada satu orang yang terlihat gusar.

Do Kyungsoo,

Yang ternyata tidak membuat perkamen sihir –tugas yang diberikan Prof.Horvejkul, itu.

“Sepertinya kau melupakan tugasmu, Tuan Do yang terhormat.” Prof.Horvejkul membuka suara secara tiba-tiba, dengan datar namun sarat dengan maksud melecehkan. Matanya terpejam dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada. Kalimat yang meluncur darinya sukses membuat semua mata memandang ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo membeku ditempat seperti maling yang tertangkap tangan, diantara pandangan teman-teman sekelasnya. Jongin hanya memandangnya singkat lalu kembali menatap ke depan sambil tersenyum sinis.

Yak. Bagaimana kau bisa melupakan tugasmu?” bisik Chanyeol yang telah menggeser tubuhnya mendekat kearah kyungsoo.

“Jika menurutmu persiapan menghadapi salah satu turnamen sekolah lebih penting dibandingkan mengerjakan tugasku. Tanpa mengurangi rasa hormat kau bisa meninggalkan kelas ini, Tuan Do Kyungsoo.” Kyungsoo perlahan berdiri dan melangkah meninggalkan kelas –sesuai perintah, setelah sebelumnya menunduk hormat kearah Prof.Horvejkul.

“Baiklah, kita benar-benar mulai kelas ini. Tinggalkan perkamen kalian diatas meja masing-masing.” Ucapan sang pengajar tersebut sontak mengalihkan pandangan Wendy yang sedari tadi memandang setiap pergerakan Kyungsoo –dengan wajah tanpa ekspresinya, bahkan sampai potongan visual tubuh bagian belakang pria pendek tersebut makin mengecil dimakan jarak lorong panjang dihadapan pintu kelas mereka.

.

.

.

.

“Kau benar-benar mencari masalah ,huh?” cecar Chanyeol setelah jam istirahat siang usai, Kyungsoo masih menggerak-gerakkan tubuhnya seraya mengacung-acungkan tongkat sihir yang ada digenggamannya tanpa memperhatikan ucapan Chanyeol,

YAK! Do Kyungsoo! Kau bermasalah dengan Prof.Horvejkul karena ini, dan kau masih berkeras melakukan latihan diwaktu sekolah? Kau gila!” Chanyeol menarik paksa bahu sahabatnya tersebut, Kyungsoo masih terengah dan membalas tatapan Chanyeol tanpa ekspresi,

 

Well, tidak heran. Tuan Do ‘yang terhormat’? Cih, kau bahkan tidak pantas mendapat sebutan seperti itu meskipun hanya sebuah kalimat sindiran.” Baritone suara lain muncul diantara mereka berdua. Kyungsoo tahu betul siapa pemilik suara itu,

Kim Jongin.

Pria dari gajog Cheogoshi yang selalu memancing konfrontasi setiap bertemu dengannya. Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintahan kota Saishin. Di mata Kyungsoo, Jongin dan ayahnya begitu berbeda, Jongin dengan sifat pemarah dan pembenci sedangkan Kim Junsu –ayah jongin, merupakan pribadi yang hangat –setidaknya saat didepan Kyungsoo. Dan pernah satu kali Kyungsoo menangkap sorot mata kebencian Jongin saat melihat ayahnya.

“Seorang keturunan pahlawan yang digadang-gadang sebagai penyelamat Saishin, dikeluarkan dari kelas hanya karena tidak membuat perkamen? Heh” Jongin menyeringai di hadapan Kyungsoo, “Sikapmu bahkan lebih hina daripada seorang Khun. Ahhhh, aku lupa. Bahkan kau tidak mampu mengalahkan seorang Khun bukan? Hmmm, pemikiranku memang selalu benar.”

“Hentikan Kim Jongin. Aku tidak ma-“

“Kau mau apa?” tantang Jongin mendekat ke hadapan Kyungsoo, “Membunuhku? Lakukanlah. Lalu kau benar-benar akan menjadi Manyeo paling menjijikan yang ada di Saishin. Dan keluarga Do mu itu akan menanggung malu seumur hidup mereka.” Rahang Kyungsoo mengeras mendengar kata demi kata yang dilontarkan Jongin,

“Aku penasaran, bagaimana jika keluarga seorang pahlawan tiba-tiba berubah menjadi keluarga yang tidak lebih berharga dari seonggok sampah.” Kyungsoo benar-benar mencengkram kerah jubah hitam berlambangkan macan yang Jongin kenakan. Chanyeol sontak menahan Kyungsoo dengan susah payah, air muka Kyungsoo benar-benar mengeras dan memerah. Melihat Chanyeol yang menahan pergerakan Kyungsoo, Jongin dengan santai melenggang pergi setelah melemparkan smirk meremehkan andalannya.

“Kubilang lepas!” Kyungsoo meronta keras, dan Chanyeol pun menyerah setelah melihat Jongin yang sudah menghilang dibalik lorong panjang nan gelap diarah barat ruang latihan Kyungsoo saat ini,

“Kau harusnya tidak menahanku.”

“Aku melakukannya demi kebaikanmu!”

Nonsense!” Kyungsoo pergi meninggalkan Chanyeol, namun pria jangkung bertelinga besar itu mengikutinya.

Kyungsoo baru saja akan memotong jalan dengan memutar arah langkah melewati gedung perpustakaan tua. Tujuannya saat ini adalah pohon Ek Tua yang terletak disebelah utara taman belakang Mohautakuza. Namun langkahnya terhenti karena menabrak seseorang, yang mengakibatkan beberapa buku pertahanan ilmu sihir dan tentang tumbuhan-tumbuhan langka Saishin jatuh berserakan. Kyungsoo sontak menjongkok dan membantu membereskan buku tersebut, Chanyeol hanya memandang penuh arti seraya menggaruk tengkuknya,

“Aku minta ma-” Kyungsoo termangu sejenak melihat sosok orang yang bersamanya memungut buku-buku yang berserakan. Son Wendy masih menunduk dan sibuk membereskan buku-buku tersebut. Kyungsoo memicingkan matanya dan melemparkan kembali buku-buku yang sudah dikumpulkannya ia beranjak bangun, Wendy mendelik melihat apa yang dilakukan Kyungsoo padanya, Kyungsoo memberi kode pada Chanyeol untuk meninggalkan tempat tersebut.

Veyrizicizem…” Kyungsoo membeku ditempatnya, Chanyeol melongo dan memandang Kyungsoo dan Wendy bergantian.

“Setidaknya kau harus melanjutkan permintaan maafmu. Toh, aku tidak memintamu untuk membantuku memunguti buku-buku itu. Dasar pria angkuh.” Wendy menghampiri Kyungsoo dan mengitari tubuhnya yang tidak begitu tinggi itu, Chanyeol baru akan membuka suara,

“Kau! Tidak usah banyak bicara. Aku tidak akan mengotori kedua tanganku dengan membunuh sahabat pendekmu ini. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran, yang mungkin akan sering ia lewatkan karena hanya memikirkan fujitsu.” Chanyeol meringis, “Kau tidak mau kuperlakukan juga seperti ini kan?”

Chanyeol menggeleng keras, dan mengangguk, lalu menggeleng kembali. Wendy hanya tersenyum sekilas, melanjutkan aksi memungut buku-buku -yang diserakkan kembali oleh Kyungsoo beberapa saat lalu, tersebut dan melenggang pergi meninggalkan mereka berdua. Tepat saat wendy menghilang di ujung koridor, ia melirik kebelakang dan merapalkan mantra sehingga Kyungsoo terbebas dari kebekuannya.

Chanyeol menutupi kekehan kecilnya. Kyungsoo terlihat memutar badannya dan melihat sekelilingnya, mencari seseorang.

“Ia sudah pergi.” Ucap Chanyeol singkat,

“Dan kau membiarkannya?” ujar Kyungsoo memperbesar bola matanya menatap Chanyeol. Yang ditatap hanya mengedikkan bahu,

“Mau bagaimana lagi? Dia sangat kuat sih, kau saja dibekukan. Bagaimana denganku…”

Kyungsoo mendesis, dan memandang lorong panjang tempat Wendy menghilang,

“Son Wendy, kau benar-benar Khun yang tidak tahu diri.”

.

.

.

Kyungsoo baru saja membereskan perkamen sihir miliknya setelah Prof. Kara menutup kelas dan menghilang dibalik aliran air yang melayang diudara. Chanyeol masih bersenda-gurau dengan Xiumin, mereka saling memamerkan koleksi Xiaouyu masing-masing. Chanyeol berceloteh antusias karena kepunyaannya memiliki mata kecil yang berwarna indah, mata hewan kecil peliharaannya itu bisa berubah dari warna violet menjadi merah menyala, dan Xiumin benar-benar berhasil dibuat kagum olehnya.

Jaehyun muncul diambang pintu, sorot matanya bergerak-gerak mencari seseorang. Dan saat maniknya menemukan sosok Kyungsoo yang sedang membereskan perkamen, ia pun menghampirinya,

“Kyungsoo, kau dipanggil keruangan Prof. Go, sekarang.” Kyungsoo mengernyit, seingatnya hari ini ia tidak melakukan pelanggaran –kecuali insiden Prof. Horvejkul, lagipula sepernglihatannya Prof. Horvejkul sudah menyelesaikan permasalahan tadi pagi dengan mengusir keluar Kyungsoo dari kelasnya. Kalau saat ini ia dipanggil oleh sang kepala sekolah, kira-kira apa kesalahan yang sudah Kyungsoo lakukan ia pun tidak tahu.

Kyungsoo mengangguk dan melemparkan senyum singkat pada Jaehyun, saat akan keluar kelas ia melewati meja tempat wendy masih duduk diam membaca sebuah buku tebal dihadapannya, Kyungsoo mengeluarkan smirk miring menatap gadis tersebut. Setelah sampai ambang pintu dikeluarkan tongkat sihir dari saku jubah hitamnya, ia merapalkan mantra sehingga buku yang sedang dibaca wendy tiba-tiba mengeluarkan bubuk-bubuk halus beraroma lada. Hal itu sukses membuat Wendy bersin-bersin, kejadian belum berhenti sampai disitu ketika ia berdiri menggebrak meja dan mendapati tatapan Kyungsoo yang mengejek, rambut-rambut wendy berdiri tegak seperti tersengat listrik, Kyungsoo terkekeh dan meninggalkan kelas mengabaikan tatapan marah yang berkilat-kilat dari Wendy. Wajah gadis itu memerah karena kesal,

“DASAR PRIA PENDEK, BRENGSEKK!! Hatchii….” ia memaki Kyungsoo yang sudah pergi menjauh, tanpa bergerak dari meja tempatnya berdiri. Seluruh murid tahun keenam –teman sekelasnya, yang masih tersisa dikelas memandang Wendy bersamaan. Ada yang terkekeh geli dengan kenampakan Wendy saat ini, ditambah lagi dengan bersin-bersin yang melanda Wendy. Ada pula yang hanya melongo, dan melihat sekilas lalu melanjutkan kegiatan yang dilakukan mereka masing-masing. Wendy mendengus kesal, menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan kelas.

Ada sepasang mata yang melihat seluruh kejadian tersebut bahkan sejak Kyungsoo menatap Wendy dengan smirk-nya. Tidak ada satupun adegan yang luput dari sepasang mata itu. Nakamoto Yuta, ia melihat aksi kedua teman sekelasnya tersebut. Yuta melihat, namun ia melihat dalam diam.

.

.

.

.

Kyungsoo mengetuk pintu kayu besar berukuran lebih dari tiga meter, berukiran khas Mohautakuza dengan taburan giok hijau yang tersebar dipuncak pintu tersebut. Sedetik kemudian pintu itu terbuka, dan Kyungsoo masuk kedalam ruangan megah bernuansa merah-hitam, pigura-pigura para petinggi Mohautakuza terpasang didinding sebelah kiri pintu. Kyungsoo masuk dengan langkah perlahan, ini bukan pertama kalinya ia memasuki ruangan ini, bahkan ditahun pertama penerimaannya di Mohautakuza ia sudah tiga kali masuk kedalam ruangan Prof. Go sang kepala sekolah tempatnya menuntut ilmu.

“Tuan Do. Kupikir kau telat dua menit dari waktu yang seharusnya kau perlukan ketempat ini setelah Tuan Jung memberitahumu bahwa aku tengah memanggilmu.” Kyungsoo membalikkan badannya menatap sosok yang paling dihormati di Mohautakuza tersebut, ia membungkuk singkat sebelum akhirnya dipersilahkan duduk oleh si empunya ruangan. Kyungsoo melihat kedua tangannya yang ditumpu pada kedua tungkai atas miliknya,

Ummm, aku memiliki sedikit pekerjaan kecil dikelas.” Pria tua berkepala plontos dengan janggut abu itu menatapnya intens, Kyungsoo berdeham mendapati tatapan ‘menusuk’ seperti itu. Prof. Go pun menyandarkan  ke dinding sofa dengan lebih santai,

“Apa kau tahu, kenapa aku memanggilmu kesini?” Kyungsoo menatapnya dan menggeleng singkat,

“Aku tidak tahu Saem, maaf.” Mendengar jawaban Kyungsoo ia tersenyum singkat,

“Ini tahun keenam-mu belajar disini bukan?” Kyungsoo mengangguk dan menunjukkan kuriositas tinggi menanggapi pernyataan Prof.Go, “Apa yang kau rasakan?”

Kyungsoo menggerakkan bola matanya menatap langit-langit seperti merangkai ingatan dan kesan pribadinya untuk menjawab pertanyaan sang kepala sekolah,

“Aku tidak dapat menguraikannya satu persatu ssaem. Aku banyak belajar disini. Ini tempat yang tepat untuk terus menambah kapabilitasku, seperti yang anda tahu Prof, kehidupan manyeo sesungguhnya tidak semenyenangkan saat berada dibangku pendidikan, bukan?” Prof. Go menaikkan salah satu alisnya mendengar jawaban Kyungsoo, “Karena itulah aku tidak mau membuang waktuku disini dengan sia-sia.” Prof. Go mengangguk-angguk singkat,

“Jadi menurutmu, hal apa saja yang bisa membuatmu membuang waktu secara sia-sia?” Kyungsoo menatap Prof. Go dalam diam, bukan karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Lebih kepada mencari maksud dari arah pembicaraan yang dibuat Prof. Go saat ini. Inilah salah satu perbedaan antara Prof. Horvejkul dan Prof. Go –disamping penampakan fisik antara keduanya dengan perbedaan rentang umur yang sangat jauh, Prof. Horvejkul terkenal dengan sifatnya yang to the point, mengatakan secara blak-blakan segala sesuatu yang ada dikepalanya. Sedangkan Prof. Go orang yang memiliki filosopi tinggi dan cendrung membawa seseorang dalam alur percakapan panjang  untuk mengerti maksud dan tujuan yang ingin ia sampaikan. Dan jujur saja Kyungsoo lebih menyukai cara Prof. Horvejkul dalam hal ini,

Prof. mohon jangan tersinggung dengan ucapanku. Bisakah anda menyampaikan apa yang ingin anda katakan padaku secara langsung? Hari ini aku sudah cukup mengatur emosiku untuk hal-hal yang tidak penting. Jika aku harus berusaha mencerna setiap maksud dibalik setiap pertanyaan yang anda ajukan, kurasa malam ini aku akan kehilangan selera makanku.”

Prof. Go terkekeh mendengar perkataan panjang lebar kyungsoo. Ia menghela nafas singkat, dan masih tersenyum menatap pria pendek bermata besar dihadapannya,

“Baiklah, jika itu yang kau mau.” Manik mereka saling beradu, tepat saat sang pria tua menyetujui permintaan Kyungsoo, senyum diwajahnya seketika menghilang. Berganti dengan sorot mata gelap nan kelam. Kyungsoo menambah atensi dan fokusnya dua kali lipat untuk mendengar tiap kata yang keluar dari salah satu sosok yang dihormatinya tersebut.

 

 

-o0o-

 

 

Sudah tiga hari sejak pertemuannya dengan Prof. Go, tapi semua kata-kata sang profesor masih terngiang-ngiang sampai saat ini. Kyungsoo mengaduk-aduk soup di hadapannya dengan malas, Chanyeol yang berada berhadapan dengannya di meja makan masih terus berceloteh, sampai ia sadar bahwa sedari tadi Kyungsoo tidak mendengarkannya,

“Soo… HEY, kyungsoo.” Kyungsoo terlonjak kaget mendengar Kyungsoo,

Eoh… Umm, yeah, apa tadi yang kau katakan? Maaf, aku sedikit melamun.” Chanyeol mendengus dan menggeleng pelan.

“Apasih yang sedang kau pikirkan?”

“Ahhh, tidak penting. Ayo lanjutkan ceritamu, aku ingin mendengarnya.” Kyungsoo memicingkan matanya curiga, Kyungsoo menyendokkan sisa soupnya seraya melebarkan kedua bola matanya berusaha meyakinkan Chanyeol,

Prof. Kara sedang melanjutkan penelitiannya tentang tumbuhan herbivarium , kalau kau tahu katanya tumbuhan itu sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka bahkan yang mematikan sekalipun. Dan saat hampir sampai diperbatasan hutang terlarang, ia menemukan seorang gadis yang tidak sadarkan diri.” Kyungsoo makin tertarik dengan cerita chanyeol ia menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya yang ditumpukannya pada meja tempat mereka makan tersebut, “Katanya sih gadis itu cukup cantik. Tapi dia… Ummm, hilang ingatan.” Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya dan membuang pandangannya kesembarang arah,

“Lalu bagaimana nasib gadis itu selanjutnya?” tiba-tiba Kyungsoo berkomentar,

“Nah, itulah! Dari berita yang juga kudapat, gadis itu akan masuk ke Mohautakuza. Dia akan bersekolah disini, karena teridentifikasi sebagai seorang penyihir.” Kyungsoo memiringkan kepalanya seraya mengernyitkan dahi terlihat berpikir,

“Disini?” Chanyeol mengangguk sambil menyeruput jus mangga pesanannya, “Memang ia masuk sebagai siswa tahun berapa disini?”

“Dia seumur dengan kita Soo, sepertinya ia akan sekelas dengan kita.” Kyungsoo terlihat melongo,

“Ia masuk di Mohautakuza pada tahun keenam? Mau jadi apa dia? Tidak ada gunanya dia bersekolah ditahun seperti itu. Semester depan bahkan tahun terakhir kita disekolah ini.”

“Entahlah…” Chanyeol mengedikkan bahu,

Atensi Kyungsoo teralihkan saat kemunculan Jongin bersama dua antek-anteknya yang menatap benci pada Kyungsoo, itu hal biasa bagi kyungsoo, dan ia hanya menimpalinya dengan tatapan tanpa ekspresi, seperti biasa. Ia menuju meja paling ujung kanan yang berada di aula makan tersebut, yang sebagian besar ditempati oleh kumpulan murid gajog Cheogoshi. Emosi Kyungsoo mulai berubah setelah melihat sosok gadis yang berikutnya muncul diambang pintu, Son Wendy. Manik mereka bertemu dan mereka berdua saling menatap dengan kilatan amarah serta rasa tidak suka akan satu sama lain, Wendy mendengus sebelum akhirnya berjalan menuju meja makan dimana Kang Seulgi, Kang Mina dan Kwon Eunbin sudah menunggunya.

.

.

.

Kyungsoo baru akan menuju kelas Prof. Lau setelah menyelesaikan kegiatan ‘alamiahnya’ di toilet, Chanyeol sudah terlebih dahulu berada dikelas arena belum selesai mengerjakan perkamen sihir miliknya. Saat kyungsoo baru saja berbelok kearah kanan ia bertemu dengan Prof. Kara yang terlihat kaget sekaligus lega melihatnya, Kyungsoo menunduk sopan,

“Selamat siang Prof.” sapanya sebelum siap-siap beranjak pergi.

“Kyungsoo.” Panggilan sang pengajar cantik berkulit sawo matang tersebut menghentikan langkah Kyungsoo, “Apa kau punya waktu? Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu diruanganku.” Kyungsoo membalikkan badannya menatap sang professor dan berpikir sejenak,

“Kupikir jika tidak lebih dari lima menit, aku bisa prof. Kelas Prof. Lau akan dimulai delapan menit lagi.” Prof. Kara tersenyum manis, yeah… Prof. Kara adalah salah satu wanita yang berasal dari Asia tenggara dengan bakat sihir yang sangat mumpuni dan kemampuan analisanya yang luar biasa. Selain itu ia memiliki tubuh dan wajah yang ‘menarik’ juga terkesan eksotis. Karena itulah ia salah satu pengajar di Mohautakuza yang banyak diidolakan oleh para muridnya, walaupun Kyungsoo bukan seorang penggemar, nyatanya Kyungsoo cukup menghormati sang guru tersebut.

“Baiklah, kalau gitu ikuti aku, Kyungsoo. Aku memiliki tugas penting untukmu.”

Kyungsoo menjejakkan kakinya sebelum menghilang bersama sang Profesor dibalik genangan air yang melayang membentuk lapisan tipis seperti kaca.

 

TBC

 

 

 

 

Hai,hai…

Baik kan aku, teaser dan chap.1 ku post bersamaan?! 😀 … Kerjaanku di kantor banyak syekali sodara2… Jadi tolong harap maklum kalau aku gak selalu intens update^^

Otte ? Jelekkah? Klise??

Yaps begitulah akhir dari Chapter.1 ini… ini bahkan baru permulaan gaes. Jadi semoga kalian sabarr menanti chapter2 selanjutnya. Anggap saja seperti kita sedang mengupas kulit jagung sebelum menemukan bulir-bulir jagung yang enakk banget dan bagus buat diet #loh? #ngacodehtha

Yaudahlah yaa lupakan, intinya aku mau respon dari kalian yang udah baca mengenai FF baruku ini. entah kalian mau koment, kritik, like or review. T.E.R.S.E.R.A.H , asalkan jangan jadi silent readers or tukang bashing semua dihalalkan hahahahahhaa… thanks before all :*

Semoga kalian yang suka dengan cerita ini akan selalu sabar menanti… fufufuffuu

withlove,

thanasa

Advertisements

Author:

I am a ordinary girl, who love Do Kyungsoo damn much... -You may know My Name, But You don't really know Who I am- (:

11 thoughts on “APOKALYPSE #1

  1. Akhirnya ada yg buat ff dgn genre fantasy, saya suka apalagi ada bebeb Kyungsoo
    Cerita nya sangat menarik walaupun baru chap 1, di tunggu next chapter nya 🙂

    1. Hai melli 🙂
      hahahahaa mksihh yahh… okeoke…

      sabar menantii yah,, jujur aku gak bisa ngepost dalam jangkaa wktu yg dket2. tapi kuusahaan dalam 1 bulan dua chapter ku-post ^^

  2. Ini BAGUS..
    Beneran..
    Sebagai orang yang suka fic genre fantasy dan juga suka Kyungsoo, fic ini kusuka sekali..:’)

    Suka iri da kalo liat orang yang bisa bikin fic genre beginian.. imajinasinya pasti bertebaran kemana2..

    Trus ada WendyKyungsoo itu kusukak juga.. ehehehe..

    Dan ide kamu yang masukin nama2 artis indo india itu addfghjkl(?) Sekali..

    udahlah yah..
    Kusukak nih..
    Ditunggu lanjutannya..

    1. hai…hai…
      huwaa mksh buat komen dan dkungannya.

      iya aku tuh dri dlu udh ngebygin uri kyungsoo jdi main cast FF genre fantasy. mumpung ada sdkit ide jdi buat ajadeh… hahaha

      tpi buat genre ini sdkit lebih susah gak bsa diselesain dlam satu hari huhuhu..

      kamu suka wensoo jga? tos dlulah brti kita wkwkwk

  3. Halo selamat malam…, ini FF ceritanya bagus. Aku kudu banyak belajar dari FF ini, bahasanya dan cara penyampaiannya. Juga aku suka ide cerita yang ngambil tema yang beda. Jujur aku juga suka nulis dengan tema beda…. Semangat kakak thanasa!

    Regard with chu,

    Shuu

    1. hai shuu…

      mksih buat responmu^^… wah mksih kalau kmu brpndapat sprti itu, sbnrnya aku jga msh bljr cra menulis yg baik tpi simpel dan mudah dimengerti.
      iyah abis aku jrang sih nemuin ff genre fantasy dgn main cast uri dyo… jdi aku coba bkin ajah hehehe.
      kita sama2 smgat bljar yah? 😉
      hehehe…

Your Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s